
Khanza
Gue curiga. Jangan-jangan Kendra punya cewek beneran.
Mungkin pacar.. mungkin gebetan.. mungkin mantan yang tak terlupakan atau cinta yang belum tersampaikan.
Tapi apapun itu, selama janur kuning belum melengkung, si seksi masih halal ditikung.
Kalau udah melengkung? Ya tinggal lurusin lagi. Gitu aja repot.
Pertama, si ganteng nemplok terus sama ponselnya. Nggak siang nggak malem tuh benda segiempat dipegang-pegang terus. Enakan juga megang gue. Bisa bunyi aah aah gitu.
__ADS_1
Dikit-dikit ngecek handphone, ada notif bunyi buru-buru dibuka, nggak ada notifpun dipantengin kayak orang nungguin chat gebetan. Gue kan jadi parno. Apalagi waktu gue intip yang chat-an sama si ganteng kontaknya dikasih nama 'ndoro putri'. Ndoro putri kalau nggak salah artinya tuan putri kan? Lupa gue bahasa Jawa. Mana ava-nya gambar cewek cantik pake banget. Model-modelan member JKT-48. Gue yang model bidadari surga bisa apa kalau si bapak lebih tertarik sama yang imut-imut daun muda.
Kedua, setiap dapet telepon atau video call dari si 'ndoro putri' tadi pasti Kendra bakalan mlipir-mlipir cari tempat sepi. Kalau cuma cari sinyal nggak perlu lah sembunyi-sembunyi gitu. Semua orang di asrama juga tau sinyal terbanyak ada di halaman depan. Ngapain harus sembunyi-sembunyi sampai ke ujung koridor. Seakan-akan nggak kepengen orang lain sampai tau. Segitunya banget. Jadi curiga si 'ndoro putri' itu sebenernya siapa. Dibilang pacar kok pake acara sembunyi-sembunyi, dibilang selingkuhan tapi bukannya Kendra masih jomblo. Atau jangan-jangan istri simpanan? Disembunyiin karena itu cewek masih muda banget. Diliat dari wajahnya aja masih belia. Seusia anak-anak SMA. Tapi kenapa dinikahin? Jangan bilang Kendra ngehamilin tuh anak bau kencur. Yah, gue keduluan dong.
Dari pada cuma menerka-nerka doang, mending gue cari tau. Target pertama, pak Komandan. Sebagai pemegang pucuk komando, Satriya pasti pegang kendali atas dokumen-dokumen personal bawahannya. Kayak data diri misalnya. Makanya gue pengen lacak data Kendra yang terekam di database militer.
"Udah cepet ini passwordnya apa?" gue terus memojokkan Satriya. Komputer dan meja kerjanya gue kuasai.
"Ini tuh rahasia negara. Jangan dibuat main-main"
"Nggak bisa Khanza. Ini namanya menyalahgunakan wewenang."
"Lo nggak mau? Oke kalau nggak mau gue laporin ke bokap lo kalau lo disini malah kelonan-kelonan sama Talitha"
__ADS_1
"Kok jadi bawa-bawa Talitha sih"
"Makanya buruan masukin tuh passwordnya"
Satriya berpikir sejenak. Daripada kelamaan mending gue ancem terus aja sekalian.
"Beneran nih? Oke" Ponsel gue udah di tangan. Layarnya menampilkan nomor telepon pak Jendral. Tinggal pencet aja langsung terhubung ke bokapnya Satriya.
"Eh tunggu dulu. Iya nih gue bukain. Merem sana. Awas lo kalau ngintip"
Sudah gue duga, si anak manja ini nggak bakalan berkutik kalau udah menyangkut orang tuanya. Badan boleh kekar, muka boleh tegas, tapi begitu berhadapan sama bokap nyokapnya langsung mengkeret kayak kucing kecemplung got.
Begitu akses ke data personil militer terbuka gue segera mengetikkan nama Kendra di kolom pencarian. Dalam hitungan detik, semua data diri lelaki itu muncul di layar monitor. Dari nama, tanggal lahir, tempat tinggal, dan hal-hal pribadi lainnya. Mata gue terus menelusuri barisan kata-kata itu mencari apa yang ingin gue temukan.
__ADS_1
Status: lajang
Yes. Kendra masih milik bersama.