
"Terus itu, baju lo.." jari Kendra menunjuk bawah kerah kemeja gue yang kancingnya kebuka hampir memperlihatkan gundukkan payudara dibaliknya.
"Iya nih, gerah." Gue berlagak kipas-kipas kegerahan. "Kok panas banget sih di sini. Sekalian dibuka aja kali ya" Kancing baju gue kelepas satu lagi. Bra hitam berenda-renda itu nongol bagian atasnya, say hello sama pak tentara yang matanya udah kemana-mana. Gue kira Kendra bakalan salah tingkah lagi, tapi eh tapi.. si seksi malah berkacak pinggang, melangkah maju menghampiri gue dengan tatapan tajam mata elangnya. Duh, kenapa malah jadi panas beneran kayak gini sih.
Jarak di antara kita semakin terkikis. Badan tegap dan postur tingginya terasa mendominasi. Dengan perlahan dia menunduk, mensejajarkan pandangan mata kami. Kedua tangannya menyingkirkan tangan gue dari depan dada dan mengancingkan kembali tiga kancing baju gue yang terlepas.
"Kalau lo masuk angin, ntar siapa yang ngerawat gue?" Haduh jadi baper kan. "Ini juga rambut jadi berantakan gini" Tangan Kendra beralih ke kepala, merapikan rambut gue yang masih acak-acakan.
"Nah kalau kayak gini kan rapi" baru aja Kendra selesai ngomong, gue acak-acak lagi rambut gue.
"Loh kok diberantakin lagi?"
Dengan terkekeh gue sodorin kepala gue kedepan dadanya, "Rapiin lagi dong.." ucap gue manja.
"Bener-bener ya kamu tuh" saking gemasnya Kendra nyubit ujung hidung mancung alami gue sebelum kembali merapikan rambut gue. Suka deh kalau kepala gue dielus-elus gini.
"Udah ah gue mau makan"
Baiklah paduka raja, hamba siap melayani.
"Aaaa.." gue udah siap menyuapi sang paduka raja.
"Biar gue sendiri aja" elaknya.
"Enggak boleh. Lo kan lagi sakit"
"Yang sakit kakinya, bukan tangannya. Lagian dipake jalan juga udah nggak terlalu sakit, ini kenapa dipakein perban segala sih?"
"Jadi mau ngeyel sama bu dokter? Gue bilangin ibuk lho, biar dijewer"
__ADS_1
"Galak banget sih bu dokternya. Iya iya, nih aku buka mulut"
"Nah gitu dong." Satu suapan berhasil masuk ke mulut Kendra.
"Emang tadi kau ngerti apa yang diomongin ibuk? Kan pake bahasa Jawa?"
"Kalau cuma artinya sih paham. Bokap gue kan juga orang Jawa. Tapi kalau suruh ngomong pake bahasa Jawa gue nggak bisa."
"Jadi lo ngerti dong apa yang kita omongin tadi?"
"Ngertilah. Termasuk waktu lo bilang gue bukan pacar lo"
"Lah, emang bukan kan?"
"Tapi kan gue malu udah ngaku-ngaku jadi pacar, eh malah dibantah" curhat gue kesel.
"Punya malu juga?" Kendra sok-sokan ngajak bercanda.
"Punya. Nih kemaluan. Mau liat?"
Setelah melepaskan diri, gue merajuk, "Habis bapak sih nggak mau ngajarin mulut saya. Jadi kan nggak punya filter"
"Nih diajarin sama ayam goreng aja." Kendra menyumpal mulut cerewet gue dengan paha ayam goreng yang diambilnya dari piring di atas meja.
Gue diem aja pura-pura marah. "Eh iya iya.. gitu aja marah" si bapak kembali mengambil ayam goreng yang belum beranjak dari mulut gue. Tak lupa dia mengelap sisa-sisa minyak yang menempel di bibir gue dengan jarinya. Duh, jadi suka.
"Eh, yang tadi itu adik lo?" tanya gue penasaran.
"Nisa? Iya, adek gue. Kenapa?"
"Gue kira pacar lo"
Kendra hampir tersedak, "Hah?"
__ADS_1
"Ya habis lo kalau nerima telepon dari dia suka sembunyi-sembunyi gitu sih. Kan gue curiga?"
Lelaki itu tertawa mendengar pengakuan gue. "Ya ampun Sa.. bisa-bisanya sih"
"Terus kenapa kalau angkat telepon dari dia lo pake sembunyi-sembunyi segala?"
Senyum Kendra menghilang, wajahnya berubah serius, "Itu.. eh.. itu" dia tampak ragu-ragu.
"Kenapa?"
"Nggak pa pa. Gue cuma nggak mau aja temen-temen gue tau"
"Tau apa?" Alis gue terangkat.
"Kalau ibuk habis kecelakaan"
"Hah? Kecelakaan?" Pantes tadi gue sempet lihat kepalanya ibuk ada perbannya sedikit.
"Iya. Tabrak lari. Tapi lo jangan bilang siapa-siapa. Gue nggak mau ngrepotin satu kompi."
"Terus keadaan ibuk gimana?"
"Kamu lihat sendiri kan tadi ibuk sudah membaik?"
"Syukur deh. Besok boleh nggak kalau gue telepon ibuk?"
"Eh, buat apa?"
"Mau nanyain hati anaknya terbuat dari apa. Nggak peka-peka"
Kendra terdiam menyelesaikan suapan terakhirnya.
__ADS_1