
Perhatian gue kembali pada alat musik aneh yang disebut Sasando itu. Alat musik tradisional ini berasal dari bahasa Rote 'sasandu', artinya bergetar atau berbunyi. Seperti namanya, alat ini dimainkan dengan cara dipetik. Dawai-dawainya direntangkan dari atas ke bawah dengan fret yang melingkar dibagian tengahnya.
"Kok bentuknya lucu gitu. Kayak tempurung"
"Bukan tempurung. Itu dibuat dari daun lontar. Fungsinya untuk resonansi suara"
"O gitu" gue mengangguk-anguk terpesona. Tidak gue sangka negeri yang membentang dari Sabang sampai Merauke, yang dipisahkan oleh laut dan gunung-gunung ini, menyimpan pesona sosial dan budaya yang begitu menawan. Hasil cipta, rasa, dan krasa manusianya begitu agung dan beraneka rupa.
Tidak berhenti di situ, alunan musik yang syahdu dilanjutkan dengan orkestra bambu tiup. Sekelompok pemain meniup seruling yang terbuat dari bambu besar, menyanyikan lantunan lagu-lagu daerah yang memanjakan telinga. Kendra ikut mengayunkan tubuh gue ke kanan dan ke kiri, seiring gerak tempo melankolis dari nada-nada yang dihasilkan. Dagunya masih menempel di kepala gue, dan dekapan tangannya semakin dalam membawa gue terhanyut ke dalam rengkuhannya.
Senja mulai menampakkan diri di titik peraduannya. Namun baik gue maupun Kendra masih berdiri di tempat yang sama. Seolah-olah tidak ingin waktu bergulir bergulir begitu saja, mengakhiri detik-detik yang membuat kita terhanyut dalam buaiannya.
Pertunjukkan seni tradisional sudah lama usai. Kini yang terdengar hanyalah nyanyian-nyayian lagu indie yang dibawakan band-band musik lokal. Bergantian dengan anak-anak muda yang melantunkan lagu-lagu ciptaan musisi nusantara. Dan di penghujung senja ini, sebuah alunan syahdu diperdedangkan. Sebuah lagu yang membuat gue tenggelam dalam barisan liriknya. Sebuah lagu yang menggambarkan nafas kehidupan, melantunkan kisah perjumpaan dan perpisahan yang akan selalu datang bergantian. Menjadi sebuah siklus yang tak terelakkan.
datang akan pergi
lewat kan berlalu
__ADS_1
ada kan tiada
bertemu akan berpisah
awal kan berakhir
terbit kan tenggelam
pasang akan surut
bertemu akan berpisah
Hey..!
sampai jumpa di lain hari
untuk kita bertemu lagi
__ADS_1
ku relakan dirimu pergi
meskipun..
ku tak siap untuk merindu
ku tak siap tanpa dirimu
ku harap terbaik untukmu
Setiap ada perjumpaan pasti ada perpisahan. Demikian pula kisah gue dan Kendra. Entah kita akan berpisah di hari-hari yang sebentar lagi akan datang ataukah jauh ke depan ketika rambut sudah beruban. Tapi gue tidak sanggup membiarkan lengan yang memeluk gue begitu erat ini lepas begitu saja. Gue tidak sanggup menjalani hari-hari tanpa kehadirannya. Dan gue tidak rela menjauh dari sisinya.
Gue tau persis resiko apa yang harus gue jalani bersama pria ini. Pria yang akan selalu menjawab panggilan negaranya lebih dulu. Pria yang akan membuat gue menanti berhari-hari, dalam kebimbangan dan rasa was-was. Dia yang berselempang amanah, memanggul kewajiban di pundaknya. Tiada kenal siang dan malam, yang ada hanyalah tugas yang harus dijalankan.
Bagaimana ini..? Belum saja sehari, tapi hati ini sudah berteriak tak ingin pergi.
__ADS_1