
(Beberapa bulan sebelumnya)
Rumah Sakit dr. Soedjono, rumah sakit tingkat II yang terletak di Kota Magelang, Jawa Tengah. Salah satu rumah sakit milik TNI yang berada di bawah kendali Kesehatan Daerah Militer IV/Diponegoro. Terlihat seorang pria berusia lima puluh tahun berjalan tergopoh-gopoh diiringi tiga ajudannya. Mayjen Bakti Wiraguna, menyempatkan diri di sela-sela kesibukannya terbang dari Jakarta ke Magelang hanya untuk melihat perkembangan seorang Perwira Tinggi yang beberapa waktu lalu terdengar kabar telah selamat dari hentakan bencana. Ini kali keduanya beliau datang menjenguk setelah Letnan Kolonel Chakra Kendra Dhananjaya dirujuk ke rumah sakit ini.
"Jadi, bagaimana perkembangannya?" Jenderal besar itu duduk di hadapan dokter Alina, seorang pskiatris yang menangani kasus Kendra.
"Kita masih berusaha, Pak"
"Kendra masih belum mau berbicara?"
"Kasus pasca bencana yang hampir merengut nyawa seperti ini susah untuk disembuhkan. Membutuhkan banyak waktu untuk pendekatan ke pasien. Dan lagi, kita tidak bisa memaksa pasien jika pasien itu tidak punya keberanian untuk melawan sendiri memori buruknya."
"Sudah berapa bulan ini? Apa perlu saya saya suruh Kesdam ganti dokternya di sini?" ancam sang Jenderal dengan mata berapi-api. Susah memang melayani orang militer. Emosi pasti dibawa-bawa.
"Maaf Pak. Kami akan melakukan yang lebih baik"
"Harus. Besok waktu saya kembali harus sudah ada perkembangan"
"Iya Pak, kami mengerti"
Dari ruangan sang dokter, Mayjen Bakti Wiraguna berjalan menuju kamar nomor 204. Seorang pemuda duduk di atas ranjang bersprei putih bersih. Manik matanya menatap jauh ke jendela menikmati warna langit yang berubah keemasan di luar sana. Ada karpet tergelar di lantai dan beberapa gelas serta sisa makanan ringan tergeletak di atasnya. Namun di ruangan itu hanya ada Kendra seorang. Mungkin keluarga atau siapapun itu yang menemani Kendra sedang keluar barang sebentar.
"Gimana keadaan kamu sekarang?" Tanya Pak Mayjen tanpa basa basi.
Kendra hanya diam. Matanya kosong menerawang jauh ke luar jendela.
__ADS_1
"Kamu belum mau ngomong?"
Masih tidak ada jawaban.
"Saya ini atasan kamu!"
Percuma marah-marah, lelaki itu tak bergeming dari tempatnya.
"Coba lihat ini!" Pak Mayjen menyodorkan foto putri semata wayangnya ke depan wajah lelaki itu, "Ini Khanza. Anak saya. Kamu inget?"
Atensi Kendra tertuju pada sosok wanita di foto itu, namun tidak ada ekspresi terbaca di wajahnya.
"Kamu nggak inget? Yang kamu mohon-mohon ke saya buat merestui hubungan kamu sama anak ini. Inget kan?"
Tidak ada jawaban.
Jenderal besar itu mengerang frustasi, "Pokoknya kamu harus sembuh dan ambil tanggung jawab sama anak saya. Lain kali saya kesini, awas kalau masih belum mau angkat bicara" ucapnya sembari pergi meninggalkan foto Khanza di pangkuan Kendra.
Beberapa minggu setelahnya, Pak Mayjen kembali menjenguk Perwira Tinggi yang kondisinya masih sama saja. Tapi kali ini, tidak ada amarah yang meluap-luap dari bibirnya. Mungkin dia sadar, emosi bukanlah solusi dari permasalahan. Bagaimana pun dia tetap seorang ayah yang kini sedang berjuang untuk kebahagiaan putrinya. Apapun caranya harus dicoba.
"Le.. thole... kamu kapan waras e tho le... Anak wedhokku yo mbok pelet opo. Nganti ra gelem sakliyane kowe. Duh biyung.. aku kudu piye. Anak wedhok siji-sijine, jian tak eman-eman tenan, tapi kok yo ra kodal dikandani. Geleme mung ro sampeyan. Mbok yo lek mari to le.. (Nak, kapan sih kamu sembuhnya.. Anak perempuan ku kamu pelet apa sampai nggak mau sama orang lain selain kamu. Duh ibuk, aku harus gimana.. Anak gadis satu-satunya, yang bener-bener aku jaga, nggak mau dibilangin. Maunya cuma sama kamu, nak. Cepetan sembuh to nak)" begitulah versi drama Bapak Mayor Jendral. Jenderal Besar itu kini memohon-memohon di depan calon menantu yang pernah ditolaknya. Hidup memang kadang selucu itu, terus berputar seperti roda. Dulu, dia yang bersikukuh tidak mau menerima, sekarang dia yang mengais-ngais mencari iba.
Namun tanggapan Kendra masih tetap sama. Diam tanpa kata. Perjuangan Pak Mayjen tidak berhenti di situ. Lelaki itu bahkan mendatangkan tim dokter khusus dari Singapura dan beberapa ahli agama untuk memberikan motivasi secara spiritual, serta selalu setia meluangkan waktu untuk menjenguk sang tentara.
