
Baru memikirkan motif batik atau polkadot, suara deru mesin dari angkasa menyita perhatian gue.
Alhamdulillah ya Allah, gue selamat. Kayaknya emang nyawa gue ada sembilan deh. Buru-buru gue lari sambil dada-dada, berharap siapapun yang ada di dalam capung terbang itu mau berbaik hati nolongin gue. Udah berasa syuting film India ini gue.
Gue udah was-was kalau si pilot nggak liat ada gue di sini. Tapi lambat laun, mesin terbang itu bergerak turun. Seorang laki-laki dengan pakaian hitam dan peralatan lengkap berpegangan di pintunya, siap meluncur turun.
Tunggu. Kayak kenal...
Sebentar..
OMEGAAAT... itu Kendra.. demi sempak Neptunus, yang gelantungan di situ Kendra.. KENDRA GUE...
__ADS_1
Kendra gue yang udah sebulan nggak ada kabar tiba-tiba nongol dengan spektakulernya. Ya ampun ayang bebeb.. baru satu bulan nggak liat udah makin mateng aja sih perawakan kamu. Dia nggak dialihkan jadi angkatan udara kan? Di darat aja udah bikin megap-megap gimana kalau di udara, langsung mimisan gue bayanginnya.
Sebentar.. sebentar.. Gue kehabisan nafas. Demi apa Mamas gue dikucir. Sekali lagi... DIKUCIR WOY.. DIKUCIR. Huhuhu... gue pengen garuk tembok rasanya. Sumpah... Gantengnya nggak nguwatin. Rambut yang sering gue remes-remes kalau lagi netek sekarang sukses bikin gue lemes. Asli ini lutut udah cem ubur-uburnya Spongebob.
Saking terpana liat Mamas yang mendarat sempurna di atas hamparan pasir putih, nggak gue gubris si capung terbang yang malah mengudara lagi, meninggalkan gue berdua sama si seksi.
"Ayaaang... huhuhu" langsung aja gue teriak sambil lari sampai nabrak tubuh gladiatornya lalu gue peluk erat-erat. Sumpah.. kangen banget rasanya.
Setelah puas menghirup wangi feromonnya, gue cek dari rambut sampai kaki, "Ayang nggak kenapa-napa kan? Ada yang sakit nggak? Luka kena pecahan kaca waktu itu udah sembuh belom? Ini kenapa kulit kamu iteman? Mata panda kamu juga keliatan? Kamu nggak cukup istirahat ya? Nggak dikasih makan yang cu-?"
Cup.
Ngomong-ngomong soal kangen, sadar nggah sih dia udah bikin gue rindu setengah hidup semperempat mati dan semperempatnya lagi ketar ketir nunggu kabar.
"Iih.. jahat. Kenapa kamu nggak ngabarin aku? Kenapa kamu nggak pamitan dulu sama aku? Aku di sini tiba-tiba jadi penderita asma tau nggak, gara-gara oksigennya kamu bawa pergi. Dasar nyebelin..nyebelin.. nyebeliin.." luapan emosi gue sambil memukul-mukul dadanya.
__ADS_1
Si ganteng menghentikan pukulan tangan gue di dadanya, "Jadi, lebih milih ada aku atau nggak ada aku?"
Gue mengerutkan kening, "Ya ada kamulah"
"Kalau gitu... berarti mau dong diajak nikah"
"Kok bawa-bawa nikah sih?"
"Ya udah kalau nggak mau, aku tinggalin kamu di sini"
"Kamu ngancem aku?"
"Iya"
"Aku bilangin Papa!"
__ADS_1
"Ya sana. Mau bilangin pakai apa? Orang nggak ada apa-apa di sini."
O iya. Gue kan tadi diculik. Eh sebentar, "Kok aku bisa ada di sini? Kok kamu tau aku disini?"