
Gue berbalik mengorek informasi dari pak Komandan. Dikit-dikit gue juga tau dunia keprajuritan di Indonesia Raya ini. Sudah menjadi rahasia umum jika seorang prajurit TNI yang masih lajang sering mendapatkan campur tangan sang komandan dalam urusan percintaannya. Dari masa pacaran sudah diwanti-wanti wanita mana yang boleh dan tidak boleh didekati. Apalagi kalau mengajukan permintaan menikah. Harus diselidiki dulu background calon istrinya, apakah pernah terlibat organisasi yang membahayakan negara atau tidak. Bahkan rangkaian tes kesehatan sampai tes keperawanan pun dilakukan. Ya maklum, sebagai garda depan pertahanan dan keamanan negara, setiap anggota TNI harus steril dari segala macam hasutan-hasutan berbahaya.
"Kendra punya pacar ya?" tanya gue to the point sama pak Komandan.
"Kenapa lo tanya ke gue. Tanyain tuh sama orangnya langsung."
"Tinggal jawab aja kenapa sih?"
"Ogah"
"Oh gitu? Gue laporan nih ke bokap lo"
"Eh eh nanti dulu dong. Gitu aja marah. Iya nih gue jawab. Setau gue, Kendra masih jomblo."
"Kok cuma setau lo. Yang pasti dong"
"Masak gue harus mendata setiap kali Kendra pacaran. Emang gue petugas sensus?"
"Ya seengaknya kan pak Komandan harus memantau bawahannya. Termasuk dengan siapa mereka berhubungan"
"Gue belum ada setahun pindah ke sini. Dan selama itu gue taunya Kendra belum punya pacar. Hampir deh waktu itu, tapi keembat duluan sama gue. Habis lelet gitu kek siput, bukan salah gue dong."
"Hampir?"
"Iya. Tuh bebeb gue, pernah jadi ditaksir juga sama Kendra"
__ADS_1
"Talitha?" bola mata gue membesar.
"Siapa lagi"
Semprul. Cewek itu lagi. Kenapa sih dia selalu berputar di orbit percintaan gue? Ngeselin..
Cikal bakal pertikaian gue sama Talitha dimulai dari bangku SMA. Pokoknya gue serba bersaing sama dia. Bersaing jadi yang paling hits dan populer, bersaing jadi yang paling cantik, bersaing jadi yang paling pinter, dan tentu saja yang bikin greget adalah persaingan kita rebutan si ketua OSIS yang dulunya terlihat rupawan dan menawan. Sekarang? Gue kasih gratis tis kalau ada yang mau. Ogah gue sama tampang cakep doang tapi tukang ngumbar kepalsuan.
Target kedua, Mas Tristan. Sebagai teman berbagi kamar dan sudah menghabiskan malam-malam dingin nan panjang bersama si ganteng, tentunya info dari Mas Tristan akan lebih terpercaya.
"Hah? Cewek? Emang Kendra punya cewek?" malah balik nanya, dasar tiang listrik.
"Kalau gue tau gue nggak bakalan nanya"
Mas Tristan garuk-garuk kepala, "Apa gue yang nggak ngeh ya?"
"Mana ada gue merhatiin Kendra. Mending merhatiin foto cewek-cewek seksi di handphone gue"
Ampun deh... Salah gue nanya cowok otak selangkangan kayak dia.
"Kalau cewek yang nama kontaknya 'ndoro putri' lo tau nggak?" gue mencoba peruntungan sekali lagi.
"Ndoro putri?... pffff.. alay banget nama kontaknya?" Eee... malah diketawain, dasar pembalut kebo.
"Kalau cewek imut model-modelan Zara JKT-48 yang ada di HP-nya Kendra, lo kenal?"
__ADS_1
"Eh? Emang ada? Bangsul, kenapa nggak bagi-bagi ke gue tuh monyet"
Plak.
"Lo tuh yang monyet". Gue keplak aja kepalanya. Berani-beraninya ngatain gantengku monyet.
"Aaw.. jangan brutal-brutal kenapa sih Sa. Pantesan Kendra lebih milih si Zara-Zara itu"
Gue nggak terima dong. Langsung gue gebukin bertubi-tubi tubuhnya dari segala sisi. "Siapa yang bilang Kendra lebih milih dia. Lagian itu bukan Zara. Gue cuma umpamain doang. Makanya otak diisi, jangan dipupukin micin terus. Dasar.. dasar.. dasar"
"Aww.. Sa... stop.. aduh... sakit ini... Khansa"
Gue nggak peduli si tiang listrik udah merengek kesakitan. Yang penting rasa kesel gue tersalurkan.
"Loh, ada apa ini?" mbak Egi tiba-tiba muncul entah dari mana, membawa sebuah kotak berisi berbagai macam obat-obatan di dalemnya,
"Gi.. tolongin gue Gi. Ini majikan lo kena virus rabies. Jadi gila gini" Mas Tristan berlari ke belakang mbak Egi, menjadikan tubuh bodiguard gue itu tameng untuk menghindari tabokan maut gue. Dasar banci. Gitu aja mencari perlindungan perempuan.
"Eh..eh.. jangan gini dong. Aduh.. ini nanti kotaknya jatuh."
Brak.
Eh, beneran kotaknya jatuh. Isinya berceceran kemana-mana. Waduh, abis ini bakalan ada singa galak yang ngamuk-ngamuk. Sebelum gue diterkam, ambil jurus langkah seribu.
"KHANZAAAAAA....!"
__ADS_1
"Ampun mbak Egi, Khanza kebelet pup" teriak gue sambil kabur.