
"Eh tunggu dulu" gue menahan lengan Mas Pacar. "Kalau kita balik sekarang mbak Egi sama Mas Tristan nggak ada alesan buat dua-duaan. Kasih waktu lah buat mereka. Nggak kasihan apa sama Mas Tristan. Udah jungkir balik gitu tapi dicuekin mulu. Mumpung ada yang mau juga sama macan galak. Kasian gue sama Mbak Egi. Ngurusin gue mulu. Kapan kawinnya tuh orang."
Sepertinya kata-kata gue berhasil mengelabuhi pak tentara. Dia jadi lebih anteng duduk di kursinya. Next step Khanza, keluarkan segala jurus grepe-grepe dan dirty talk elo.
"Ayang.. dingin nih"
"Tadi suruh balik ke kamar nggak mau"
"Peluuk" gue ngerengek.
"Manja banget. Pacarnya siapa sih" lengan Kendra menarik gue mendekat. Tangannya dia sandarkan di bahu gue, membuat kepala gue dengan bebas bersandar di bahunya.
"Pacar pak tentara dong. Dari ujung kepala sampai ujung kaki semua punya pak tentara"
__ADS_1
"Yang bener?"
"Iya dong. Ini rambut punya pak tentara. Bibir punya pak tentara. Payudara juga punya pak tentara. Apalagi makin ke bawah, eksklusif cuma punya pak tentara." Tangan gue mulai bermain-main di kancing kemeja Kendra, menelusupkan jari-jari gue sesekali sehingga menyentuh kulit dada lelaki itu. Tidak lupa rambut gue taruh di bahu kiri, mengekpos perpotohan leher gue yang aduhai serta belahan dada yang menyembul.
"Nggak mau di cek pak asetnya?"
Kendra berdehem. Tenggorokannya mungkin terasa kering. Salah satu tangannya yang masih bebas meraih begitu saja botol minuman yang di-display di atas meja bar. Dia menegaknya hingga hampir separuh. Yes, semoga makin kobam dia.
"Bapak kalau keringetan jadi makin seksih" ucap gue lirih di dekat telinganya. Tentu saja dengan suara serak menggoda. Tidak lupa diakhiri dengan hembusan nafas panas dan sedikit gigitan di daun telinganya.
"Yes daddy.."
Dia membatu, "Ng..ngak kayak gini" ucapnya terbata-bata. Tapi percuma, gue liat matanya udah menggelap. Makasih buat dua gelas tequila dan setengah botol minuman apapun mereknya tadi yang sudah membuat Kendra gue jadi begini.
__ADS_1
"Yes Master.. nghh.." Pupil Kendra membesar ketika tangan gue dengan tiba-tiba menggengam kejantanannya dari luar. Wuih.. pisang ambon ini. Mantap..
"Enggak Khanza.." si ganteng melepaskan tangan gue dari celananya.
Eits.. jangan harap dia bisa kabur. Gantian tangannya yang gue tangkep, lalu gue bimbing masuk ke sela-sela paha gue. Huaahahaha...
"Mas Kendra.. engh" segala macam julukan gue keluarkan untuk meruntuhkan benteng pertahanan Mas Pacar. "Alus kan di sini.." tangannya gue gesekin ke paha dalam gue, membiarkan saraf-sarafnya merasakan sensai lembut nan memabukkan. Sudah pasti si seksi makin hilang kendali. "Ke atas lagi Mas... iya.. ke atas lagi" Tangan Kendra masih gue bimbing menjelajah isi selangkangan gue. "Anget dan basah.. karena Mas Kendraah.. emph.. enak Mas"
Tanpa ngasih kendor, bibir gue langsung nyosor bibir tebelnya. Gue kulum, gue isep, gue gigit, sampai gue ajak duel lidahnya di dalem sana. Untung suasanya di sini remang-remang sepi. Pengunjungnya juga bisa dihitung jari. Pinter gue milih tempat duduknya yang ada di blind spot, jadi nggak terlalu keliatan orang.
Salah satu tangan Kendra gue arahin ke gundukan payudara gue. Sementara yang satunya lagi masih gue bimbing untuk berpetualang di bawah sana. Bibir gue tidak berhenti memberikan rangsangan di mulut dan leher Kendra. Tidak lupa gue kasih perhatian juga buat adeknya yang mulai menegang di bawah sana. Yes, tombol on sudah berhasil gue hidupkan. Sekarang waktunya eksekusi.
"Mas.. kamar yuk"
__ADS_1