Cakrawala

Cakrawala
Epilog 3


__ADS_3

-Khanza-


(Kamar Pak Mayjen, 22:12)


Gue nangis meluk Papa. Setelah tamu-tamu kita pulang, gue langsung sungkem sama dia. Siapa sangka, Papa gue yang keras kepala, galak, dan nggak mau kalah ternyata lembut dan penuh kasih. Setelah mendengar cerita Kendra, gue nggak bisa berkata apa-apa. Baru gue sadari, ternyata kasih sayang seorang ayah itu tidak terlihat. Di depan anaknya nampak cuek, namun dibelakang sana tak sungkan menghadang aral melintang demi kebahagiaan sang anak.


"Kamu ngapain sih nemplok Papa aja dari tadi?"


"Papa, malem ini Khanza boboknya sama Papa ya"


"Udah dilamar orang kok masih kayak bayi" cibirnya.


"Kapan lagi. Khanza kangen dielus-elus kepalanya sama Papa. Dulu kan tiap Papa bobokin Khanza pasti dielus-elus."


"Sini..sini... Nggak nyangka anak Papa udah segedhe ini. Udah mau nikah aja" suara Papa agak memberat. Mungkin terlalu terbawa suasana mengingat gadis kecilnya ini sebentar lagi akan diperistri orang. Duh, gue jadi ikutan mewek.


"Papa... nanti kalau Khanza udah nikah, Papa tetep jadi lelaki nomor satunya Khanza kok" hibur gue.


"Halah kamu ini. Kemarin aja antara Papa sama Kendra kamu lebih milih Kendra"


"Hehehe... Papa ini lho, digombalin nggak mempan. Tapi pokoknya, buat Khanza Papa nggak akan tergatikan."


"Udah..udah.. Papa mau tidur."


"Selamat tidur Papa. Mimpi yang indahnya." Dan setelah lelaki itu nampak terlelap gue berbisik di telinganya, "Khanza sayang Papa"


Meskipun tetap memejamkan mata, tapi ada senyum tipis tersungging di bibir lelaki itu.


*Tuhan, terimaksih banyak... tidak aku sangka Kau menjadikan aku wanita paling beruntung di dunia. Mempunyai dua pria yang sangat luar biasa, yang tak kenal lelah menjaga senyumku tetap ada. *


***

__ADS_1


(Dua puluh empat tahun yang lalu)


"Kenken ndak papa?" seorang gadis kecil meniup luka di lutut bocah yang berumur lebih tua darinya.


"Ndak papa. Kenken ndak nanis." ucap bocah itu.


"Sasa bikin Kenken atuh" ujar sang gadis sedih.


"Kenken kan jagain Sasa. Itu yayamnya jahat. Tejar-tejar Sasa. Kenken tembak nanti"


"Papa Sasa juga bica tembak-tembak. Menangkap penjahat."


"Kenken uga mau tembak-tembak. Biar taya Papa Sasa"


"Nanti kalo Kenken atuh gimana?"


"Sasa obatin Kenken aja. Nanti Kenken sembuh"


Ucapan dua bocah itu terinterupsi oleh suara wanita dewasa dari dalam rumah, "Le.. Nduk.. kalian dimana?"


"Ibuuk.." bocah cilik itu menjawab.


"Ayo cepet masuk rumah. Nduk itu sudah dijemput Papa.."


Mendengar Papanya disebut, gadis kecil itu berlari ke dalam ruangan, "Papaaaa...." teriakannya disambut senyum cerah pria berseragam hijau yang baru datang.


"Cantiknya anak Papa. Khanza udah makan?"


Gadis cilik itu mengangguk semangat.


"Pinter. Sekarang pamit yuk, kita pulang"

__ADS_1


"Nggak mampir dulu Ndan, istri saya masak gudeg tadi" sela sang sopir. Sejak kematian istrinya, tentara itu tidak bisa menjaga Khanza jika harus ditinggal dinas. Jadilah istri sang sopir membantunya merawat Khanza.


"Makasih, Kang. Tapi ngejar pesawat ini. Barang-barang Khanza juga belum diberesin. Berangkat sekarang saja yuk"


"Siap, Ndan. Saya siapin mobilnya dulu"


"Wah, selamat ya Pak Komandan. Semoga dengan jabatan yang baru makin berkah ya, Pak" istri sopir pribadinya itu tak luput memberi semangat.


"Makasih, Mbak Yu. Selama ini juga sudah saya repotin buat ngurus anak saya"


"Nggak repot Ndan, saya justru senang Sasa di sini. Anak saya jadi ada temennya."


Ayah Kendra kembali masuk, "Ndan, mobilnya sudah siap"


"Ya sudah, saya pamit dulu ya Mbak Yu."


"Nggih Ndan (Iya, Ndan.)" Kemudian wanita itu balik berbicara ke suaminya, "Ngatos-atos nggih, Mas (Hati-hati ya, Mas)"


Baru saja Pak Tentara mau melangkah keluar, putri semata wayangnya tiba-tiba minta diturunkan dari gendongannya. "Papa..papa.. sebental Pa." Setelah menapak lantai, Khanza kecil berlari lagi ke dalam rumah mencari Kendra.


"Kenken..." teriak bocah itu.


"Sasa? Sasa napa lali-lali?" tanya si anak laki-laki.


"Ini... buat Kenken" ujar sang gadis mengulurkan satu mainan yang dia simpan di dalam tas pink bergambar Barbie and the Nutracker miliknya. Sebuah bola kristal yang sangat bening dan cantik itu kini berpindah tangan.


"Dadah Kenken..." pamit Khanza melambaikan kedua tangannya. Akan tetapi sebelum bocah cilik itu berlari kembali ke Papanya, satu kecupan kecil ia daratkan di bibir mungil Kendra.


Tak ada yang ingat, namun itulah kali pertama mereka berciuman.


__ADS_1


__ADS_2