Cakrawala

Cakrawala
Episode 17


__ADS_3

Jangan harap ada penerangan memadai di desa terpencil kayak gini. Rumah-rumah penduduknya pun sangat sederhana, beralaskan tanah, berdinding kayu dan beratap ilalang. Bahkan luasnya nggak ada separuh luas kantor gue. Kadang-kadang liat kayak gini bikin gue banyak bersyukur, meskipun hidup gue pas-pasan tapi setidaknya gue lebih beruntung dari pada mereka.


 


Gue memapah Malahar yang masih terlihat lemas masuk ke dalam rumahnya. Dengan suara yang agak serak, anak itu memanggil-manggil neneknya. "Wa'i.. Wa'i.."


 


"Malahar?" terdengar suara parau dari dalam rumah berjalan menuju pintu. Daun pintu dari kayu itu terbuka menampakkan seorang wanita tua dengan rambut putih beruban, tubuh kurus dan sedikit membungkuk. "Malahar sudah pulang? Tadi Maluo bilang Malahar dibawa ke klinik" ucap sang nenek tertatih-tatih sambil meraba-raba wajah cucunya.


 


"Iya Wa'i. Maaf Malahar baru bisa pulang, ninggalin Wa'i sendirian di rumah. Kalere dimana Wa'i?"


 


"Adik kamu sudah tidur. Tadi Ina-nya Malou bantu Wa'i ngurus Kalere." Pandangan Wa'i beralih ke arah gue. Beliau nampak meyipitkan matanya mencoba menerka-nerka siapa yang berdiri di samping cucunya ini. "Ini pak tentara ya?"


 


"Iya Wa'i" jawab gue sambil mencium tangan Wa'i.


 


Wa'i emang hafal sama gue. Beberapa kali gue ketemu Wa'i kalau sedang tugas bakti sosial. Mungkin karena Wa'i mengidap rabun senja beliau kurang bisa melihat wajah gue.


 


"Terimakasih pak tentara dan semuanya saja yang sudah repot-repot mengantar Malahar pulang. Sini..sini, semuanya masuk dulu"


 


Gue membantu Wa'i berjalan masuk ke dalam rumah sementara Tristan memapah Malahar dan membaringkan anak itu di atas ranjang sederhananya. Ada yang tidak biasa dengan Wa'i, wajahnya terlihat sangat pucat dan kulitnya terasa agak panas.


 


"Wa'i sakit?" tanya gue setelah membantu Wa'i duduk.


 


"Wa'i tidak apa-apa. Bagaimana Malahar? Dia sakit apa?"


 


"Kendra ke sini sama bu dokter yang tadi memeriksa Malahar. Biar dokternya yang jelasin ya Wa'i"


 


"Bu dokter.. Malahar ndak kenapa-napa kan?"


 


"Wa'i tenang saja. Malahar sudah minum obat. Tinggal istirahat yang cukup agar cepat pulih" Khanza mencoba menghibur Wa'i.


 


"Syukurlah. Wa'i bingung waktu Maluo bilang Malahar dibawa ke klinik. Wa'i tidak bisa jalan jauh untuk menjemput Malahar. Terimakasih bu dokter dan pak tentara sudah membawa Malahar pulang"


 


"Sudah tugas kami Wa'i. Tapi Wa'i kelihatan pucat sekali. Wa'i sakit?"


 

__ADS_1


"Wa'i sudah tua. Sudah sering sakit-sakitan"


 


"Biar Khanza periksa ya Wa'i"


 


Bergelut dengan alat-alat medisnya, Khanza mencoba mendiagnosa keadaan Wa'i. Tiga digit angka tertera pada termometer digital yang ditempelkan di leher Wa'i. Tiga puluh delapan koma tujuh. Gue yang masyarakat awampun paham jika Wa'i demam. Selanjutnya Khanza mengeluarkan stetoskop dan senter kecilnya. Dia mengamati dengan jeli setiap tanda-tanda di tubuh Wa'i sambil sesekali bertanya, "Apa yang Wa'i rasakan belakangan ini?"


 


"Perut Wa'i sakit. Sudah berulang kali Wa'i keluar masuk kamar mandi"


 


"Maaf Wa'i, apakah waktu Wa'i buang air besar bentuknya encer?"


 


"Iya bu dokter"


 


"Apa yang Wa'i konsumsi belakangan ini?"


 


"Seperti biasanya bu dokter. Kadang beras, kadang umbi-umbian, dan sayur-mayur yang di dapat di sekitar"


 


"Kalau minum?"


 


 


"Airnya matang kan?"


 


"Iya. Tapi mengambil airnya jauh di lembah sana. Ada sumber air yang dekat di rawa-rawa, tapi sudah mulai kering"


 


Khanza nampak mengangguk-angguk, "Wa'i, sementara Wa'i jangan makan yang kasar-kasar dulu. Makan bubur atau yang sudah dihaluskan. Khanza beri obat nanti Wai minum dan istirahat yang banyak."


 


"Tapi nanti Malahar.."


 


"Wa'i tenang saja. Biar kami yang jagain Malahar"


 


"Wa'i jadi merepotkan pak tentara dan bu dokter"


 


"Tidak sama sekali Wa'i. Khanza senang bisa membantu Wa'i"

__ADS_1


 


"Wa'i cuma bisa bilang terimakasih. Tapi Wa'i nggak punya apa-apa di rumah. Selimutpun tidak ada. Apalagi makanan untuk dihidangkan"


 


"Wa'i jangan memikirkan itu. Kami sudah membawa segala perlengkapan dari markas. Jadi Wa'i tenang saja. Sekarang Wa'i istirahat ya."


 


Gue mengantar Wa'i kembali ke ranjangnya. Setelah memastikan Wa'i tidur dengan nyaman, gue kembali ke depan.


 


"Tris, lo pulang dulu ke Markas. Bawa Khanza sama Regina sekalian. Biar gue yang di sini"


 


"Ya nggak bisa dong. Seenaknya aja nyuruh-nyuruh pulang. Gue masih mau di sini" Khanza menyela pembicaraan kita begitu saja.


 


"Tapi Sa.."


 


"Gue dokternya. Kalau terjadi apa-apa nanti gimana? Pokoknya gue nggak mau balik ke markas. Kalau lo mau balik ya balik sendiri aja sono"


 


Gue memijit kepala, pening... Dasar bidadari kepala batu.


"Ya udah. Lo aja yang balik Tris. Sekalian laporan ke komandan kalau kemungkinan gue besok nggak ikut apel pagi"


 


"Ya masak saya ninggalin Bapak sendirian di sini sih Pak. Nanti kalau ada apa-apa Bapak kewalahan." Ikut-ikutan lagi ini tikus got satu. Pake sok-sokan khawatir. Ampas. Padahal gue tau dia cuma modus doang. Kesempatan nyepik Regina.


 


"Kalau tahu kita nggak pulang bakalan mencak-mencak pak Komandan"


 


"Biar gue yang ngomong sama cecurut satu itu. Nggak akan berani dia mencak-mencak" bu dokter angkat bicara.


 


"Yes. Makasih ya bu dokter." Jejingkrakan seneng tuh tiang listrik.


 


"Tapi lo bawa jauh-jauh mbak Egi dari samping gue malem ini" bisik Khanza ke Tristan.


 


"Ashiaap"


 


 


Eh, gue nggak akan diapa-apain kan ya malem ini?

__ADS_1


__ADS_2