
-Khanza-
"Enggak.. Mbak Egi lepasin Khanza" gue berontak mencoba menghalau tangan bodyguard yang terus memaksa gue agar segera masuk ke helikopter. Setelah terjadi beberapa kali gempa susulan, air laut surut, dan peringatan tsunami pun disuarakan. Penduduk segera diungsikan ke tempat yang lebih aman. Beberapa helikopter milik Angkatan Udara juga difungsikan untuk penyelamatan darurat petinggi-petinggi elite dan militer. Namun gue sama sekali tidak peduli, karena nafas gue masih tertinggal di tambang.
"Khanza mau ke tempat Kendra. Lepasin.. Mbak Egi lepasin Khanza"
"Enggak. Kendra udah naik helikopter."
Gue berhenti sesaat, membalikkan tubuh, menatap wanita yang memegang handy talkie di tangan kanannya. "Ini.." tanpa ragu Mbak Egi menyodorkan kotak hitam itu ke hadapan gue.
Langsung saja gue meraihnya, "Kendra.." panggil gue.
Suara gemerisik menyambut indera pendengaran gue, diikuti nada khas bicaranya, "Khanza.."
Gue bernafas lega, "Kamu nggak papa kan? Kamu baik-baik aja kan?"
"Kamu cepetan naik. Aku udah nunggu"
Tanpa membuang waktu, gue segera berlari ke arah mesin baling-baling raksasa itu. Mbak Egi membantu gue menaiki tangga demi tangga, hingga akhirnya pintu tertutup dengan gue berada di dalamnya.
__ADS_1
"Kendra, kamu dimana?" seperti orang kesetanan gue berlari ke setiap sudut tempat itu dengan benda kotak yang masih menempel di telinga gue. Tapi kosong, tidak ada wajah Kendra sama sekali diantara kerumunan orang-orang berseragam hijau.
"Kendra..!" gue berteriak mengharap jawaban dari ujung handy talkie.
"Sa, inget pesan aku. Jangan lupa makan. Istirahat yang cukup. Jangan bandel. Jangan bertengkar lagi sama Papa kamu. Kamu harus selalu bahagia"
"Jawab aku Kendra, kamu dimana!" gue makin panik.
"Aku kejebak, Sa. Masih ditambang"
Deg.
Waktu terasa berhenti, mengambil semua persediaan oksigen di dalam paru-paru. Hati gue hancur sehancur-hancurnya. Air mata turun bersama rasa perih yang tak dapat lagi gue bendung. "Kamu bohong. Kamu bilang kamu udah nungguin aku di sini."
"Aku nggak mungkin baik-baik aja tanpa kamu, Ken.." Gue nangis. Gue nangis sejadi-jadinya.
"Kamu harus bisa. Ada atau tidak ada aku, kamu harus bahagia"
"Kendra.." suara gue bener-bener sudah habis.
__ADS_1
"Aku cinta kamu"
Tidak ada lagi suara, hanya sinyal berisik terdengar dari ujung sana. Ditambah deru mesin helikopter yang memekakkan telinga.
"Kendra.. Jawab! Kendra!"
Tidak ada balasan.
Gue berlari ke arah pintu darurat namun tangan Mbak Egi menghalangi. Tak peduli seberapa kuat gue mencoba melepaskan diri, wanita itu ternyata jauh lebih mumpuni. Hingga akhirnya gue tertunduk pasrah di dekat jendela.
Mata gue melebar mendapati pemandangan di bawah sana. Cahaya mentari pagi mulai bependar di titik cakrawala. Sinarnya menyapa gulungan ombak yang melesat marah menyerbu daratan. Air yang begitu banyak jumlahnya itu menyapu rata seluruh tanah kecokelatan. Mengguyur pohon dan rumah-rumah, mengombang-ambingkan reruntuhan bangunan dan mayat-mayat manusia. Daratan hijau itu dalam sekejap menyatu bersama laut. Meluluh-lantakkan semua yang pernah berdiri di atasnya.
Tidak..
Kendra masih di sana...
Di satu titik yang terguyur rata air malapetaka...
Tolong, jangan... Jangan ambil Kendra...
__ADS_1
Jangan ambil Kendra gue... jangan.