Cakrawala

Cakrawala
Episode 49


__ADS_3

"Ya nggak pa pa. Cuma iseng aja"


"Cuma iseng? Lo paham nggak sih konsekuensinya apa?"


Gue menurunkan pandangan menjauhi tatapan tajam mendominasi Kendra. Kalau udah begini, beuuh aura tegasnya langsung keluar. Terasa begitu represif dan dominatif.


"Iya maaf" lirih gue.


"Lain kali jangan diulang"


"Iya"


"Janji?"


"Iya deh janji. Tapi sun dulu" nggak pa pa dong gue mencoba peruntungan.


"Tadi kan udah?"


"Nggak kerasa. Mau lagi"


"Banyak orang"


"Kalau nggak banyak orang berarti mau?"


"Ya..ya.. gitu"


"Gitu gimana?"


"Keburu dingin nih mie-nya. Kalau nggak lo makan gue habisin" Eh malah mengalihkan topik pembicaraan. Tangannya sudah menyendok telur setengah matang di mangkok gue.

__ADS_1


"Habisin aja semuanya, ntar gantian lo yang gue makan"


Mulut yang terbuka lebar siap menyantap telur setengah matang itu kembali tertutup. Sendok berisi penuh di depan mulutnya kini berpindah ke depan mulut gue. "Nih makan" ucapnya seraya menyuapi gue. Duh jadi seneng disuapin Mas Pacar.


"Tadi lo ngapain sampai ke hotel segala?" Hmm, masih dibahas aja. Mas pacar cemburuan banget sih.


"Ya kan si Koko mau check in. Besok baru pesawatnya berangkat ke Jakarta" jelas gue di sela-sela kunyahan.


"Kenapa harus dianter sampe hotel segala? Dan kenapa lo harus kabur dari Regina?"


"Pak tentara pindah kerja jadi petugas sensus ya? Tanya-tanya mulu?"


"Jawab aja kenapa sih?"


"Iya..iya. Gue cuma nganterin doang kok. Beneran deh. Trus Koko ngajak sekalian makan di restaurant hotel yang ada di lantai tiga. Selesai makan gue langsung pamit pulang. Tapi begitu turun gue liat ada rame-rame. Eh ternyata ada budak cinta yang lagi kesurupan."


Kendra berdehem. Seolah-olah mengingkari kalau gue sebut budak cinta.


"Sumpah" Gue sampe mengangkat dua jari gue membentuk huruf V.


"Ya udah dihabisin makannya. Kasian Regina sama Tristan. Kelamaan nunggu."


Gue lirik ke arah dua orang yang sama-sama pesen indomie itu. Tapi mereka duduk di dalem sementara gue sama Mas Pacar makan di emperan luar. Untung gue nolak makan semeja bareng mereka dan lebih milih duduk di luar menikmati pemandangan nyiur hijau area persawahan. Nggak jadi dijedor dong gue kalau duduknya berempat.


Si seksi udah selesai makan sementara mulut gue masih sibuk mengunyah makanan. Dia menyenderkan kepalanya di meja dengan pandangan tidak lepas dari wajah gue.



Omegat... Senyumnya itu loh. Bikin gue *** seketika.

__ADS_1


"Dari pada cuman diliatin, mending dipegang aja. Gimana?" tantang gue.


"Cukup diliatin udah bikin gue bahagian kok"


Dasar kang ngalus... Tapi gue suka gimana dong..?


"Lo makannya banyak juga ya? Katanya tadi di hotel udah makan" lanjutnya.


Semprul. Paham nggak sih dia ini kalau topik berkaitan dengan ativitas makan memakan itu  sangatlah sensitif bagi wanita, "Hotel mah apa. Cuma makanan seuprit harganya selangit. Mana kenyang. Mending makan di warteg kayak gini. Udah murah, kenyang lagi." Gue membela diri. Ngak mau dikatain makannya kek babi.


"Padahal cuma makan indomie loh."


"Asalkan sama lo, makan sepiring berduapun hayuuk. Mau saling makan-memakan pun tambah hayuuuk"


"Emang kanibal..? Makan-memakan"


"Ye bapak nggak usah sok polos gitu deh. Udah punya pacar ini, nggak perlu main sama tangan sendiri. Nih tangan gue, siap mengurut-urut. Atau mau pilih mulut gue? Dada gue? Apa yang anget-anget di bawah sekalian?"


"Hush. Udah gue bilang kan, mulut difilter!" Tegas Kendra membungkan mulut gue sambil celingukan ke kiri dan ke kanan. Memastikan tidak ada yang mendengar pembicaraan kami.


"Ya maaf. Mulut gue kan emang lemes. Tapi bisa bikin tegang loh" cicit gue setelah dia melepaskan tangannya dari mulut gue.


"Mulai lagi?"


"Mau mulai? Ya udah yuk. Mumpung banyak hotel di kota"


"Khanza...!" Kendra mengurut keningnya yang pening akibat ulah gue.


He he. Maaf ya pak. Habis bapak menggoda iman banget sih.

__ADS_1



__ADS_2