
"Kita mau kemana?" tanyanya setelah mobil melaju membelah jalanan.
"Ke desa" jawab gue singkat.
"Eh, Mau apa? Jangan.. gue belum siap ketemu Malahar"
Tapi rengekan gadis itu tidak gue hiraukan sama sekali. Mata gue tetap terfokus pada jalanan. Hingga akhirnya kita sampai di desa.
"Gue nggak mau turun" tolaknya.
"Oke. Gue bopong kalau nggak mau turun" gue segera memosisikan diri untuk menumpu tubuh gadis itu di lengan gue.
"Jangan.. Malu tau"
"Ya udah. Lo turun sendiri"
__ADS_1
Dengan raut kesal, Khanza keluar dari mobil dan berjalan mengikuti gue. Wajahnya menunduk ke tanah, tidak sanggup menatap penduduk desa yang berlalu lalang. Mungkin dia merasa bersalah atas meninggalnya Wa'i.
"Bu dokter?" salah satu warga mengenalinya, wanita paruh baya yang sedang menggendong anak perempuan berumur lima tahun itu berlari menghampiri kita berdua. "Bu dokter.. terimakasih banyak ya, berkat bu dokter dan teman-teman bu dokter waktu itu anak saya bisa sembuh. Haduh haduh.. saya nggak tahu harus membalas bagaimana.. semua tabib sudah nyerah mengobati anak saya, sekarang anak saya bisa beraktivitas kembali. Terimakasih banyak bu dokter."
Baru saja perempuan paruh baya itu berhenti bicara, seorang bapak-bapak berumur empat puluh tahun menghampiri kami, "Bu dokter... saya juga mengucapkan terimakasih sebanyak-banyakya, berkat pengobatan dari teman-teman bu dokter waktu itu istri saya bisa sembuh."
Kerumunan di tempat kita berdiri ternyata menarik banyak perhatian. Orang yang berlalu lalang berhenti sejenak hanya untuk mengucapkan terimakasih kepada Khanza. Tipikal orang pedesaan, mereka sangat guyup dan rukun. Tidak seperti orang-orang kota yang kadang hanya peduli dengan urusannya sendiri.
"Bu dokter ini saya cuma punya umbi dari hasil kebun. Kiranya bu dokter mau menerima sebagai ucapan terimakasih saya. Karena bu dokter, anak saya akhirnya bisa sehat kembali."
"Bu dokter, tolong diterima ini hasil anyaman saya sebagai ucapkan terimakasih karena setelah minum obat dari bu dokter sakit saya berangsur sembuh. Terimakasih banyak bu dokter.
Untaian kata terimakasih yang tulus dari penduduk desa lambat laun melebarkan senyum di bibir Khanza. Dengan ini gue sangat berharap Khanza bisa melihat bagaimana dia telah berjasa bagi penduduk desa sehingga dapat mengobati rasa bersalahnya pada Wa'i.
Setelah kerumunan itu mulai berkurang, mata Khanza terpaku pada sosok seorang bocah yang berdiri di ujung jalan. Tubuh Khanza menegang melihat anak itu berjalan mendekatinya.
__ADS_1
"Bu dokter.." sapa anak itu.
"Ma..lahar" balas Khanza terbata-bata.
"Bukan salah bu dokter. Semua sudah kehendak Tuhan. Sekali lagi terimakasih bu dokter. Bu dokter hebat, bisa menyembuhkan orang-orang yang sakit. Malahar ingin menjadi seperti bu dokter"
Satu senyum melengkung di wajah Khanza, "Malahar ingin jadi dokter juga?"
"Iya." Angguknya mantap.
"Kalau begitu Malahar harus rajin sekolah" satu tangan Khanza mengacak rambut Malahar dengan penuh kasih sayang.
"Tapi di sini hanya ada sekolah dasar" wajah Malahar berubah murung.
__ADS_1