
Setelah sarapan pagi ini selesai dimasak, gue membantu Bibik menghidangkannya di meja makan. Sejak dua bulan lalu Papa pensiun. Jadilah setiap pagi dia nongkrong di depan meja makan ditemani secangkir kopi dan surat kabar.
"Papa sayaaang" gue berteriak dari belakang.
"Bikin ulah apa lagi kamu di dapur? Gosongin panci? Numpahin sayur? Atau mau bikin rumah Papa kebakaran lagi?"
Gue cengar-cengir. Iya emang, tiap pagi pasti terdengar suara keributan dari arah dapur. Nggak usah ditanya lagi siapa biang keroknya. Satpam depan kompleks juga udah hapal.
"Namanya juga proses belajar Papa. Kan biar bisa jadi istri idaman."
Papa cuma geleng-geleng kepala.
"Eh, Papa kok minum kopiya habis dua cangkir?" Gue menunjuk satu cangkir yang sudah kosong di dekat vas bunga, dan satu lagi yang masih sisa separuhnya di tangan Papa.
"Kan Khanza udah bilang satu hari cuma boleh satu cangkir aja" protes gue mengambil alih cangkir putih yang sudah berada di depan mulut Papa. "Nggak baik Papa, nanti kalau Papa sakit yang nikahin Khanza siapa? Nggak mau kalau diwakilin orang. Maunya Papa aja"
"Udah mau nikah?"
"Nunggu Kendra pulang dulu"
"Khanza.."
"Stop Papa. Ini masih pagi. Khanza nggak mau ribut-ribut sama Papa. Kata Kendra, Khanza nggak boleh berantem sama Papa. Jadi Papa nurut aja"
"Kok jadi Papa yang nurut?"
"Papa nggak usah protes. Ini cangkir kopi aku sita. Karena hari ini Papa udah minum dua berarti besok Papa nggak boleh minum lagi. Titik."
"Itu kan baru habis setengah. Berarti besok masih boleh setengah dong"
"Enggak. Peraturan tetep peraturan. Papa minum vitamin aja. Sama makan sayur yang banyak. Udah capek-capek Khanza bikinin harus dihabisin"
__ADS_1
"Yang bikin kan bibik, kamu tinggal cemplang cemplung bahannya doang"
"Tapi kan ada hasil kerja keras Khanza di situ"
Gue melihat Papa memijat keningnya pelan sebelum melipat koran ditangannya. Tanpa menunggu lama, gue ambilkan piring, nasi, sayur, dan lauk komplik kemudian meletakkannya di hadapan si Papa.
"Udah. Papa makan ini aja"
"Senengnya diladenin anak wedhok." ujar Papa seraya mengambil sendok di sebelah kanannya.
"Harus dong. Kendra bilang jadi anak harus berbakti."
"Kendra lagi Kendra lagi" keluh Papa lirih. "O iya. Kapan itu acara tujuh bulanannya Regina?"tanya laki-laki itu mengalihkan topik pembicaraan.
"Hari ini Papa. Nanti abis mandi Khanza langsung capcus bantu-bantu di rumahnya Mbak Egi."
"Perasaan baru sekitar tiga bulan lalu ya nikahnya. Udah tujuh bulan aja yang digembol"
Nggak ada angin nggak ada hujan tiba-tiba Papa nanya, "Kapan ya Papa bisa gendong cucu."
"Uhuk...uhuk..."
"Ngapain batuk-batuk gitu?"
"Udah Papa kalau makan, makan aja. Nggak usah sambil ngomong"
"Ya kan Papa ini udah semakin tua. Pensiunan lagi. Bosen di rumah. Kalau ada cucu kan bisa buat hiburan."
"Dikata anak Khanza komedi putar? Buat hiburan mah di pasar malem banyak tuh Pa. Ada bom-bom car, bianglala, disco pang-pang, sama tong setan."
"Kamu sampai kapan mau single terus kayak gini?"
__ADS_1
"Sampe Kendra pulang"
Selesai gue bilang begitu, situasi menjadi sedikit serius. Papa sampai meletakkan sendoknya dan menatap gue dalam.
"Sa.. ini udah enam bulan."
Gue menunduk, tau kemana arah pembicaraan ini.
"Kita harus realistis. Bagaimana pun hidup harus tetap berjalan."
"Tapi Papa-" suara gue bergetar.
"Iya, Papa tahu. Tapi coba kalau kamu jadi Kendra, apa iya dia tega liat kamu begini terus?"
Tidak ada jawaban keluar dari mulut gue.
"Nduk.." tangan Papa mengenggam tangan gue, "Sudah saatnya kamu melihat kedepan. Yang udah lalu biarkan berlalu. Jangan menyiksa diri kamu sendiri."
Gue bisa denger suara Papa mengambil nafas sebelum dia melanjutkan, "Nanti malam ada yang mau dateng ke sini.."
Gue diem. Mempersiapkan diri mendengar hal apapun itu yang akan disampaikan Papa.
"Dia mau ngelamar kamu."
"Pa-"
"Ssttt... dengerin Papa dulu. Papa nggak akan maksa-maksa kamu lagi. Nanti temuin aja dulu. Kalau kamu nggak cocok anggep aja buat silaturahmi."
Papa berdiri dari kursinya. Tangannya membelai rambut gue pelan dan berkata, "Sudah waktunya kamu menghadapi kenyataan, nduk." Setelah itu dia meninggalkan gue yang sedang berusaha sekuat tenaga menahan air mata.
Ken.. aku harus gimana? Apa bener ini saatnya aku merelakan kamu?
__ADS_1