
"Nih saya buka satu-satu ya" Dengan gerakan sensual gue mengekspos apa yang ada di balik baju gue, bikin jakun mas-mas gula jawa di depan gue naik turun. "Tuh kan nggak ada."
"Masih nggak percaya? Baik, saya buka yang bawah ya pak" Dengan sekali tarik, rok gue udah jatuh, menyisakan tubuh polos yang hanya berbalut bra dan celana dalam. Mukanya pak tentara langsung merah. Gemes gue. Ya, makin getol lah gue ngerjainnya.
"Pak.. bapak dengerin saya bicara nggak sih" gue menggerak-gerakkan tangan di depan matanya.
"Eh iya, dengerin kok"
"Bapak tentara masih nggak percaya? Masih ngira saya nyembunyiin sesuatu di dalam sini? Ya udah kalau nggak percaya cek aja sendiri"
"Eh? Apa?"
"Mana tangannya"
Langsung aja tangan gedhenya gue tarik, gue masukin ke dalam bra gue. Aduh, pas banget gini sih ukuran gue di tangan masnya. Kan jadi enak.
Baru aja mau ngerasain yang lebih enak, eh ada yang masuk tanpa permisi, "Lapor Pak... eh Pak, maaf menganggu. Saya undur diri"
__ADS_1
Untung si mamas gula jawa gercep nutupin tubuh setengah telanjang gue pake jaket dan badannya. Ugh, gentlemen banget sih. Suka gue yang model ginian.
"Pak tentara ganteng, kok diem. Diterusin nggak?"
Gue mendesah di telinganya. Meniupkan hembusan nafas panas di area lehernya. UNtuk beberapa saat, dia tampak ragu-ragu, tapi kemudian dengan sekali tarik bra gue diangkat ke atas, mulutnya ditempelin di pucuk gunung gue dan disedot-sedot sekuat tenaga.
Ah, mulutnya enak banget sih. Sedotannya kuat. Lidahnya juga pinter banget mainin ** gue. Nggak percuma dia nontonin Jejepangan. Gue sampai remesin rambutnya saking kenceng dia nyusu ke gue. Aduh, gue basah.
"Saya udah basah nih pak. Mau cek yang bawah enggak?" tawar gue dengan gaya sensual.
Dia mendongak, "Beneran?"
"Ck, percuma pangkat saya Letnan Kolonel kalau nggak bisa ngadepin Papa kamu"
"Waah, cool banget sih. Suka deh sama pak tentara"
Tok tok.
__ADS_1
"Lapor Letkol, Mayor Tristan ingin menghadap." suara teriakan salah satu anak buahnya dari balik pintu.
Si mas-mas gula jawa mengerang frustasi, sebelum nutupin tubuh gue pake jaketnya, lalu melangkah keluar.
"Ada apa? Oh, ini bu dokter yang kamu jemput? Kok dibawa kesini, bukanya langsung ke markas?"
"Lapor Letkol, yang disamping saya ini bukan ibu dokter, tapi bodyguard yang menemani bu dokter. Saya mendapat laporan bahwa bu dokter ada di sini."
"Ada di sini?"
"Siap. Iya, Letkol. Dokter Khanza Wala Palesa. Putri dari Mayor Jenderal Bakti Wiraguna."
"Kha..Khansa. Putrinya pak Mayor Jenderal?"
Dan di saat yang sangat tepat sekali gue muncul dari balik pintu, masih memakai jaket mamas gula jawa yang hanya nutupin sampai bagian atas lutut gue.
"Ganteng, diterusin nggak nih?"
__ADS_1
Saat itu juga, semua rahang jatuh turun.