
"Hah? Masak?"
"Jangan samain sama kota-kota besar di Jawa. Paling hits sih cuma Plaza. Itu pun nggak segedhe di Jakarta"
"Kalau movie box?"
"Sama aja, Khanza"
"Yah, gagal deh"
"Gagal apanya?"
"Bukan apa-apa"
"Manyun gitu?"
"Bete. Nggak ada bioskop"
"Kan masih banyak tempat-tempat yang lain"
"Misalnya?"
"Em.. apa ya?" Kendra garuk-garuk kepala.
"Tuh kan kamu juga nggak tau. Kalau anak muda hits di sini biasanya pacaran di mana?"
"Aduh mana ya.. Jalan-jalan aja, atau kalau enggak pada duduk-duduk di alun-alun"
"Yah. Nggak menantang"
"Emang kamu mau yang menantang kayak gimana? Panjat tebing? Arung jeram? Naik gunung? Banyak tuh spot-spot yang masih alami dan menantang"
"Gitu doang mah nggak asik. Manjat bapak baru asik"
"Kamu monyet? Manjat-manjat segala"
__ADS_1
"Monyet mana ada yang secantik gue" kibas rambut ah.
"Iya..iya..cantik"
"Aduuh dibilang cantik sama bapak tentara, jadi malu.." lagak gue kayak anak ABG yang baru dapet surat cinta, kedua tangan menopang pipi dan senyum malu-malu.
"Kalau gue bilang gendut entar lo marah-marah"
Langsung dong ekspresi gue berubah "Jadi gue gendut?"
Gue mengernyit tidak suka.
"Kalau Khanza.. gue bilang kalau. Bukan berarti lo gendut. Lo nggak gendut kok. Udah pas segini."
"Bo'ong. Bilang aja gue gendut. Iya kan?"
"Ya ampun Khanza. Lo tuh nggak gendut. Bener deh"
"Nggak gendut tapi berisi? Bervolume? Atau montok?"
Mas pacar menarik nafas panjang sebelum menjawab, "Mau lo gendut mau lo kurus gue tetep suka."
"Aduuh Khanza... harus gimana lagi gue jelasinnya" Si seksi mengoyak rambutnya kasar.
Hehe, jadi kasian. Ya udah deh, gue ampunin Mas Pacar kali ini.
"Kalau nggak gendut kasih sun dulu dong"
"Kok gitu?"
"Mau apa enggak"
Cup. Kena deh pipi gue.
"Kok cuma pipi?" Gue nggak terima dong.
__ADS_1
"Habis pipi lo gendut. Gemesin"
"Oke, ntar dada sama itu gue gendutin juga. Biar dicium sama lo"
"Udah gedhe itu"
"Tapi lo suka yang lebih gedhe kan? Buktinya, cewek-cewek Jejepangan yang ada di HP lo gedhe-gedhe. Ukurannya minimal C"
"Gedhe karena sumpelan ya sama aja. Apalagi gedhe karena ditambal silikon."
"Emang lo pernah nyobain yang ditambal silikon?" gue melotot ke arahnya.
"Ya.. bukan gitu. Dimana-mana yang asli dan alami itu lebih bagus daripada yang imitasi."
"Untung punya gue asli." Ucap gue bangga sambil mengetes ukuran gunung kembar gue dengan menangkupkan tangan di depan dada gue. "Tinggal di-treatment aja nih biar tambah gedhe. Iya kan, pak?" sengaja gue membusungkan dada ke arah Kendra.
Jakun lelaki itu bergerak naik turun. Tapi matanya berusaha fokus ke jalanan "Iyain biar cepet"
"Asek. Gue tunggu loh pak treatment-nya"
"Kok gue?"
"Ya pake tangan lo lah treatmentnya. Mau apa kalau misal gue pinjem tangannya si Koko?"
"Awas kalau berani!"
"Ampun pak bos. Peace.. he he"
Dengan gemas, tangan Kendra mengacak-acak rambut gue. "Iih, kok diberantakin sih. Udah gue bela-belain cathokan pagi-pagi juga." Gue sewot. "Sekali-kali berantakin kasur gitu loh, biar gue seneng"
"Nggak usah ngajak macem-macem. Cukup ada lo disamping gue aja, hati gue udah berantakan"
Eh, apa? Beneran tadi yang ngomong Mas Pacar?? Gue nggak lagi mimpi kan?
"Hmm, kayaknya rame tuh di sana." Kendra menunjuk satu tempat di seberang jalan "Ke sana yuk!" Tanpa menunggu persetujuan, lelaki itu langsung menarik tubuh gue dan membawa gue menerobos kerumunan orang.
__ADS_1
Yah, malah ngajakin ke tempat rame. Padahal gue maunya ke tempat yang sepi-sepi.