Cakrawala

Cakrawala
Episode 12


__ADS_3

-Khanza-


 


Kalau di kota, pasien gue tiap hari nggak ada habisnya. Heran, kenapa kebanyakan orang kota tuh penyakitan. Sementara di sini, kerjaan gue cuma checking up bapak-bapak tentara dan masyarakat sekitar yang butuh pertolongan. Itupun karena jarak markas dan pedesaan lumayan jauh, nggak banyak yang datang ke sini minta obat. Masyarakat di sini juga masih sangat tradisionil. Mereka nggak bergantung pada dokter maupun obat-obatan kimia. Mereka lebih suka memakai cara tradisional.


 


Kalau dibandingin orang kota, mereka yang hidup di sekitar sini lebih sehat-sehat. Paling-paling cuma sakit flu dan deman yang kebanyakan terjadi. Maklumlah, gaya hidup mereka sangat bertolak belakang dengan gaya hidup orang kota. Jadilah gue sering jobless nggak ada kerjaan. Liat gue yang hampir gila karena gabut, akhirnya pak tentara seksi ngajakin gue ikut timnya turun ke desa.


 


Selama ini yang gue tau kerjaan tentara cuma patroli sama razia doang. Nggak pernah terpikirkan kalau mereka harus jadi guru. Gue ngeliatin aja dari tadi gimana bapak-bapak berdada tegap itu memberikan materi bela negara di depan anak-anak SD. Tapi gue agak miris lihat keadaan sekolah mereka. Hanya ada satu kelas. Itupun sudah sangat reyot. Bangku dan meja rusak. Papan tulisnya masih menggunakan kapur. Gue yakin jika hujan atapnya pun akan bocor. Hanya ada dua guru di sini. Mereka mengajar semua mata pelajaran bergantian.


 


Kendra bilang sekolah di sini mulainya memang agak siang. Jarak rumah anak-anak ke sekolah bisa lebih dari lima kilometer. Dan itu mereka tempuh dengan jalan kaki. Jangan dibayangkan jalanannya semulus Jakarta. Kendra sempat ngajakin gue menelusuri jalanannya. Berkelak-kelok naik turun. Jurang dan tebing di mana-mana. Rumput-rumput berukuran besar menghalangi jalan. Belum lagi harus menyeberang sungai yang licin dan deras arusnya, atau rawa-rawa yang dihuni buaya. Gue nggak sanggup ngebayangin kalau jadi mereka. Dulu aja gue yang sekolahannya udah bagus, fasilitas serba ada, dianterin pake mobil mewah lewat jalanan mulus, ogah-ogahan masuk sekolah. Tapi anak-anak itu, yang hanya berbekal tekad dan mimpi, menghadapi segala rintangan untuk mencecap bangku pendidikan. Baru kali ini gue malu sama diri gue sendiri.


 


Bukan hanya memberikan materi tentang Pancasila dan bela negara, para penjaga garda depan itu juga mengajak anak-anak bermain bersama untuk lebih mendekatkan diri. Seperti saat ini, Kendra baru saja menyelesaikan satu ronde permainan sepak bola dengan mereka.


 

__ADS_1


Dahinya di penuhi keringat namun wajahnya penuh dengan tawa. Dia berlari ke arah gue meminta botol minum. Gue mengamati dengan tertegun ketika jakunnya bergerak naik turun menikmati tetes demi tetes air yang membasahi kerongkongannya.


 


"Akh.." desahnya puas setelah mengobati rasa haus di kerongkongannya.


 


"Coba hadap sini"


 


Dia menurut ketika gue dengan sangat lembut dan hati-hati menyeka keringat di wajahnya.


 


 


Dia menyeringai, "Sudah jadi tanggungjawab gue"


 


"Loh bukannya kerjaan tentara pegang senapan ya? Bukan pegang kapur?"

__ADS_1


 


"Ini bagian dari usaha pertahanan negara"


 


"Hah?" gue bingung.


 


"Coba lo pikir, gimana kalau masyarakat di sini nggak punya rasa cinta tanah air. Apa yang terjadi?"


 


Gue diem.


 


"Mereka nggak akan merasa menjadi bagian dari NKRI. Kalau sudah begitu, mereka akan mudah termakan hasutan." lanjut Kendra meneruskan ceramahnya. "Lo tau kenapa dulu ada GAM, pemberontakan di Papua, dan lepasnya Timor-Timor?"


 


Gue menggeleng.

__ADS_1


__ADS_2