Cakrawala

Cakrawala
Episode 62


__ADS_3

-Khanza-


Gimana mau marah, kalau pagi-pagi gue udah disambut makhluk macam ini.



Otot-otot perut yang tersusun gagah perkasa, warna kulit yang matang menggoda, dan tubuh kekar hasil cetakan keprajuritan. Euh, nikmat mana yang kamu dustakan.


"Ditekuk mulu wajahnya."


"Biarin." Gue masih kesel dong. Udah tinggal jleb eh malah mundur teratur. Mana gue belum dapet *** lagi.


Tapi Mas Pacar tau aja gue nggak bisa nolak pesonanya, makin dipepet, makin nggak berkutik.


"Coba liat sini. Mana nih cantiknya.. pengen liat dong" Gue menepis tangan Kendra yang mencoba meraih dagu gue. Baru banget bangun tidur, pasti kacau balau nih penampilan.


"Iih jauh-jauh sana. Aku marah sama kamu" ronta gue menolak dipeluk. Padahal gue udah ngiler sama roti sobeknya. Enak banget tuh roti buat sarapan. Tapi apa mau dikata, gue harus bisa menahan diri. Ya kali yang tadinya kekeh lagi marah tiba-tiba melunak cuma karena dikasih enak.


"Padahal mau dikasih sun lho"


"Sun cuma pipi doang. Nggak sudi"

__ADS_1


"Ya udah kalau nggak mau."


Kendra beringsut dari rajang. Meregangkan otot-ototnya sebentar, membuat gue menelan ludah kasar. Ngapain sih dari tadi nih orang mondar-mandir doang. Katanya mau mandi tapi nggak jadi-jadi. Malah cuma pamer dada. Mana celananya masih dipake lagi. Coba kalo dicopot, kan asoy.


"Mandi ah"


Mandi ya mandi. Pake diumumin segala. Mending kalau ngajakin mandi bareng, gue langsung semangat empat lima.


"Sa.."


Gue mendongakkan wajah.


"Nggak mau ikut sekalian?"


"Ya udah kalau nggak mau."


"Mau" tanpa malu gue jawab sepenuh hati.


"Katanya marah?"


Gue nggak jawab, malah menatap langit-langit menghindar dari tatapan Kendra.

__ADS_1


"Ya udah ayok"


"Beneran?"


Laki-laki itu hanya memberi isyarat untuk mengikutinya. Yes, kali ini nggak akan gue lepasin lo. Basah-basahan sama mamas ganteng.. Aye.



Ya ampun.. legit banget itu bodi. Keras-keras tahan banting. Nyaman banget pasti buat sandaran hidup. Aduh... Itu anduk ngapain sih pake dililitin di situ. Gatel tangen gue pengen nurunin.


"Cengengas-cengenges. Jadi ikut nggak?"


Seperti anak kecil yang diiming-imingi permen, gue setengah jejingkraan mendekati Mas Pacar.


"Sini"


Aduh jantung gue. Jedag jedug duer gini dipeluk Mamas e dari belakang. Otot lengannya pemirsah, dengan gagah memenjarakan gue dalam kunkungannya. Lemah sudah diri ini kalau dikasih back hug begitu intim. Belakang dada Mamas, samping kanan kiri otot bisep dan trisep, sementara depan ada cermin yang memantulkan bayangan wajah si ganteng serta tubuh topless legitnya. Anget deh rahim gue.


Pikiran gue tiba-tiba melanglang buana dengan liarnya. Membayangkan lelaki itu menguasai gue dalam posisi seperti ini. Memasuki gue dari belakang. Tangannya menjamah setiap jengkal kulit gue dan mulutnya merajah kejenjangan leher gue. Sementara itu, gue tanpa perlawanan menyaksikan pantulan gejolak panas kita yang terlihat di cermin tepat di depan sana. Oke, fokus Khanza, ini masih pagi.


Tanpa melepas pelukannya, tangan Kendra sibuk mengambil sikat dan pasta gigi yang terletak di sebelah kiri wastafel.

__ADS_1


"Hiiii" dia memberi isyarat agar gue meringis, menampakkan barisan gigi-gigi rapi untuk dibersihkan.


Sekarang kita malah mempraktekan adegan romantis yang banyak terputar di film-film percintaan. Kegiatan pagi hari pasangan muda, bercengkerama di depan wastafel, dengan si cowok yang menyikatkan gigi si cewek, dan sebaliknya. Cuman kali ini gue dapet bonus, yaitu dipeluk dari belakang. Bisa aja si bapak ngalusnya. Jadi lupa kan gue kalau tadi lagi ngambek.


__ADS_2