Cakrawala

Cakrawala
Episode 81


__ADS_3

-Khanza-


Gue segera mengemas peralatan medis dan mengambil jas berlogo red cross yang selalu tersampir di punggung kursi kerja gue. Begitu diberi tahu bahwa polisi setempat meminta bantuan TNI untuk mengamankan kerusuhan yang terjadi di area pertambangan, Kendra segera melesat pergi memimpin pasukannya ke tempat kejadian. Beginilah resiko menjadi anggota tentara, harus siap sedia kapan pun dibutuhkan. Termasuk mengorbankan hari libur yang tak tentu datang.


Kepulauan di sepanjang Nusa Tenggara adalah harta karun yang tersembunyi. Dalam perut buminya, terdapat banyak emas dan timah. Sungai-sungainya dikenal tidak mengalirkan air, namun logam mulia dan mineral yang nilainya berjuta-juta. Dari ujung ke ujung, para investor berlomba-lomba mengeruk hasil kekayaan alam untuk dinikmati segelintir orang.


Sejak ratusan tahun yang lalu, ketika negeri ini masih berada di bawah kekuasaan Belanda, penjarahan besar-besaran terus terjadi. Hingga sekarang, walaupun kemerdekaan telah dikumandangkan tetapi Nusa Tenggara makin dikepung oleh industri pertambangan.


Mesin-mesin raksasa itu setiap hari mengeruk isi bumi mereka. Pemerintah seakan menutup telinga akan jeritan suara rakyat yang tak tahan melihat tanahnya terus disakiti. Ruang gerak mereka terbatas oleh aksi-aksi penambangan yang menjalar dari timur ke barat. Kerusakan alam terjadi di mana-mana. Sumber-sumber hidup masyarakat hilang untuk selamanya, akibat ulah manusia dan keserakahannya yang tanpa batas.


Gue bergabung bersama mobil ambulans menuju ke tempat perseturuan. Kendra bilang kerusuhan seperti ini sudah sering terjadi. Pertikaian antara masyarakat setempat dan pemerintah berkaitan dengan aktivitas tambang yang dinilai merugikan lingkungan sekitar menjadi bahasan yang seolah-olah tidak pernah ditemui titik ujungya. Maklum saja, penjarahan besar-besaran yang hanya dinikmati segelintir orang itu adalah mimpi buruk untuk masyarakat sekitar, karena mereka dan tanah kelahirannya lah yang terkena imbas akibat kerusakan lingkungan dan zat-zat polutan berbahaya.


"Nanti kamu stay di tenda aja. Jangan deket-deket TKP. Tetep fokus kasih pengobatan. Jangan terprovokasi aksi sekitar."

__ADS_1


Begitulah pesan Kendra sebelum melepas gue bergabung dengan tim medis. Dia ingin agar gue selalu berhati-hati berada di sekitar kerusuhan. Aksi unjuk rasa yang berujung brutal biasanya didalangi oleh oknum-oknum tak bertanggungjawab yang hanya memanfaatkan sebuah momen untuk kepentingan sendiri. Tak sedikit dari mereka yang dibayar, atau menjalankan misi dari kelompok radikal yang mengincar perpecahan di bumi pertiwi.


Belum sampai ke tenda darurat, mobil yang kita tumpangi diserang dengan lemparan batu hingga kaca bagian depannya retak. Pak sopir mengerem mendadak, beberapa penumpang berteriak kaget.


"Aaaa.."


"Ada apa ini?"


"Tiarap..!"


"Jangan ada yang keluar. Tetap di dalam mobil"


Suara orang saling bersahutan. Ada yang panik, ada yang dengan cekatan mengambil barang apapun untuk melindungi kepala, dan ada yang menghimbau agar tetap tenang.

__ADS_1


Mbak Egi dengan cekatan menjadikan tubuhnya perisai untuk mengamankan tubuh gue. Satu tangannya mengambil pistol berseri MAG-4 dari dalam jaket, sementara mata elangnya sudah melanglang meneliti keadaan sekitar.


"Mbak Egi, ada apa?" tanya gue di sela-sela kericuhan dan jerit panik orang-orang.


"Kamu tetep tenang. Aku minta bantuan sebentar" bisik wanita itu di telinga gue sebelum berucap sesuatu melalui benda hitam yang dia pasang ditelinganya.


Tidak berapa lama, suara sirine mobil polisi berbunyi membuat para pengacau itu lari tunggang langgang dari tempat persembunyiannya. Beberapa orang berseragam polisi mengitari mobil kami dengan motor patroli mereka. Memastikan keadaan aman untuk kami melanjutkan perjalanan. Dari sekian banyak orang berseragam cokelat, mata gue menangkap segelintir orang dengan seragam hijau lumut. Kendra... tidak salah lagi, salah satu diantara mereka adalah Kendra.


 


 


 

__ADS_1



__ADS_2