Cakrawala

Cakrawala
Episode 103


__ADS_3


Sekali lagi gue menatap pantulan diri di cermin. Bibir terpoles tipis warna peach nude, sedikit rona kemerahan di pipi, dan anting kecil menjuntai di atas bahu. Tampilan gue perfect, tapi tidak hati gue.


Ken, kamu jangan khawatir. Cuma kamu yang ada di hati aku. Seperti kata Papa, aku cuma mau nemuin dia kok. Papa juga udah janji nggak akan maksa-maksa aku lagi. Nggak akan ada yang bisa menggantikan posisi kamu di hati aku. Aku janji. 


"Non, tamunya udah dateng" suara Bibik dari balik pintu.


"Bik, tolong bantuin Khanza benerin ini" gue menunjuk ke kaitan di belakang leher gue yang terlepas.


"Sini..sini. Aduh, non Khanza cantiknya. Calonnya pasti terpana liat kecantikan non. Eh, tadi Bibik udah ngintip bentar loh non. Ualah, kasep pisan calonnya non. Tinggi tegap kokoh, kayaknya bakal perkasa deh non." Nggak ada yang lucu, tapi Bibik cekikak cekik sendiri. Ini ka yang mau dilamar gue, kenapa jadi Bibik yang senyam senyum.


"Rugi kalau non nggak mau. Keliatannya sopan juga. Pembawaannya berwibawa. Ganteng lagi" tambahnya. "Udah yuk non. Udah ditunggu di bawah"

__ADS_1


Gue mengela nafas. Ken, apapun yang terjadi nanti, kamu akan selalu punya tempat di hati aku.


Tangga ke lantai bawah terasa sangat panjang. Dengan jantung berdegub kencang gue menuruni satu persatu anak tangganya. Perlahan-lahan mulai terlihat perabot di ruang tengah. Ada sofa merah yang diletakkan berseberangan dengan kursi tamu di depannya. Papa duduk di sana, tampak sibuk bercengkerama bersama tamu-tamunya, seorang laki-laki yang usianya sedikit lebih tua dari Papa dan seorang wanita paruh baya dengan kerudung besar menutup dada. Wajahnya nampak tidak asing di mata. Apa pernah kita bertemu sebelumnya?


Dan di anak tangga terakhir gue melihatnya. Laki-laki yang datang untuk melamar. Memakai kopiah dan kemeja batik. Duduk membelakangi tempat gue berdiri.


"Khanza, salim dulu sini" Papa mengisyaratkan dengan tangannya agar gue berjalan mendekat.


Atensi pasangan suami istri yang duduk di depan Papa beralih ke gue. Sederhana. Itu ungkapan yang paling tepat untuk mendeskripsikan mereka. Tamu Papa biasanya pria-pria berkemeja Executive dengan sepatu kulit terbaru keluaran Zyats. Atau istri pejabat dengan satu lusin gelang emas di kedua tangannya. Tapi kali ini hanya sepasang suami istri sederhana, memakai baju batik bermotif kawung. Kopiah hitam di kepala lelaki, dan hijab lebar menutup sang wanita.


Dengan perasaan berkecamuk gue terus melangkah maju. Dan ketika kaki gue berada tepat di sebelah laki-laki yang duduk membelakangi gue beberapa saat yang lalu, langkah gue terhenti. Lelaki itu bangkit dari kursinya dan menghadap ke arah gue. Ekor mata gue menangkap sekejap bayang wajahnya. Gue membatu. Dengan jantung berdetak kencang, gue memberanikan diri memutar tubuh dan mendongakkan kepala. Tidak.. Ini tidak mungkin. Mata gue tidak salah lihat kan? Ini bukan mimpi kan?


Gue berbalik mencari kepastian dari Papa. Lelaki yang menghabiskan separuh umurnya untuk membesarkan gue itu hanya tersenyum dan mengangguk lembut. Berarti benar. Apa yang gue lihat memang benar. Ini bukan hanya ilusi. Ini bukan hanya mimpi.

__ADS_1


"Sa, aku pulang." Suara yang sudah lama dinantikan. Sosok yang sudah lama dirindukan. Kini berdiri dengan senyum yang terlalu lama hilang.


"Ken..dra" bibir gue bergetar memanggil namanya. Air mata jatuh begitu saja. Tubuh gue rasanya lemas tak ada tenaga. Hingga entah bagaimana, rengkuhan lelaki itu membawa gue menangis di pelukannya.


"I miss you sweatheart, miss you so much." lirihnya di dekat telinga.


Tidak ada lagi kata terucap. Namun suara debaran jantung yang berdetak seirama sudah cukup untuk mengatakan betapa kita saling mendamba.


*Kendra, separuh aku yang dulu hilang, kini sudah kembali pulang. *


Selamat datang sayang...


Hari-hari penuh penantian itu kini sudah menghilang.

__ADS_1



THE END


__ADS_2