Cakrawala

Cakrawala
Episode 80


__ADS_3

Sarapan gue udah mau habis. Dari tadi Mas Pacar yang nyuapin gue. Trus gantian dia yang gue suapin. Makan sepiring berdua dengan menu ala kadarnya nggak pernah senikmat ini. Kadang gue iseng, minta disuapin pake tangan lalu jarinya gue emut-emut nggak gue lepasin. Kalau enggak, gue pura-pura mau nyuapin si ganteng tapi waktu dia buka mulut malah gue makan sendiri. Kalau udah gitu pasti gue diuyel-uyel, pipi dicubit, atau rambut diberantakin.


Lagi asyik-asyiknya bercengkerama, terdengar suara ketukan pintu. Ups.. pakaian gue terlalu tidak senonoh untuk diumbar-umbar. ***** ngintip, bahu nggak ditutupin.



Untung ada kemeja Mamas nangkring di senderan kursi. Settt, langsung gue ambil trus gue pakai.




Setelah situasi aman terkendali baru Mas ganteng bukain pintu.


"Ngapain lo" Suara Mas ganteng nggak santai banget sih.. Setelah gue intip, ooh pantesan.. ada Mas Mantan.


"Mau ngambil power bank boss. Bentar aja."


"Ya udah sono. Cepet."


Mas mantan buru-buru ngacir ke mejanya. Mengobrak-abrik barang-barangnya di dalam laci, sebelum menemukan benda persegi panjang berwarna hitam yang kini berada ditangannya.

__ADS_1


"Udah Bos, makasih ya Bos"


"Eits tunggu dulu.." Mas pacar tiba-tiba nyetop, "Elo mau keluar kan?"


Yang ditanya cuma ngangguk-angguk nggak paham.


"Ya udah itu bawain sekalian piring kotor sama gelas kotornya ke dapur."


"Eh, gimana bos?"


"Buruan nggak!" Kendra menaikkan satu alisnya.


"Iya..iya bos.."


"Mas Tristan jangan yang itu.. itu masih dipake. Gelas yang sebelahnya. Nah itu.." Ups, gue tadi manggilnya apa? Mas Tristan? Oh no.. pantesan si Mamas langsung melotot gitu matanya.


"Eh salah.. kok pake Mas sih. Hehe.." gue menutup mulut sambil cengar-cengir berharap mendapat maaf dari Mamas. Tapi cowok yang lagi mungut gelas dan piring kotor di depan gue malah ngomong, "Mampus lo.." tanpa suara, hanya dengan gerakan bibirnya saja. Sialan emang. Dasar mantan jahanam.


Setelah si tiang listrik berlalu pergi, saatnya gue mengais-ngais maaf dari Mamas, "Yang.. maaf.. tadi aku keceplosan. Beneran deh. Udah kebiasaan soalnya manggil Mas. Jadi kayak spontan aja gitu. Nggak maksud gimana-gimana. Ayang marah ya?"


Gue meneliti perubahan ekspresi di wajah Kendra. Dia hanya mendengus pelan kemudian berkata, "Ya udah nggak pa pa. Kalau udah kebiasaan tetep manggil Mas juga nggak pa pa. Asalkan kalian jangan deket-deket lagi. Jarak minimal satu meter. Nggak boleh kurang dari itu"

__ADS_1


"Deket-deket juga aku ogah. Males banget. Mending deketin ayang. Nemplok-nemplok, trus icip-icip. Lebih asyik." jawab gue seraya bergelayutan manja di otot bisepnya.


"Oh ya? Icip-icip apa?" eh, dia nantang.


"Em.. banyak.. ini" gue nunjuk bibirnya, "Trus ini" gue nunjuk lehernya, "Ini" gue nunjuk otot-otot absnya, "dan kesayangan gue di sini" langsung tangan gue masuk ke dalam celananya.


"Duh Sa.. geli.. kamu tuh nggak pake ancang-ancang main terobos aja.. adududuh..ahh"


"Aku keluarin ya yang?"


Mas Pacar hanya mengangguk pelan di sela-sela perjuangannya menggigit bibir agar suara desahannya tidak keluar.


Mendapat lampu hijau, tangan gue langsung beraksi menurunkan restleting di celana Kendra. Ugh, tonjolannya gedhe banget. Menggembung gitu dari balik sempak. Pasti penuh ntar mulut gue. Nggak sabar pengen kulum-kulum.


Baru aja gue mau nunduk, suara langkah kaki orang berlari disusul dengan pintu kamar kita yang dibuka tanpa permisi menyebabkan junior Kendra harus buru-buru dimasukkan kembali ke dalam celananya. Dari balik pintu, muncullah Mas Mantan yang masih terengah-engah karena berlari.


Belum sempat pacar gue mencak-mencak karena acara kulum-**** kita terganggu, Mas Mantan melaporkan satu hal yang membuat kita semua terdiam.


"Bos, gawat..!"


 

__ADS_1


 



__ADS_2