
Setelah sedikit demi sedikit mendengar keluh kesah, gue mengerti bahwa mereka sudah berada di ujung rasa lelah. Bagaimana tidak? Tempat tinggal mereka diracuni. Tanah mereka disakiti. Dan lingkungan mereka dicemari. Dengan rakusnya orang-orang berdasi itu menjadikan rumah mereka ladang penghasil uang, dikeruk tanpa henti lalu dibuang setelah usang. Perijinan tambang seolah dibiarkan berkeliaran.
Makhluk-makhluk haus uang itu membuat lubang-lubang besar yang dalam. Setelah mengeruk habis apa yang ada di dalamnya, mereka tinggalkan begitu saja. Hampir di setiap sudut tanah banyak sekali ditemukan sisa-sisa lubang menganga yang berbahaya. Hewan-hewan yang melintas sering terperosok, hingga kelaparan dan mati di dalam. Bahkan manusia pun terkadang terpeleset jatuh ke dalam sisa-sisa penggalian yang tidak direstorasi. Belum lagi hutan-hutan yang ditebangi, atau malah dibakar untuk perluasan lahan. Asapnya mengepul di udara berhari-hari, membunuh perlahan setiap makhluk di sekitarnya.
Ijin penggalian semakin lama semakin meluas, mejarah tempat orang-orang bercocok tanam atau sekedar menggembalakan ternak mereka. Sumber air terpolusi, limbah dimana-mana, penyakitpun merajalela. Satu demi satu dari mereka tumbang. Untuk makan sehari-hari saja serba pas-pasan, ditambah lagi wabah penyakit yang datang menerjang. Jika sudah seperti ini siapa yang disalahkan? Siapa yang harus bertanggungjawab atas penderitaan rakyat kecil yang bahkan suaranya tidak didengar?
__ADS_1
Hati gue sakit mendengar mereka menyalahkan para aparat yang seolah-olah menghalang-halangi mereka. Iya, cacian demi makian itu ditumpahkan untuk para polisi dan tentara yang ditugaskan menjaga ketertiban di sana. Padahal mereka hanya menjalankan tugas dari atasan. Berdiam diri menghadapi amukan masa. Menolak pun tak bisa. Rela tubuhnya dijadikan perisai para elite politik atas nama negara. Andaikan saja orang-orang ini mengerti, musuh mereka yang sebenarnya bukanlah orang-orang berseragam hijau dan cokelat. Namun segelintir orang yang duduk berleha-leha di atas sana.
Gerimis mulai datang, disusul suara ledakan dari arah keramaian. Semua orang tercengang, bertanya-tanya apa gerangan yang sedang terjadi?
Gerimis masih turun, diiringi bunyi petasan dan tembakan peringatan peluru hampa yang ditembakkan aparat penjaga ketertiban. Salah satu tim medis menarik tangan gue agar segera menangani korban-korban yang baru saja dibawa masuk. Badan gue memang ada di sana, tapi pikiran gue melanglang jauh ke luar, mengkhawatirkan kondisi lelaki yang sedang mengemban amanah atas nama negara.
__ADS_1
Berulang kali gue menarik nafas, menenangkan diri dari pikiran-pikiran buruk yang menghantui. Konsentrasi gue buyar. Apalagi setelah melihat korban dari pihak aparat yang semakin lama semakin bertambah. Hujan pun turun mengiringi suara teriakan para demontran dari mesin-mesin pengeras suara. Gue benar-benar sudah tidak bisa menahan diri. Akhirnya gue berlari keluar, tidak peduli deras hujan yang mengguyur. Yang gue inginkan hanya satu, memastikan Kendra baik-baik saja.
Pandangan gue kabur karena derasnya air yang mengguyur turun. Jauh di depan sana, dapat gue lihat kerusuhan yang semakin menjadi-jadi. Aksi unjuk rasa telah berubah menjadi kebrutalan dan anarki, menyerang para penjaga garis depan dengan batu dan senjata tajam. Gue melihat beberapa orang berseragam hijau berlari menembus kerumunan, menyelamatkan salah satu aparat yang dihujam dengan batu dan botol-botol kaca. Oh tidak, salah satu di antara orang itu adalah Kendra. Dia menunduk menolong aparat yang terjatuh karena aksi massa, membantunya berdiri dan membopongnya menjauh. Tapi naas, sebuah hantaman batu mengenai pundaknya. Diiringi lemparan beling kaca yang menancap di pelipisnya. Gue menjerit, ingin rasanya gue berlari ke sana, namun tubuh gue ditarik oleh seseorang yang terus meneriaki gue untuk sadar. Gue berontak, namun sangat sulit melepaskan diri sari cengkeraman bodyguard terbaik pilihan Papa. Entah apa yang terus diteriakkan Mbak Egi di kuping gue, karena rasanya dunia gue berhenti melihat lelaki yang begitu gue cintai, kini dibopong tak berdaya dengan kepala berdarah-darah.
__ADS_1