
"Ini namanya Jagung Boseh." Salah satu menu andalan Kabupaten Belu berbahan dasar Jagung. Dilihat dari kondisi geografisnya, dimana musim kemarau lebih panjang dari musim penghujan, jagung masih menjadi makanan utama penduduk pulau ini.
Jagung Boseh terbuat dari jagung yang ditumbuk menjadi gumpalan kecil dan direbus. Tampilannya basah seperti bubur namun rasanya tawar. Biasanya dilengkapi dengan teri balado dan sayur bunga pepaya. Ditambah lagi Sambel Luat yang isinya ulekan cabe rawit kecil, bawang merah, garam, dan jeruk nipis. Bagi pecinta pedas, Sambel Luat ini sangat sayang untuk dilewatkan. Dijamin bikin lidah terbakar dan keringetan.
"Huaa.. ini pedes banget.. lidah gue.. huhuhu" tuh kan bener. Dewi gue aja sampai guling-guling kepedesan.
"Kamu sih kebanyakan ngambilnya"
"Minum.."
"Jangan dikasih minum, nanti makin rata pedesnya. Nih makan ini aja" gue menyodorkan Ubi Kukus khas Atambua untuk menetralisir rasa pedas Sambal Luat. Ubi ini diolah seperti kue putu yang berisi gula merah, dibakar di atas anglo dengan wadah anyam berbentuk kerucut.
Gue mengganti mangkok Khanza yang sudah dicampur dengan tiga sendok Sambal Luat dengan mangkok gue yang masih polos, "Nih, kamu makan punyaku aja"
Dengan mulut penuh ubi Khanza menjawab, "Nanti ayang kepedesan"
"Udah nggak pa pa." Duh berasa menyelamatkan dunia gue. Ya walaupun habis itu gue nyesel dalem hati. Gilaaa.. pedes banget ini sambelnya. Kalau lidah gue bisa protes mungkin udah demo sekarang.
__ADS_1
"Ayang keringetan gini" Khanza mengelap dahi gue, "Pedes ya?"
"Daripada kamu yang kepedesan"
"Engh, jadi terharu. Emang the best pacar aku. Nih aku suapin ubinya biar nggak kepedesan lagi"
"Pacaran teroos" biasa, Tristan si makhluk jomblo suka iri.
"Apa lo? iri?" gue gertak aja sekalian.
"Emang"
"Udah ketemu tapi guenya ditolak mulu"
"Hahahaha" gue ketawa sepuasnya. Tapi si obyek pembicaraan, aka Regina, masih santai-santai aja.
"Katanya mau fokus bertugas. Nggak punya waktu buat player kek gue. Padahal kan gue udah tobat, ya nggak?"
Pff.. udah tobat?? Gue pengen ngakak.
"Mbak Egi selow aja lah mbak. Sekarang kan Khanza udah punya bodyguard lahir batin. Sudah saatnya mbak Egi cari pacar. Masak jomblo terus. Nggak nikah-nikah loh entar" Khanza angkat bicara.
__ADS_1
Masih tetap dengan lagak santainya Regina menimpali, "Gimana mobilnya? Kita bisa pulang kan?"
O iya, jadi inget masalah mobil.
"Bawa ke bengkel aja lah. Biar gue tanya ibuk penjualnya bengkel deket sini dimana" tanpa disuruh Khanza langsung berlari menghampiri Mak Ona, pemilik lapak kuliner ini.
"Gimana?" tanya gue sekembalinya Khanza dari arah dapur.
"Udah kemaleman. Katanya udah pada tutup"
"Trus gimana ini?" Tristan meminta pertimbangan.
"Ya mau gimana lagi. Nggak ada jalan lain. Kita nggak bisa pulang malem ini" respon Khanza. "Tapi gue punya ide"
"Apa?" tanya gue dan Tristan berbarengan.
Khanza menunjuk bangunan tiga lantai di sebelah barat Simpang Lima. "Kan bisa nginep di hotel"
Bentar..bentar.. biar gue runtut kejadiannya. Mobil mogok-Khanza cengengesan-ide nginep di hotel. Hmm... akal bulus.
__ADS_1