
Ugh, kenapa Mamas jadi ganas gini. Bibir gue diserang balik. Lidah dia nerobos masuk nyariin lidah gue. Tubuh gue dipepet sampe bener-bener nempel ke dinding baja. Kepalanya bergerak ke kiri dan ke kanan, mencumbu setiap sudut bibir gue. Paru-paru gue sesak kehabisan nafas, namun dia tidak memberikan jeda sedikit pun.
Gue menepuk-nepuk bahunya memberi isyarat. Paham akan hal itu, Kendra menarik bibirnya dari bibir gue, menciptakan seutas benang saliva di antara mulut kita. Dia juga terengah-engah, sama kayak gue. Namun beberapa saat kemudian, wajah Kendra kembali mendekat, mencium kening gue, mata gue, hidung gue, kemudian bibir gue. Dahi kita saling menempel untuk beberapa detik, hingga akhirnya mata kita saling bertemu pandang. Laki-laki itu tersenyum. Senyum yang paling indah yang gue pernah lihat.
"Kamu seneng nggak aku ajak ke sini?" tanyanya pelan.
"Pake ditanya. Kapan lagi diajakin ngedate pake aset negara kayak gini"
Kendra terkekeh geli mendengar jawaban gue.
"Kamu kok romantis banget hari ini?" tanya gue tiba-tiba.
"Ya nggak pa pa dong. Sekali-kali bahagiain pacar"
"Aku kan selalu bahagia.. asal sama kamu"
"Coba liat senyum bahagianya."
Gue tarik kedua ujung bibir gue ke atas, memberikan Mas Pacar senyum terindah bak bidadari.
Kendra megangin jantungnya, "Aduh jantung aku. Rasanya mau copot" Bisa banget sih cowok satu ini bikin gue tersipu-sipu. "Coba pegang sini. Kerasa nggak dag dig dug nya?"
Tangan gue dituntun Kendra ke arah dadanya. Woah.. ada genderang perang di dalem sana.
__ADS_1
"Gara-gara senyum kamu ini."
"Iih ayang bisa aja deh" ucap gue malu-malu.
"Kamu cantik kalau senyum." Aduh, makin melting gue digombalin mulu. "Jadi jangan pernah lupa tersenyum ya. Ada maupun nggak ada aku"
Bibir gue otomatis turun, "Kok gitu?" Entah mengapa, tiba-tiba ada firasat aneh setelah mendengar kalimat terakhir Kendra.
"Ya pengandaian aja. Pokoknya calon istri aku harus selalu bahagia. Cuma senyum kamu tau nggak sih yang bikin jantungku tetep berdetak"
"Yang bikin jantung berdetak itu karena oksigen dan aliran darah. Bukan senyum. Pasti bolos dulu waktu pelajaran biologi"
Kendra terkekeh, "Punya pacar dokter emang susah ya digombalin"
"Iya dong" gue kibas rambut.
"Kamu kenapa?" tanya gue heran.
"Aku pengen cium kamu, boleh?"
Pake nanya lagi. Dijebol sekarang aja gue siap. Duh otak gue, jadi mikir yang iya-iya kan. Lepas segel di bawah laut boleh juga tuh. Diperawanin di hotel bintang lima udah mainstream. Jarang-jarang kan ada yang dicoblos di kedalaman berkilo-kilo meter di bawah laut.
Baru aja asyik-asyik menghayal, bibir Mamas udah asyik-asyikan ngemutin bibir gue. Tapi kali ini terasa tanpa ada nafsu berlebih, ataupun lumatan terburu-buru. Hanya kecupan lembut dan dalam, namun terasa menggeleyar. Dari setiap ciumannya dapat gue rasakan betapa laki-laki ini menyalurkan segala rasa sayang dan cintanya ke gue. Betapa dia menginginkan gue. Betapa dia rela melakukan apa saja demi gue. Detik itu juga, rasanya gue terhanyut dalam pusaran cinta yang tak ada jalan keluarnya.
Pangutan bibir kita terlepas. Namun dahi kita masih bertautan. Kendra sedikit menggeser wajahnya, menatap mata gue dalam dan berkata, "Jangan pernah lupa makan. Tidur yang cukup. Pakai pakaian yang tertutup. Jangan bandel sama Papa kamu. Bahagia terus dan satu lagi.. jangan lupa tersenyum" Kalimat itu dia tutup dengan satu kecupan di dahi.
__ADS_1
"Ken, kamu kenapa?" Ada yang aneh, gue makin yakin ada yang aneh dengan sikap Kendra hari ini. Tiba-tiba saja dia menjadi sangat romatis, dan kalimatnya.. kenapa kalimat yang diucapkan lelaki itu seolah-olah seperti...
"Aku mau bilang sesuatu sama kamu"
Enggak. Gue nggak mau denger. Nggak mau.
"Aku dapet surat pindah tugas"
Deg.
Gue menelan ludah, "Kemana? Aceh? Kalimantan? Papua?"
Kendra menggelang, "Bukan"
Gue menahan nafas. Mempersiapkan hal terburuk yang akan terucap dari bibir Kendra.
"Kongo.."
.
.
.
Papa... ini ulah Papa kan? Kenapa Papa tega sama Khanza?
__ADS_1