Cakrawala

Cakrawala
Episode 28


__ADS_3

Khanza menghela nafas berat. Memang benar, di daerah seperti ini ada sekolah dasar saja sudah mendingan. Sepertinya, impian pemerintah untuk meyediakan pendidikan yang merata dari Sabang sampai Merauke masih perlu segera diwujudkan. Justru di pelosok-pelosok negeri seperti ini, banyak anak-anak bangsa yang haus akan pendidikan namun tidak tersedia fasilitas yang mewadai. Sementara di daerah-daerah maju sana, sekolah berdiri dalam jumlah yang sangat banyak, saling mempromosikan diri untuk menarik peserta didik, namun antusias anak untuk berproses dalam pembelajaran masih banyak yang kurang memuaskan. Terbukti dari banyaknya kasus siswa bolos dan malas-malasan dalam mengikuti proses pembelajaran.


Khanza terlihat sedang berpikir, tidak berapa lama kemudian dia sedikit membungkuk, menyejajarkan tingginya dengan tinggi Malahar, "Ilmu itu bisa di dapat dimanapun Malahar. Bagaimana jika bu dokter mengajari Malahar mengobati orang yang sakit, Malahar mau?"


Pupil mata anak itu membesar, dia mengangguk kegirangan, "Mau sekali bu dokter.. Mau sekali"


"Kalau begitu mulai besok Malahar datang ke klinik ya, nanti bu dokter ajarin gimana mengobati orang sakit"


"Siap bu dokter"


Sekali lagi Khanza mengacak rambut anak itu.


"Oh ya, bagaimana kabar Karele?"


"Ama sudah pulang. Mulai sekarang Ama akan tinggal dengan Malahar dan Karele."


"Benarkah"

__ADS_1


"Iya. Ama bilang Ama akan bekerja di markas pak tentara mulai besok. Jadi Ama tidak akan pergi jauh-jauh lagi."


Khanza mengangkat alisnya penasaran. Tapi belum sempat dia bertanya mengapa ayah Malahar bisa bekerja di markas militer, anak itu lebih dulu berpamitan.


"Malahar tidak bisa lama-lama di sini. Tadi Ama meminta Malahar mengambil umbi dari kebun untuk dimasak. Malahar pamit pulang dulu"


Begitu berpamitan dan mencium tangan gue dan Khanza, Malahar berlari pulang.


"Tukang kebun yang biasanya membersihkan barak mengundurkan diri. Katanya anaknya yang tinggal di Kupang menjemputnya. Jadi Pak Komandan berinisiatif mempekerjakan ayahnya Malahar sebagai tukang kebun di barak" gue menjelaskan.


Khanza mengangguk-angguk paham, "Syukurlah, sekarang ada yang merawat Malahar dan Karele. Tumben pak Komandan punya ide bagus?"


"Misi? Misi apa?"


Suara deru mesin mobil yang berjalan beruntutan mengalihkan perhatian kami. Pasukan berawakan kekar dan berseragam hijau cokelat turun dari dalamnya. Ada yang membawa pipa, ada yang membawa semen, ada yang membawa cangkul dan peralatan-peralatan lain.


"Ini dia misinya"

__ADS_1


"Apa yang akan mereka lakukan?" tanya Khanza bingung.


Gue merenggangkan otot-otot gue sambil berkata, "Bersiap-siaplah, hari ini kita akan gotong royong"


"Gotong royong?"


"Iya. Kita akan melakukan bersih desa dan membangunkan saluran air untuk warga di sini. Mereka tidak perlu lagi jauh-jauh pergi ke sungai untuk mendapat pasokan air bersih. Semakin bersih lingkungan mereka, kesehatanpun akan semakin terjamin. Benar kan bu dokter?"


Khanza tersenyum "Pak tentara pinter deh. Ya udah nanti pak tentara aja yang jadi gurunya,  gue jadi muridnya. Murid yang bandel ini siap dihukum loh pak.."


Hmm.. balik lagi deh Khanza gue yang super duper usil dan centil.


Eh, tadi gue bilang apa?


Khanza gue?


 

__ADS_1


 


__ADS_2