
-Khanza-
Ini cowok bener-bener menguji kesabaran gue. Dipesenin beneran coba menu ambigu yang gue sebutin tadi. Sosis jumbo dengan mayo banyak-banyak dan mie seuprit dia definisikan sebagai Mayo Sausage Pasta. Well, I'm speechless.
"Ini apa?" gue mengernyit bingung ketika pesanan makan kita datang.
"Katanya mau makan sosis yang ada mayo sama mienya. Tuh aku pesenin"
"Kan aku maunya sosis jumbo"
"Lha ini juga udah gedhe"
"Jumbo apaan. Diirisin kayak gini. Aku pengen yang utuh. Kalau dimakan nggak abis-abis. Terus mayonya banyak sampe muncrat-muncrat."
"Nanti aku beliin di Indomart. Mau yang mereknya apa? So Nice? Champ? Apa So Good?"
"Apaan sosis-sosisan kayak gitu. Kecil. Nggak kerasa"
"Ya nanti belinya yang banyak biar kerasa."
"Tauk ah. Dasar nggak peka" gerutu gue sebal.
Sengaja banget sok-sokan nggak paham. Nyebelin.
"Aaaa.." Kendra berniat menyuapi gue tapi gue membuang muka.
__ADS_1
"Nggak mau"
"Ya udah aku makan sendiri" Garpu yang sebelumnya ada di depan mulut gue kini masuk ke mulut Kendra. Dengan tanpa beban, pria itu mengunyah hidangan yang sebelumnya dia pesankan untuk gue. Ish, nyebelin. Kenapa gue nggak dirayu terus dibaik-baikin? Gue kan juga laper. Malah makan sendiri.
"Pokoknya aku marah sama ayang"
"Ya. Nanti kalau udah selesai marahnya aku kasih sun"
Loh..loh..loh... pacar lagi marah kok santai banget kayak di pantai. Nggak ada itikad buat bujuk rayu gue gitu?
Gue diem. Muka cemberut dan bibir manyun. Sementara Mas Pacar sama sekali nggak ada rasa terbebani, malah udah hampir habis separuh piring.
"Marahnya udah selesai belum?"
Gue memalingkan muka, "Menurut kamu?"
"Mana ada ceritanya nyelesein marah sendiri. Ayang dong yang harus nyelesein. Kan yang bikin kesel ayang"
"Mau diselesein pake apa?" goda Mas Pacar.
"Tauk ah. Pikir sendiri"
"Biar kuat marahnya, sarapan dulu. Aku pesenin paket breakfast ya"
"Nggak laper"
__ADS_1
"Oh nggak laper. Ya udah. Kalau nggak laper deketan sini coba"
"Mau apa sih?"
Laki-laki itu mencondongkan tubuhnya ke gue dan berkata lirih, "Aku laper. Pengen makan kamu".
Iih.. apaan sih pak tentara. Kan maluu..
Satu tangannya meraih pucuk kepala gue, menarik tubuh gue mendekat hingga bahu kita saling bersentuhan. Bibirnya dia dekatkan ke telinga gue dan kembali berbisik, "Aku sayang kamu... cantikku" diakhiri dengan sebuah kecupan kecil di pipi. Aww.. kaki gue udah ngajak jejingkrakan ini. Muka gue semerah tomat. Dan bibir gue melengkung tanpa bisa dikendalikan. How big your effect for me, Chakra Kendra Dhananjaya. You're dangerous. So damn, dangerous.
"Marahnya udah ya? Hm?"
Curang ini namanya. Memojokkan pertahanan gue dengan sentuhan dan tatapan. Tangannya ada di tengkuk gue, mengelus-elus lembut rambut gue di sana. Sementara matanya menatap gue intens, semakin lama semakin mendekat hingga dahi kita hampir bersentuhan.
Mas... adek lemes.
Gue heran. Jangan-jangan ini orang punya dua kepribadian. At times he is so damn hot like hell, another time he is so cute as fuck.
"Hm? Sayangnya aku.."
Apa ini? Gue dipanggil sayang sambil ditoel-toel dagunya..?
Pak polisi tolong.. ada yang neror hati saya.
Kamera mana kamera, gue pengen melambaikan tangan.
__ADS_1