Cakrawala

Cakrawala
Episode 24


__ADS_3

"Tapi nggak gini juga kali. Gue serasa di penjara tau nggak"


"Coba lo pikir. Setelah Mama lo meninggal, apa Papa lo pernah mencari wanita lain buat gantiin posisi Mama lo?"


Gue berpikir sejenak, nggak juga sih. Papa is always be a single parent.


"Enggak kan? Beliau itu sangat terkenal di antara anggota TNI sebagai pribadi yang sangat loyal. Apalagi sama keluarganya. Sebenernya Papa lo bisa aja nikah lagi. Toh dia punya jabatan, punya banyak uang, pasti ada wanita yang mau sama dia. Tapi daripada memikirkan dirinya sendiri, Papa lo lebih mengutaman lo. Dia kerja, jungkir balik mati-matian buat bisa memenuhi segala kebutuhan lo, nyekolahin lo sampe bisa jadi dokter gini. Padahal dia jauh lebih kesepian. Tidak punya teman hidup, teman berbagi masalah, semuanya dia simpan sendiri."


Gue menelan ludah. Setiap kata-kata Kendra membuka pandangan gue tentang Papa.


"Makanya lo jangan bandel-bandel. Kalau terjadi apa-apa sama lo, coba pikirin gimana perasaan Papa lo?"


Gue mendengus, "Kayak lagi dikuliahin pak dosen aja. Eh, apa kita main Jejepangannya pake tema dosen-mahasiswi aja ya. Kayaknya lebih seru. Nanti lo hukum gue karena gue mahasiswi yang bandel. Pake borgol-borgol juga boleh. Lo kan tentara, masak nggak punya borgol sih"

__ADS_1


Gue lihat Kendra memutar bola matanya. Hehe.. Maap ya bapak ganteng, yang namanya Khanza emang susah diajak serius. Kecuali kalau pak tentara ngajak serius yang menjurus ke itu tuh.. nggak usah diperjelas ya.


"Borgol yang punya pak polisi. Gue punyanya senapan"


"Senapannya bapak panjang nggak pak? Pasti gedhe juga dong? Kalau nembak yang keluar warna putih kan? Di simpen dimana senapannya? Di celana ya?"


Kendra menginjak rem seraya menepikan mobil.


"Udah sampai. Coba cek sana ada nggak barangnya." ujar Kendra mengalihkan perhatian.


"Emang saya mau beli apaan di toko obat?"


"Ya kali bapak mau nitip kondom gitu. Buat praktek Jejepangan"

__ADS_1


"Khansa..!" ucap Kendra tegas dan tajam.


"Eh iya pak, mon maap. Khilaf. He..he.."


Sudah toko terakhir gue masuki, tetapi barang yang gue cari nggak ada. Daripada gue pulang dengan tangan kosong, akhirnya gue belanja dikit-dikit. Lumayanlah, kapan lagi gue bisa gesek kartu kredit.


"Lo beli apaan sih banyak banget" sudah gue duga Kendra pasti bakal komen, dasar lelaki, nggak ngerti gimana bahagianya cewek kalau lagi belanja.


"Ini cuma dua kantong plastik. Banyak dari mana? Nih gue beli chiki-chikian buat ngemil di barak, ada juga cokelat, buat jaga-jaga kalau gue lagi badmood atau PMS, trus kebutuhan-kebutuhan pribadi gue. Nah ini gue juga beliin buat lo, ada vitamin biar lo nggak gampang sakit, asupan protein biar badan lo makin bagus, kuat dan tahan lama, trus ada susu kotak, lo kan suka nyusu ya udah gue beliin aja"


Kendra mendengus kasar mendengar kalimat terakhir gue. "Trus ini apa yang di dalem kotak?"


"Oh ini, tadi penjualnya ngasih bonus soalnya gue borong dagangannya banyak banget. Gue bilang kalau gue ke sini sama pacar gue, eh malah dibonusin ini coba. Durex enam pak"

__ADS_1


"Eh, apa? Du.. durex?"


__ADS_2