Cakrawala

Cakrawala
Episode 63


__ADS_3

"Diem aja bibirnya. Mesam-mesem mulu. Jadi belepotan kan" Kendra mengigatkan.


"Iiih mulut aku belepotan putih-putih. Jadi inget yang tadi malem" jawab gue dengan mulut penuh busa pasta gigi. Gue melirik ke atas, ingin melihat ekspresinya.


"Mulut kotor harus dibersihin" tanggapnya dengan ekspresi datar sambil terus menyikat gigi gue.


"Aduh pelan-pelan dong yang, main sodok aja. Ini mulut, bukan karburator."


"Iya..iya.. Maaf. Ini aku pelanin"


"Nah pelan-pelan gini kan enak.."


Belum juga berapa lama, gue protes lagi, "Yang.. geli ah. Biar aku sendiri aja."


Gue mengambil alih sikat di mulut gue sedangkan Kendra mengambil sikat gigi yang lain untuk dirinya sendiri. Acara sikat menyikat kita diiringi dengan canda dan tawa. Kadang dia iseng mencium pipi gue dengan busa pasta gigi yang masih belepotan di mulutnya. Tingkah usilnya itu gue balas dengan tindakan yang sama. Kita bahkan saling bergantian menyikat gigi satu sama lain. Yang paling gue suka adalah, saat kita berkumur otomatis wajah Kendra akan menempel di pipi gue, dagunya sesekali bertumpu di bahu gue, dan dada bidangnya terus menempel di punggung gue.


"Nah selesai" sahutnya setelah mengelap bibir gue bersih.


Rambut gue kemudian dirapikan ke belakang. Kendra menyalakan wastafel, aliran air itu dua gunakan untuk membasuh muka gue. Uuh, seger.. apalagi yang nyabunin muka si ganteng. Nggak perlu pake facial foam udah kinclong ini entar.


Gue masih menikmati detik-detik dimana Mas Pacar dengan telaten mengelap sisa-sisa air di wajah gue dengan handuk, ketika tiba-tiba cicitannya merusak suasana "Udah sana, aku mau mandi."


"Loh, tadi katanya ngajak ikut?"


"Kan aku nggak bilang ngajak ikut mandi. Maksud aku mau ikut gosok gigi enggak"


Semprul. Gue dikerjain.


"Aku marah nih!" ancem gue kayak anak kecil.


"Ya udah marah aja. Nanti kalau udah selesai marah aku kasih sun"


"Kok nyogok sih?"

__ADS_1


"Biar kamu cepet reda marahnya" jawabnya sambil mencubit kecil hidung mancung gue.


"Curang"


"Biarin.. udah ah aku mau mandi. Jangan ngintip ya.." ucapnya sebelum menjitak kecil kening gue dan berbalik menuju shower room.


"Nggak aku intip kok. Cuma aku videoin aja." teriak gue dari belakang.


***


Gue nggak terima dong dikerjain kayak tadi. Khanza dilawan.. ya balik ngelawan lah. Awas aja Letnan Kolonel Chakra Kendra Dhananjaya, abis lo gue garap.


"Yang... sayang.. buruan bukain pintu" gue gedor-gedor pintu kamar mandi.


Suara guyuran air berhenti sesaat, diikuti teriakan seorang lelaki dari dalam sana, "Kenapa? Aku belum selesai mandi"


"Aku kebelet pup. Buruan buka.. udah di ujung ini"


"Kamu tega? Masak aku harus gedor-gedor tetangga buat pinjem kamar mandi sih."


Tidak berapa lama, pintu kamar mandi pun terbuka. Menampakan badan basah bapak tentara dengan sisa-sisa sabun yang belum sempat dibilas. Dipinggangnya terlilit handuk putih yang hanya menutupi sebatas lutut. Huh, mulai hari ini gue menyatakan perang sama handuk. Nggak tau diri banget nemplok-nemplok di situ. Menghalangi pemandangan asoy.


Pintu sudah terbuka. Tanpa pikir panjang gue langsung menggelandang masuk dan menyerang mamas dengan peluk cium bertubi-tubi.


"Loh..loh.. kamu bohong"


"Iya. Kan mau mandi bareng" jawab gue penuh percaya diri seraya bergelantungan di lehernya.


"Tapi gimana dong? Gue udah selesai mandi"


"Orang masih ada sabunnya gini bilang selesai mandi" jari gue mencolek busa putih yang masih tertinggal di bahu Mas Pacar.


"Ya tadi kan bilasnya kilat. Ada ultimatum palsu"

__ADS_1


"Ya udah. Aku bantuin bilas ya?"


"Nggak perlu. Emang bayi, dimandiin segala?"


"Nggak cuma dimandiin, bahkan disusuin juga. Aku baik kan?" Gue menarik Kendra ke bawah shower, "Udah yuk sini.. Nggak usah pake acara malu-malu. Aku juga udah liat polosannya kamu"


"Masak mandi diliatin"


"Orang cuma mau bilasin nih busa-busa yang masih tertinggal. Di bawah juga udah ditutupin handuk. Bapak jangan ngeres ya pikirannya"


"Yee.. yang pikirannya ngeres siapa?"


"Orang cantik mah bebas" ujar gue membela diri sendiri. "Udah sana hadep belakang. Punggung isinya sabun doang"


Tumben nih laki nurut. Pusing ya ngadepin gue? Siapa suruh bikin bete.



Omegat punggungya.. gue nggak bisa berkata-kata. Kalau magnet bumi dipindahkan, bakalan ada di punggunya si Mamas. Gravitasinya sungguh luar biasa. Bikin gue pengen nemplok seketika.


"Sekarang yang depan" perintah gue.



Mampus. Godaan duniawi ini sungguh maha dahsyat. Badannya Mamas mantep banget Ya Allah, tebel dan perkasa. Ah jadi suka. Yang dibawah shower Mamas, kenapa yang basah gue ya?


"Heh, bengong aja. Sini, biar aku bersihin sendiri."



Aaaaa... sungguh terlalu Mas kau suguhkan pemandangan ini padaku. Fix, di kehidupan yang akan datang gue mau jadi shower aja.


__ADS_1


__ADS_2