Cakrawala

Cakrawala
Episode 48


__ADS_3

-Khanza-


 


"Kalau gue nggak mau?" lagak gue sok jual mahal. Padahal dalam hati udah jingkrak-jingkrak nggak karuan.


Tapi nggak pa pa dong. Jadi cewek emang harus mahal.


"Ya pokoknya lo harus mau"


"Kok maksa?"


"Tanggungjawab dong. Siapa suruh bikin hati gue cenat-cenut"


"Yaah.. tapi bapak keduluan si Koko. Gimana dong?"


"Koko? Si mata sipit?"


Gue mengangguk, "Tadi Koko juga minta gue jadi pacarnya"


"Trus lo jawab apa?"


"Belum gue jawab"


"Tolak aja"


"Kok gitu"


"Elo cuma boleh sama gue. Titik. Nggak pake koma"


"Kalau ada yang ngasih koma?"


"Gue tembak terus gue buang ke Timor Leste"


"Nggak takut dipenjara?"


"Daripada gue bebas tapi harus liat lo sama orang lain"


Gue senyam-senyum. "Iiih jadi suka deh"


"Berarti lo pilih gue dong?"

__ADS_1


"Siapa bilang"


"Eh kok gitu?"


"Cium dulu baru gue jawab"


"Lah? Di sini?"


"Ya udah kalau nggak mau, gue sama Koko aja"


"Eh eh eh.. siapa yang nggak mau. Tapi jangan di sini. Banyak orang."


"Cium atau gue kawin lari sama si Koko"


"Bisa gitu kawin lari?"


"Ya tinggal kawin sambil lari-lari. Gue mah nemplok aja, ntar Kokonya yang lari-lari sambil-"


Cup.


Gue kaget. Barusan Kendra nyium gue? Demi apa? Si seksi nyium gue duluan..


"Mulut lo sekarang punya gue. Jadi kalau ngomong pake filter"


"Minta nambah boleh nggak?"


"Nambah apanya?"


"Ciumnya lah. Paket combo tapi. Pake gigit dan isepan. Plus extra lama"


Kendra nyodorin sesendok mie instan dari mangkok di depan gue "Nih cium mie-nya nih. Mau digigit boleh diisep juga boleh."


Gue manyun.


Acara santap menyantap mie instan kita tiba-tiba terganggu oleh dering suara dari ponsel gue. Sebuah panggilan masuk dengan nama kontak Koko Andreas terlihat pada layarnya.


Baru aja mau gue angkat, tangan Kendra terlebih dulu menyambar benda pipih itu.


"Halo. Nggak usah hubungin Khanza lagi. Sekarang dia pacar gue. PACAR GUE. Lo denger kan. Awas kalau lo berani hubungin Khanza lagi, gue obrak-abrik proyek tambang yang baru lo bikin."


Tut..tut..tut..

__ADS_1


Nafas Kendra masih ngos-ngosan ketika sambungan telepon itu terputus.


"Ken.." panggil gue hati-hati.


"Kenapa?" masih ada sisa-sisa emosi di suaranya.


"Si Koko nggak pernah nembak gue. Tadi gue cuma bercanda"


"Uhuk..uhuk" keselek deh dia.



 


Mas Pacar lagi bete. Dari tadi mukanya ditekuk mulu. Gara-gara gue juga sih. Gimana nggak malu kalau marah-marah salah tempat kek tadi.


"Udah dong ngambeknya. Masak baru lima menit pacaran udah ngambek aja." gue merayu-rayu.


Mas pacar menyerutup kuah indomie rebusnya, nggak dia gubris sama sekali perkataan gue.


"Ih ayang.. kok gue didiemin"


"Muka gue mau ditaruh dimana ini?" sesalnya setelah mengelap bibir tebalnya yang basah karena sisa-sisa kuah.


"Maunya dimana? Di depan dada boleh, di sela-sela paha apalagi" gue cengengesan.


Tapi sepertinya tidak ada yang lucu buat Kendra. Dia tetap menatap gue dengan ekspresi yang sama. Oke, bukan saatnya bercanda Khanza.


"Iya..iya, nanti gue jelasin ke Koko biar nggak salah paham"


"Berarti nanti lo ngehubungin si sipit kulit pucet itu lagi dong. Enggak! Enggak boleh"


Posesif amat. Tapi nggak pa pa. Gue suka. "Aduh senengnya dicemburuin mas pacar"


"Siniin handphone lo" tiba-tiba aja dia minta ponsel gue.


"Eh buat apa?"


Kendra tidak menjawab, hanya saja segera dia hapus nomor kontak si Koko dari ponsel gue.


"Udah nih, nggak usah hubungin dia lagi" ucapnya. "O iya, tadi kenapa lo kabur lagi dari Regina?"

__ADS_1


Ups, mulai deh disidang.



__ADS_2