Cakrawala

Cakrawala
Episode 60


__ADS_3

Setelah mengatakannya, perempuan yang setengah telanjang itu mulai mencium, sesekali menjilat dan menggigit wajah gue hingga ke leher, meningalkan bekas kemerahan yang tak terhitung jumlahnya. Turun terus sampai ke perut gue, berlama-lama di sana sambil memberikan kecupan kecil kupu-kupu. Nafasnya yang panas tambah menyiksa kulit telanjang gue. Apalagi saat bibirnya semakin turun, mengeksplorasi seluruh titik kenikmatan di setiap jengkal tubuh gue.


Oh tidak, bibir Khanza sudah ada tepat di atas barang kebangaan gue. Tangan gue mengepal menanti detik-detik menyiksa yang akan membawa gue terbang melayang. Dengan giginya, Khanza menarik turun restleting celana itu. Gue sedikit mengangkat kaki, mempermudah sang gadis melepaskan sisa-sisa kain yang masih menempel di tubuh gue. Dia berhenti sejenak, menikmati pemandangan yang tersaji di hadapannya. Gue yang polos, dengan tangan diikat, dan siap digarap.


Dari atas, gue lihat Khanza mengigit bibirnya. Satu tindakan kecil yang membangkitkan setiap saraf rangsangan dalam diri gue. Perlahan-lahan, wajahnya tenggelam dia antara selangkangan gue. Dan ahh.. kepala gue langsung menengadah kebelakang dengan mata tertutup begitu batang gue melucur masuk dalam kehangatan rongga mulutnya. Belum juga menyesuaikan diri, kepala Khanza bergerak liar narik turun membuat gue mengigit bibir. Geraman demi geraman keluar dari mulut gue, menikmati belaian lidah yang menari-nari menggelitik sel-sel kenikmatan di bawah sana. Gue sama sekali tidak berpengalaman dalam hal ini. Jarang ada lelaki yang kuat menahan gejolak saat pertama kali melakukannya. Jadi tidak heran jika dalam waktu singkat cairan gue membludak keluar. Ahh... lega. Jadi begini rasanya ***. Puluhan kali lebih nikmat dibanding saat bermain dengan tangan sendiri. Ini baru pake mulut, belum berlanjut ke permainan yang sesungguhnya.


Wajah Khanza muncul dari selangkangan gue. Sisa-sisa kenikmatan masih membekas di sudut bibirnya. Dia tersenyum dan menjilat sendiri cairan putih itu, memberikan gue pemandangan yang kembali memicu libido kelelakian gue.

__ADS_1


Khanza merangkak pelan memanjat tubuh gue hingga wajah kita saling berhadapan. Tak berapa lama, bibir kita saling melumat. Dia membagi sisa-sisa rasa pelepasan itu lewat penyatuan lidah kita. Bibir dengan bibir, lidah dengan lidah, erangan disambut geraman, dan lumatan di balas cecapan.


Nggak, gue udah nggak bisa nahan diri. Naluri kelelakian gue tidak bisa menerima jika wanita itu mendominasi. Oke, gue nggak masalah diperbudak perempuan ini, tapi tidak di ranjang. Urusan kamar, gue yang pegang kendali.


Hanya dengan sekali tarik, tangan gue terbebas dari ikatan kain yang sedari tadi mengunci pergerakan. Tanpa menunggu lebih lama, gue balik tubuh Khanza. Dia berteriak kecil, tidak memprediksi gerakan gue yang tiba-tiba. Sekarang wanita itu terbaring tak berdaya di bawah kungkungan gue.


Desahan demi desahan keluar dari mulut Khanza. Pinggulnya terangkat seolah mengisyaratkan gue untuk segera menarik turun sisa-sisa kain yang menutupi segitiga rahasianya. Setelah kain itu pergi, tangan gue menangkup gundukan merah muda yang merekah sempurna di dalamnya. Shit.. ini begitu lembab dan basah... ditambah sensasi panas yang menguar, membuat gue betah berlama-lama di sana.

__ADS_1


Jari-jari gue baru bermain-main di labia-labianya, tapi tubuh Khanza sudah menggeliat tak karuan. Apalagi saat tonjolan kecil itu gue tekan, lengkingan kenikmatan keluar dari mulut manis gadis yang telanjang di dalam kuasa gue itu. Khanza semakin tidak sabar. Dia merangkul leher gue, mendekatkan tubuh kita hingga menempel satu sama lain. Sensasi payudaranya di dada polos gue sungguh menggelegar. Belum lagi nafas panas yang menderu di perpotongan leher gue. Perut ratanya menekan batang gue yang mengeras. Ahh, tinggal sejengkal lagi dan kita akan menyatu.


Seperti kesetanan, fokus gue saat ini hanyalah lubang kecil sumber kenikmatan yang ada di antara selangkangan wanita itu. Pasti akan sangat nikmat berada di dalamnya. Miliknya yang licin berlendir akan menyambut kedatangan senjata pamungkas gue, ditambah lagi remasan dinding-dindingnya yang sempit dan panas. Eungh.. membayangkannya saja sudah membuat adek gue menggembung besar dan keras.


Dengan hati-hati gue arahkan batang gue ke lipatan-lipatan di kewanitaanya. Cahaya yang remang-remang sama sekali tidak membantu. Di saat seperti ini, gue hanya mengandalkan naluri. Namun ketika kulit kejantanan guebersentuhan dengan kulit kewanitaan Khanza, wanita itu sedikit terkesiap. Tangannya refleks memegang pergelangan tangan gue seolah ingin menghentikan aktivitas yang baru memanas ini. Namun satu detik kemudian, dia sadar apa yang baru saja dia lakukan dan melepaskna genggamannya. Meskipun dia kembali menyerahkan tubuhnya akan tetapi untuk sepersekian detik pandangan mata kita bertemu, dan detik itu juga gue tersadar, Khanza belum siap seutuhnya.


__ADS_1


__ADS_2