Cakrawala

Cakrawala
Episode 97


__ADS_3

Gue segera beranjak dari sisi tempat tidur. Namun getaran terasa semakin dahsyat, merobohkan almari yang bersandar di dinding sebelah kiri. Hampir saja gue telat menghindar, dan di saat yang sama, pintu kamar gue di dobrak dari luar. Tanpa menoleh pun gue tahu lengan siapa yang menarik gue keluar dari tempat itu.


Gempa berkekuatan 9,2 skala Richter itu berlangsung kurang dari lima belas detik. Memporak-porandakan seluruh bangunan di sekitar. Genteng-genteng jatuh berserakan, perabotan roboh, dinding-dinding retak, dan sambungan komunikasi terputus dalam sekejap. Untung saja tidak ada korban jiwa yang terjadi di lingkungan barak. Hanya beberapa orang yang mendapat luka ringan akibat menghindari reruntuhan. Para pria berseragam hijau yang sudah terlatih dan berpengalaman itu tentu tau bagaimana menyikapi keadaan bahaya.


Tapi tidak bagi masyarakat awam di luar sana. Beberapa menit setelah kejadian, lima rombongan pasukan disiapkan untuk mengevakuasi masyarakat setempat. Tim kesehatan pun ikut terjun ke lapangan. Di pagi buta itu, semua sibuk memberi pertolongan.


"Ken.." gue menarik ujung lengan pacar gue, "Hati-hati, nggak usah sok-sokan jadi pahlawan. Bantu semampunya aja" pesen gue. Entah mengapa rasanya gue nggak rela melepas Kendra pergi melaksanakan tugasnya.


Lelaki itu tersenyum, "Kamu udah selesai ngambeknya?"


"Belum. Cium aku kalau udah pulang nanti, baru aku berhenti ngambek."


Lagi-lagi tangan Kendra mengacak-acak rambut gue, "Kamu juga hati-hati. Jangan bandel. Aku sayang kamu." Kalimat Kendra diakhiri dengan sebuah kecupan kecil di kening. Pria itu kemudian melesat pergi bergabung bersama pasukannya.

__ADS_1


Keadaan di luar ternyata cukup memprihatinkan. Struktur rumah di wilayah ini agak berbeda dengan struktur bangunan di Jawa. Pondasinya kurang kuat menahan goncangan. Ditambah lagi minimnya pengetahuan masyarakat akan akan aksi tanggap bencana.


Sejak tadi gue bersama-sama tim kesehatan mondar-mandir tanpa jeda mengurusi para korban yang terluka. Banyak yang mengalami luka berat, beberapa bahkan tidak bisa diselamatkan. Terutama penduduk-penduduk yang tinggal di dekat area bekas tambang. Rumah mereka ambruk tertutup longsor. Rupanya tanahnya tidak kuat menahan goncangan setelah sekian lama dikeruk monster pertambangan. Belum lagi beberapa gempa susulan yang disambut jerit histeris warga sekitar.


Sang mentari masih enggan menampakkan sinarnya ketika terdengar teriakan orang-orang dari arah tambang. Sepertinya malam tadi mereka kembali lembur menyelesaikan proyek yang tertunda. Dengan langkah tergopoh-gopoh melewati sisa reruntuhan mereka berteriak, "Api.. Api.. Kebakaran di tambang.. Tolong"


Tentu saja, sebagai pelayan masyarakat, para anggota TNI segera sigap menyikapi. Satu pasukan disiapkan untuk segera terjun ke pertambangan. Dan diantara pasukan itu, Kendra gue ikut di dalamnya.


"Kamu kenapa sih?" dia tidak habis pikir dengan sikap gue saat ini. Apa gue terlalu melankolis karena dia bilang akan dikirim ke Kongo? Sehingga gue terlalu khawatir jika tidak melihatnya sebentar saja.


"Bahaya.. Kamu jangan kesana"


Suara klakson terdengar, memberikan sinyal kepada Kendra untuk segera bergabung bersama teman-temannya. Mobil yang mengangkut mereka akan segera berangkat ke lokasi.

__ADS_1


"Gimana bisa aku ninggalin mereka? Aku komandannya."


"Tapi-"


"Sshhh, aku bakalan baik-baik aja. Udah biasa dapet tugas kayak gini. Kamu nggak usah khawatir. Doain aja semoga aku cepet pulang."


Dengan satu senyuman, Kendra membisikkan kata 'aku sayang kamu' sebelum melesat pergi meninggalkan gue yang hanya bisa menatap kosong punggung lebarnya hingga hilang tak terlihat.


Perasaan apa ini? Kenapa hari ini rasanya sangat tidak biasa.


Ternyata feeling gue bener. Sesuatu yang sangat mengerikan akan terjadi. Tidak gue sangka, itu adalah kali terakhir gue melihat senyum Kendra.


__ADS_1


__ADS_2