Cakrawala

Cakrawala
Episode 44


__ADS_3

-Kendra-



Gue nggak suka gimana pipinya memerah setiap kali lelaki itu menggodanya.


Andreas Tan. Putra kedua pemilik Permata Group, salah satu perusahaan investor pertambangan terbesar di Indonesia. Beberapa kali dia mengunjungi markas tentara berkaitan dengan proyek baru yang akan sedang digarapnya. Jika saja bukan karena perintah pemerintah setempat untuk memberikan tempat bersinggah bagi investor muda itu, dia sama sekali tidak ada urusan di barak militer. Tapi apa mau di kata, tidak mungkin seorang pelayan negara seperti kami bisa menolak perintah atasan.


"Mungkin masih jetlag kali ya, nggak enak gini badannya. Apalagi kemarin habis dari Canada, langsung terbang ke sini. Perubahan cuacanya drastis banget."


Gue menguping pembicaraan Khanza dan investor muda itu.


"Mungkin emang lagi kurang fit aja, jadi gampang ngedrop gitu. Apa mau dikasih vitamin?" Khanza menanggapi.


"Boleh, nih" Pak Andreas mengulurkan ponselnya.


Wanita di depannya mengernyit bingung, "Loh buat apa handphonenya?"


"Katanya mau ngasih vitamin? Nomor kamu kayaknya lebih ngefek daripada vitamin"


"Ah bisa aja sih. Jadi malu"


Tuh kan, tersipu-sipu meong.


"Jadi gimana?"


"Ya udah deh kalau maksa"


Nggak bisa dibiarain ini. Gue harus cepat bertindak.


"Awh... aduh..." gue teriak-teriak kesakitan sambil memegangi sebelah kaki gue. Melangkah pincang menghampiri dua orang yang sedang sibuk dengan obrolannya itu.


Biasanya kalau liat gue kenapa-napa dikit aja Khanza bakalan histeris, langsung lari menghampiri, dan ngecek keadaan gue dari ujung ke ujung. Tapi tidak kali dia. Dia cuma liatin gue tanpa ada respon apapun.

__ADS_1


"Kok diem?" protes gue.


"Kenapa?" komentar yang singkat, padat, dan jelas.


"Ini kaki gue sakit"


"Terus?"


"Ya digimanain gitu. Lo kan dokternya?"


"Tadi katanya udah nggak apa-apa. Malah minta di buka perbannya."


"Tapi ini sakit lagi"


"Ya udah ikut gue ke klinik. Gue periksa"


Aseek...


"Duh maaf ya gue kerja dulu" Pake acara pamit-pamit segala ke si sipit.


"Oke"


ASU.


Tidak semudah itu guguk.


"Ayok jalan" nada suara Khanza yang manis berubah drastis ketika berbicara dengan gue, mengajak masuk ke kliniknya.


"Awwh.. aduh.. sakit ini dibuat jalan. Gandeng.." gue merengek.


"Repot bener sih"


Hehehe...

__ADS_1


Gue senderan di kasur saat Khanza dengan hati-hati membuka perban di kaki gue. Gue suka memandangi wajahnya ketika serius bekerja seperti ini. Dia menjadi berkali-kali lipat terlihat lebih cantik.


"Apanya yang sakit, sudah sembuh gini" cicitnya begitu selesai memeriksa kaki gue.


"Tapi ini sakit beneran"


"Mana bagian yang sakit?"


"Em.. yang ini"


"Ini"


"Ke atas dikit"


"Di sini?"


"Bukan.." gue raih tangan Khanza dan gue bawa ke daerah di atas mata kaki gue. " Di sini"


"Nggak usah pegang-pegang". Gue mengernyit. "Kita kan cuma teman" tegasnya.


Hufh, dibahas lagi.


"Kan cuma ngasih tau"


"Ngasih tau pake mulut juga bisa. Katanya harus jaga diri"


"Tapi tadi lo dipegang tangannya sama pak Andreas juga nggak masalah"


"Dia kan nggak nyuruh gue jaga diri. Ya suka-suka gue dong mau pegangan sama siapa aja."


"Ya nggak bisa dong"


"Emang situ siapa ngelarang-larang. Pacar? Bukan kan?"

__ADS_1


Skak mat. Jadi ini yang namanya bom bunuh diri.


__ADS_2