Cakrawala

Cakrawala
Episode 70


__ADS_3

-Kendra-


Gue salut sama bokapnya Khanza. Dia bukan tipikal orang tua yang angkuh seperti di sinetron-sinetron tontonannya ibuk. Nggak ada acara nyiram air, nyebar duit, atau maki-maki di depan umum, tapi beliau memilih cara yang halus dan elegan. Ya, gue paham secara nggak langsung bokapnya Khanza menolak hubungan gue sama anaknya. Dan gue juga sadar posisi gue saat ini tuh bagai punguk merindukan bulan. Gue siapa, Khanza siapa. Pantes kalo bokapnya Khanza mencari yang lebih sejajar untuk bersanding dengan putrinya.


Kisah negeri dongeng seperti Cinderella yang bertemu sang Pangeran kemudian hidup bahagia di istana, atau Malin Kundang yang menyelamatkan seorang saudagar kaya kemudian dinikahkan dengan putrinya, hanyalah sebuah fatamorgana klasik bisikan bunga tidur di kala malam. Pada kenyataannya, hampir setiap orang pasti menginginkan pasangan hidup yang sepadan. Entah itu sepadan jabatannya, hartanya, pendidikannya, maupun latar belakang keluarganya. Kalau orang Jawa bilang, bibit, bebet, dan bobot.


Senja semakin menganga. Kilau emasnya berpendar dari satu titik, tempat bumi dan langit bersua. Seperti biasa, gue menikmati senja dari balik jendela kamar, memainkan bola kristal kecil ini dengan satu tangan. Bola kristal yang entah bagaimana ceritanya menjadi sangat berarti di hidup gue.


Tak ada yang gue ingat tentang bola kristal ini. Yang jelas, benda ini sudah menjadi barang favorit gue sejak kecil. Benda yang menjadi pelipur ketika lara, dan perajut mimpi ketika lelah.


Tangan gue terangkat, mencoba menangkap bayangan senja dan mengurungnya dalam pantulan kristal bening di tangan gue.


__ADS_1


Cantik...


Buat gue senja selalu cantik. Kecantikan yang dapat meluluhkan hati siapapun yang memandangnya. Seperti halnya dia...


Dia yang selalu cantik tanpa harus berusaha. Dia yang selalu cantik meski dalam nuansa yang biasa. Dia yang selalu cantik tanpa pura-pura.


Khanza. Satu nama seperti senja. Begitu memikat namun sulit didapat. Kenapa jarak diantara kami seperti gunung dan awan.. Gunung yang menjulang tinggi dan awan yang merendah, namun tak pernah bisa benar-benar berjumpa.


"Baaaa..!" gue dikagetkan oleh sosok yang tiba-tiba mucul di hadapan jendela kamar gue. Sosok yang baru saja menjarah hati dan pikiran gue.


Khanza menunduk sebentar, mengambil sesuatu yang baru saja terjatuh dari tangan gue. Bola kristal... Untung saja tidak pecah.


"Sini" gue mencoba mengambil benda bening itu di tangan Khanza, tapi dia menolak, "Eits.. nggak boleh." Matanya beralih ke bola transparan yang dia main-mainkan di telapak tangannya, "Ini yang kamu bawa waktu ngajak aku kuda-kudaan itu kan? Hm.. masih aja nyimpen barang dari cinta pertama" keluhnya.

__ADS_1


"Cinta pertama apa sih? Aku udah punya itu dari dulu" jelas gue menghindarkan diri dari perdebatan.


"Jadi, bukan dari cewek nih?"


"Ya..ya.. nggak tau. Aku lupa"


"Kok jawabnya ragu-ragu sih!" bibir gadis itu mengerucut.


"Ya karena aku emang lupa"


"Ya udah kalau gitu. Ini buat aku aja ya? ya? ya?"


Huh, kalau sudah berlaga imut begini apa daya budakmu ini Ratuku?

__ADS_1



__ADS_2