"Maem sing akeh yo le ben ndang mari. (Makan yang banyak ya nak biar cepet sembuh)" ujar Pak Mayjen sambil menyuapi lelaki muda di depannya. "Kok ra lek gelem ngomong ki sariawan po piye? Ngasi judeg aku ngrungokke anak wedok ngomang ngomongke sampeyan terus. (Kok nggak mau nomong kamu itu sariawan apa gimana? Sampai pusing aku dengerin anak perempuanku ngomongin kamu terus)."
__ADS_1
Selesai menyuapi, lelaki tua itu mengambil kotak kue yang ia bawa dari rumah, "Ki lho gaweane calon bojomu. Roti brownies tapi rupane ireng tenan. Jebul koyo awakmu. Nyoh dirasake, nek ra enak ojo dilepeh. (Ini lho buatannya calon istrimu. Roti brownies tapi warnanya item banget. Kayak kamu ternyata. Nih dirasain, kalau nggak enak nggak usah dilepeh"
Sudah tentu rasanya tidak karuan, tapi ajaibnya Kendra melahapnya habis tanpa protes. "Tak kirimi to videone anakku ameh wae mbakar pawon gara-gara gawe roti iki. (Kamu saya kirimi kan video anak saya yang hampir aja ngebakar dapur gara-gara bikin roti ini)" cerita sang Jenderal. Beliau memang secara rutin mengirim foto dan video Khanza tanpa sepengetahuan anak perempuannya. Selama Kendra belum sembuh, pria berpangkat bintang dua itu masih bersikeras tidak mau memberitahu putri semata wayangnya.
"Sampun ket wau, Ndan? (Sudah dari tadi, Ndan?)" suara yang sudah tidak asing lagi di telinga sang Jenderal terdengar dari balik pintu. Ayah Kendra berjalan masuk lalu bersalaman dengan mantan majikannya dulu. Siapa sangka, ayah dari lelaki yang sangat dicintai putrinya itu adalah sopir pribadinya dulu.
"Iyo, Kang. Iki lagi ndulang anak lanang. (Iya, Kang. Ini lagi nyuapin anak lanang)"
"Halah-halah... Wes joko ngono kok yo ndadak didulang. (Halah halah... sudah perjaka kayak gitu kok ya disuapin)"
Usut punya usut, ayah Khanza tidak menduga bahwa lelaki pilihan putrinya itu adalah anak dari orang yang paling dia segani karena hutang budi. Pada waktu terjadi kerusuhan Ambon yang merengut nyawa istrinya bertahun-tahun yang lalu, jika bukan karena keberanian Ayah Kendra yang membawa lari bayi kecilnya sembunyi ke dalam hutan, mungkin sekarang dia tidak bisa melihat Khanza tumbuh besar. Satu jasa yang akan selalu dia ingat sepanjang masa.
"Anak lanang dadi prajurit tenan to (Anak lanang jadi tentara juga ya)" ujarnya.
Mantan sopir itu hanya tersenyum, "Berkat dongane njenengan, Ndan. (Berkat doa Anda, Ndan)"
Sebersit ingatan terlintas di benak pria berseragam hijau itu. Chakra, nama depan Kendra itu merupakan pemberian darinya. Nama yang memiliki arti senjata, prajurit, dan pelindung. Kini tumbuh menjadi sosok yang benar-benar sesuai namanya. Bagaimana dia lupa akan bayi mungil yang dia gendong ke sana kemari. Waktu Kendra lahir, sudah empat tahun sang Jenderal menikah namun belum juga dikaruniai anak. Kehadiran bayi kecil itu memberikan semangat tersendiri baginya. Hingga sembilan bulan kemudian, istrinya akhirnya hamil dan melahirkan putri cantik semata wayangnya, yang diberi nama Khanza Wala Palesa.
Ayah Kendra bukan hanya seorang sopir, namun juga tempat sang Jenderal berkeluh kesah. Pemahaman agama dan kebijaksaan yang dimilikinya menjadikan Jenderal Besar itu suka meminta saran dan masukan. Bahkan, pernah pada suatu hari ketika putrinya lahir, Pak Mayjen meminta Ayah Kendra memberikannya usualan nama.
"Wala?"
"Iya Ndan, dari bahasa Arab. Artinya loyalitas dan cinta. Seperti Komandan yang sangat loyal sama negara, semoga putri Komandan bisa loyal, berbakti, dan penuh cinta sama orang tuanya."
Begitulah percakapan mereka dua puluh tujuh tahun silam. Siapa sangka bayi laki-laki yang lahir di kala mentari bangun dan bayi perempuan yang lahir di kala mentari pulang ke peraduannya itu sudah ditakdirkan untuk bertemu satu sama lain. Sang lelaki adalah putra fajar, lahir untuk menyongsong hari, dan sang wanita adalah putri senja, memberikan keteduhan dan ketenangan di penhujung hari. Dua pribadi yang berbeda, dari dua latar belakang yang berbeda pula, namun tercipta untuk saling melengkapi. Ketika langit dan bumi bersua, disitulah ada CAKRAWALA.
__ADS_1
"Saya pulang dulu ya le" pamit sang Jenderal pada lelaki yang tidak juga membuka suaranya. "O iya, saya nemu ini di kamar Khanza. Apa sih ini, dikelonin terus sambil ditangisin. Ada hubungannya sama kamu ya?" lelaki yang mulai termakan usia itu meletakkan sebuah bola kristal yang dia ambil dari kamar putrinya di pangkuan Kendra. "Wes ya, lek mari. Mengko ndang tak rabike ro bocah wadon ku (Sudah ya, cepat sembuh. Nanti tak nikahin sama anak gadisku)."