
Kendra nampak berbicara kepada mereka, menunjuk-nunjuk suatu tempat di kejauhan, kemudian menunjuk mobil kami. Setelah itu dia memberi hormat dan kembali ke pasukannya.
Salah satu polisi itu berjalan ke arah mobil kami,memberi perintah kepada Pak Sopir untuk melanjutkan perjalanan. Kali ini diiringi dengan pengamanan ketat dari kepolisian.
__ADS_1
Di sepanjang perjalanan tadi dapat gue saksikan hiruk pikuk masa dengan berbagai papan-papan tulisan yang berjejer rata. Mereka berteriak, berorasi, bahkan beberapa mulai melakukan aksi anarki. Kepulan asap dari ban-ban karet yang dibakar, ditambah lagi gas air mata yang disemprotkan ke udara, menyambut kami saat pintu mobil terbuka.
Begitu keluar mobil, tubuh gue dirangkul dari samping. Tangan kekar itu melindungi kepala gue dan dengan langkah yang cepat dia membawa gue ke dalam tenda. Tanpa melihat wajahnya, gue langsung bisa mengenali siapa pria berseragam hijau lumut ini. Sepatu boots yang dipakainya adalah sepatu yang sama dengan apa yang gue siapkan tadi pagi, jam tangan di pergelangan tangannya sedikit retak karena gue jatuhkan tanpa sengaja beberapa hari yang lalu, dan tentu saja wanginya, wangi maskulin yang setiap hari mengantar gue ke alam mimpi.
__ADS_1
Baru aja mau gue kejar, tetapi langkah gue dihentikan oleh wanita dengan pistol dipinggangnya, "Sa, banyak pasien yang harus ditanganin"
Kalimat Mbak Egi cukup untuk menghentikan langkah gue. Pandangan gue pun berpendar ke sekitar. Tikar yang digelar di sekeliling ruangan diisi oleh para demonstran yang mengalami cidera. Ada yang mendapat memar-memar biru, goresan di siku, dehidrasi yang kekurangan oksigen, serta efek samping lainnya dari penggunaan gas air mata. Beberapa yang parah dan harus cepat ditangani ditidurkan di ranjang sisi kiri. Para perawat dan dokter dari puskesma setempat, serta relawan-relawan dari organisai kemanusiaan ikut turun tangan. Kebanyakan yang menjadi korban adalah masyarakat lokal, tua maupun muda, lelaki maupun wanita, dan yang lebih miris lagi, anak-anak usia sekolah juga ikut terlibat.
__ADS_1
Gue segera menyiapkan diri. Memakai masker, sarung tangan, dan mensterilkan semua yang dibutuhkan sebelum membaur bersama yang lain. Gue bergerak dari satu pasien ke pasien lain. Suara jerit tangis bisa gue dengar di sana-sini. Meskipun gue tidak bisa memahami bahasa lokal yang mereka campur adukkan dengan bahasa nasional, namun dapat gue tangkap bagaimana mereka saling mengadu, menyalahkan ketidakadilan pemerintah atas kebijakan yang merugikan rakyat kecil, mencaci-maki golongan penguasa, dan merintih sedih menangisi nasib yang harus mereka jalani.