
-Kendra-
Bohong kalau gue nggak tertarik sama Khanza. Bohong banget.
Sebagai laki-laki normal, senjata rahasia gue juga bergetar tiap kali cewek jelmaan bidadari surga itu godain gue. Mana makin hari makin frontal. Apalagi tadi malem, gue kelonin dia dengan backsound suara-suara ghaib dari kamar sebelah. Ternyata ada yang lebih sulit daripada berjuang di medan perang, yaitu berjuang melawan nafsu sendiri. Tapi gue takjub, bisa gitu gue nahan diri buat nggak nerkam dia tadi malem.
__ADS_1
Setelah tau Khanza adalah putrinya pak Mayor Jendral, tentu aja gue mundur teratur. Nggak berani. Gimanapun gue masih sayang sama pekerjaan. Keluarga gue yang di Jawa bergantung sama gue. Lebih lagi adek gue tahun depan udah butuh biaya banyak buat kuliah. Sebisa mungkin gue nggak cari masalah.
Tapi semakin gue berusaha menjauh dari si 'biang masalah', semakin gue nggak berdaya dibuatnya. Setiap hari rasanya belum lengkap kalau belum mendengar ocehan usil cewek itu. Meskipun terkadang menyebalkan, tapi tingkah polahnya selalu gue rindukan. Lama-lama gue merasa dia seperti candu, yang membuat gue bergantung dan selalu bergantung.
Namun sekarang, bukan lagi karena rasa sungkan terhadap ayahnya yang membuat gue selalu menahan diri. Melainkan, rasa yang sulit gue ungkapkan. Begitu berharga rasanya wanita itu, hingga tak ingin ada sesuatupun yang merusaknya, termasuk diri gue sendiri. Maka dari itu susah payah gue menahan diri setiap kali dia memancing kelelakian gue. Nggak sadar aja dia gimana setiap sel dalam otak gue berjuang keras menahan setiap dorongan untuk merengkuhnya. She is dangerous... very dangerous.
Gue tau gue ini tipe-tipe pemikir, berbeda sama Khanza yang just go with the flow. Setiap hal selalu gue pikir matang-matang ke depannya, apalagi urusan cewek. Usia gue udah kepala dua akhir bro, bukan saatnya lagi gue main-main. Gue juga pengen nikah dan punya istri untuk melengkapi separuh dari hidup gue. Tapi cari istri nggak sesimple cari sepatu, nggak cocok dipakai lalu ganti. Nggak bisa kayak gitu.
__ADS_1
Khanza... dia terlalu sempurna untuk gue yang serba kurang.
Gue jadi inget satu pesen ibuk, jangan pernah meminta wanita menerima keadaan kita apa adanya. Sering banget gue denger cowok berargumentasi 'kalau lo cinta sama gue terima gue apa adanya'. Cuih, bagi gue itu cuma perkataan cowok banci, yang bersembunyi di balik kata-kata untuk menutupi ketidakmauannya berjuang demi perubahan yang lebih baik. Kalau memang benar dia cowok sejati, nggak akan kata-kata itu keluar dari mulutnya. Karena cowok sejati tidak mungkin tega membiarkan wanita hidup susah bersamanya. Sesulit apapun hidup yang dijalani, dia hanya akan merasakan kesusahannya sendiri demi bisa membuat wanitanya hidup nyaman dan bahagia.
Di kamus hidup gue tidak ada kata-kata 'terima gue apa adanya'. Jika kita mencintai seseorang, kita harus mau berubah dan memantaskan diri untuk bersanding dengannya. Dari yang semula males-malesan kerja harus jadi semangat mencari rupiah untuk bekal di masa depan, dari yang semula hanya memikirkan kebutuhan sendiri harus mulai memikirkan kebutuhan berdua, begitulah yang namanya sebuah komitmen. Harus saling mengisi dan melengkapi, tidak hanya mementingkan diri sendiri.
Dan gue tidak akan pernah meminta Khanza menerima gue apa adanya. Justru gue yang harus berjuang bagaimana caranya agar bisa pantas bersanding dengan perempuan luar biasa itu. Perjuangan ini tentu tidaklah mudah. Lebih sulit dari sekedar medan terjal, desingan peluru, ataupun jebakan ranjau yang sudah biasa gue hadapi. Berulang kali gue menangkap bayangan wanita itu dalam bola kristal yang gue miliki. Membayangkan dirinya ada dalam genggaman gue dan menemani hari-hari gue dengan canda tawanya. Namun untuk itu ada jalan terjal yang harus gue lewati terlebih dahulu.
__ADS_1
Khanza... she is the price I have to pay.