
"Aduh mata gue.. Pagi-pagi udah liat adegan mesum" thanks God, Mas Tristan datang di saat yang tepat. "Tempat umum ini woy, ndusel-ndusel mulu.. Udah diperawanin ya lo bos jadi berani gini?" oceh tiang listrik seraya memundurkan salah satu kursi di sebelah Kendra untuk dia duduki.
Posisi kita saat ini berada di restaurant hotel. Walaupun sudah agak siang tapi nampaknya tidak banyak pengunjung yang datang. Mungkin mereka lebih memilih service room daripada harus berjalan keluar dan sarapan di sini.
"Mulut apa Toa!" satu tabokan berhasil dilayangkan si Mamas ke tengkuk pria disebelahnya.
"Aduh. Brutal banget sih bos." Pandangan si tiang listrik itu jatuh pada pakaian yang gue dan Mas Pacar kenakan hari ini. Casual couple T-shirt berwarna putih dengan sentuhan navy blue di lengannya. Di ujung punya gue ada tulisan him, sedangkan punya dia ada tulisan hers. Norak nggak sih?
Tuh kan diketawanin Mas Tristan, "Pff.. Anak panti asuhan lo berdua? Apa anak sekolah mana? Pake seragam segala. Hahaha.."
"Berisik." Kalau aja posisinya nggak jauh, udah gue tendang tuh otongnya. Biar mampus."O iya, mbak Egi mana?"
Pria yang beberapa saat lalu menyerutup caramel machiato punya pacar gue tanpa permisi tiba-tiba tersedak, "Huk..huk..huk.." Gue mengangkat alis. Orang gue cuma nanya mbak Egi dimana kok tuh orang jadi salah tingkah.
"Itu.. anu.. itu.. em.."
"Ngomong yang jelas" gertak gue.
"Ya.. ya nggak tau. Kenapa tanya gue" dia mengendikkan bahu.
Hm.. ada yang aneh. Mas Tristan nggak berani natep gue balik.
Fokus gue teralih mendapati Iphone-X gue berdering dengan nama mbak Egi tertera di layarnya. Panjang umur banget sih mbak. Baru aja diomongin.
"Halo.. Mbak Egi?"
Suara dari seberang telepon menjawab, "Khanza. Kamu kok nggak ada dikamar? Sekarang dimana?"
Sebentar. Gue ngilang dari kamar sejak kemarin loh. Kenapa mbak Egi baru nanya sekarang?
__ADS_1
"Mbak Egi kapan bangunnya? Tadi kok nggak ada?"
"Eh itu.. pagi-pagi banget tadi. Terus olahraga. Sekarang baru balik."
Oke, ada yang nggak beres di sini. Harusnya kalau mbak Egi bangun pagi-pagi tadi udah nyadar dong kalau gue nggak ada di kamar. Kenapa baru bingung nyari sekarang?
"Mbak.. emang tadi malem mbak tidur dimana?"
Hening sejenak. Tidak ada suara apapun dari seberang. Sebelum akhirnya mbak Egi dengan gelagapan mengakhiri panggilannya, "Aduh Sa, HP mbak lowbat.. tut..tut..tut.."
Pandangan gue beralih ke Mas Tristan yang sedang berusaha mengendap-endap meninggalkan meja makan, "Mas Tristan!" gertakan tegas gue membuat lelaki itu membenarkan posisi duduknya kembali, "Lo apain Mbak Egi semalem? Jawab!"
"Udah. Nggak capek apa dari tadi melototin bangku depan mulu" tegur Mas Pacar di samping gue.
Gue merebahkan diri di bahu kekarnya si seksi dengan kepala bersandar di antara perpotongan lehernya. "Bosen yang.." rengek gue manja seraya memainkan jari-jari gue di dadanya. "Main yuk!"
"Kayak anak kecil ngajak main. Mau main apa emang?"
"Permainannya orang gedhe malah asyik-asyik yang.. Main kopling misalnya" ucapan gue yang terdengar sampai bangku depan mendapatkan deheman keras dari pak sopir.
Bibir gue dijepit jarinya Mamas. "Filter sayang"
Asiik.. gue dipanggil sayang lagi. Baru bahagia terbang ke awan, tatapan gue mendarat di spion depan, melihat pak sopir memutar bola matanya jengah melihat kelakuan gue. Rasain lo! Gue pelototin aja sekalian.
"Yang.. ntar malem boboknya di kamar aku ya?" gue mencoba peruntungan.
__ADS_1
"Nggak cuma kamu yang bobok disitu. Masak aku masuk kamar kamu"
"Siapa? Oh yang semalem ngamar sendiri itu ya?"
Kendra menurunkan bibirnya dan berbisik, "Kita juga ngamar sendiri semalem"
Eh iya. Tapi kan gue ngaku. Nggak kaya oknum depan tuh bikin penasaran. Jangan-jangan diem-diem mereka berdua udah pacaran. Atau malah udah enak-enakan. Yah gue kalah dong.
"Yang.." pandangan gue beralih ke makhluk seksi di sebelah gue. Cowok ini kapan sih jeleknya. Masak dari angle ini kadar kegantengannya masih muncrat-muncat. Dagu tajem, rahang keras, dan ada rambut-rambut halus mulai tumbuh di garis bawah wajahnya. Maskulinnya pacar gue.
Gemes gue pengen nyipok bibirnya. Mana di lehernya masih ada merah-merah kebiruan bekas perhelatan kiat semalam. Jakunnya naik turun dengan seksi, uuh... pengen gue gigit.
Mas Pacar kaget ketika gue dengan sengaja mengecup kecil lehernya, kemudian dagunya, turun lagi ke leher, mencuri sebanyak-banyaknya ciuman kecil dari sana.
"Sa..!"
Cup.
Belum sempat si mamas ngomelin, udah gue sosor duluan bibir tebelnya.
Paham kalau kata-kata nggak mempan buat menghetikan kejahilan gue, Mas Pacar membekuk gue di ketiaknya. Pergerakan gue terkunci. Si ganteng sedikit menurunkan kepalanya hingga bibirnya bertemu dengan daun telinga gue. Dia berbisik, "Kamu kalau nakal ntar Mas hukum"
Oh my God, suaranya ngebas-ngebas dominatif gitu. Mana pake embel-embel Mas lagi. Lansung merinding sekujur tubuh gue.
Ahh.. demi apa kuping gue dilumat bentar sama bibir sexy-nya Mamas. Pacar gue... ternyata... nggak kalah sama Christian Grey. Aduh... rahim gue menghangat.
Gue balik berbisik di telinganya. "I can't wait for it, daddy" desah gue lirih dengan bonus satu jilatan kecil di telinganya.
__ADS_1