Cakrawala

Cakrawala
Episode 10


__ADS_3

-Khanza-


 


 


Mengolah fisik adalah hal wajib bagi seorang tentara. Tak ada satu pagi pun terlewat tanpa rutinitas olahraga. Seperti halnya pagi ini, selesai melakukan apel seluruh anggota batalyon berkumpul di halaman untuk melakukan peregangan bersama, dilanjutkan jogging mengelilingi kompleks asrama.


 


Rejeki anak sholeh ini namanya. Liat perut kotak-kotak, bahu lebar, dada bidang, bertebaran di mana-mana. Mana mayoritas umurnya masih muda-muda lagi. Ya iyalah, biasanya kan tentara-tentara yang ditugaskan ke perbatasan emang rata-rata yang masih muda. Unch, jadi ngiler kan gue. Padahal handuk dan segala perlengkapan mandi udah di tangan, eh kaki gue ngajak belok menyaksikan pemandangan pagi hari.


 


"Geser deh lo nutupin aja" Siapa suruh nih cewek ngalang-ngalangin arah pandang gue. Lagian bukannya Talitha udah punya pak Komandan, masih aja jajan mata.


 


"Lo apaan sih dateng-dateng main usir" dia nggak terima.


 


"Ya lo jangan berdiri di situ dong. Ngalang-ngalangin gue aja"


 


"Terus salah gue? Orang gue duluan yang di sini"


 


"Ehm" suara dehaman menginterupsi pertikaian gue sama cewek satu ini, "Kalau ngintip jangan keras-keras. Kan jadi ketahuan" entah dari mana Kendra tiba-tiba muncul dengan setelan celana cargo dan singlet cokelat khas tentaranya. Mana kaosnya pas badan banget. Tuh otot hasil didikan militer njiplak kemana-mana. Sexy bingit.


 


"Siapa yang ngintip. Orang mau mandi" elak Talitha yang langsung memutar tubuhnya ke arah kamar mandi. Sementara gue masih berdiam disana mengacuhkan Kendra yang bersedekap di dada. Ya gue ngerti kalau dia ngusir gue, tapi bodo amat, mubadzir dong kalau rejeki kayak gini disia-siain.


 


Paham kalau gue ini kepala batu, akhirnya Kendra berinisiatif sendiri. Dengan satu perintah dia membubarkan barisan lelaki-lelaki kekar yang sedari tadi memanjakan mata gue, "Semuanya kembali ke barak. Olahraga pagi selesai!"

__ADS_1


 


"Siap laksanakan!"


 


Gue berdecih sebal dengan bibir mengerucut. Ekor mata gue memandang kesal ke arah laki-laki yang masih menatap gue dengan tajamnya.


 


"Resek"


 


"Kenapa?" dia mengangkat satu alisnya.


 


"Tau ah."


 


 


Gue kembali menghadap ke arah Kendra, "Bukan urusan lo kali"


 


"Ya jadi urusan gue lah. Mereka itu anak buah gue"


 


"Terus kenapa?"


 


"Ya lo jadi mengganggu kenyamanan mereka latihan"


 

__ADS_1


"Orang mereka aja nggak protes kok lo yang protes?"


 


"Kalau gue bilang mengganggu itu artinya mengganggu."


 


"Ya udah, kalau nggak boleh liatain mereka latihan, liatin Bapak latihan aja gimana?"


 


Tuh kan dia jadi salah tingkah lagi, aduh gemesin banget. Bisa-bisanya ya badan keker tapi muka cem bayi belum dikasih susu.


 


"Gimana Pak? Kapan bapak latiannya? Nanti saya temenin deh. Tapi nggak usah pake baju ya, takut keringetan" gue kasih bonus satu kedipan buat pak tentara seksi, biar dia makin megap-megap ngadepin gue. Hehe.. nakal banget ya gue.


 


Masih belum menjawab, gue majuin badan gue sampai hampir nempel ke dadanya. "Atau ajakin sekalian saya olahraga aja Pak. Emm.. olahraga apa ya enaknya..." gue pura-pura berpikir, "Aha.." bibir gue mendekat ke telinganya, "Olahraga ranjang aja gimana?"


 


Dia mematung. Matanya melebar sempurna. Kena kan lo gue pukul telak.


 


"Biasa aja dong Pak. Tuh detak jantung dikondisikan, kedengeran sampai sini" cibir gue menahan tawa. Puas dengan kejahilan hari ini, gue memutar badan dan melangkah menuju kamar mandi.


 


"Khanza" suara Kendra menghentikan langkah gue.


 


Gue menoleh.


 

__ADS_1


"Jangan sampai telat ke ruang makan. Lo bakalan nyesel" dia cuma ngomong kayak gitu doang sebelum melangkah pergi. Apaan sih, nggak jelas banget.


__ADS_2