
Hi genks.. sudah pada tau kan kalau aku publish ebook di google playbook?
Nah kali ini aku nerbitin ebook baru dengan judul another time. Kalau kalian berminat bisa di dapatkan di google playbook dengan keyword cellestine atau another time. Cuma buat pengguna android ya. Ini nih cuplikan ceritanya.
***
Ada hal yang lupa manusia syukuri. Satu hal yang tidak bisa ditawar namun mencengkeram erat benang-benang takdir kehidupan yang harus mereka jalani. Hal itu bernama waktu.
Aku tidak tau apakah aku harus marah atau kecewa, melihat orang-orang kebanyakan yang justru membuang-buang percuma waktu begitu saja. Tidak kah mereka bersyukur hidup di jaman yang serba bebas? Tapi justru mereka kelewat batas.
Jangan berkeluh kesah oleh keadaan. Modernisasi ini tak seberapa dibandingkan huru-hara yang tak pernah tertoreh dalam tinta sejarah. Aku ada di sana. Memeluk waktu sampai nafasku membiru.
"Non..! Noni...!" seperti biasa, simbok emban, atau yang sering aku panggil Nanny, sedang mencari-cari aku yang hari ini menghilang lagi dari rumah. Sudah biasa dia menangani tingkah polahku yang selalu ingin tahu. Aku tidak bisa hanya diam di rumah layaknya putri-putri bangsawan lainnya. Seperti kali ini, aku menyelinap di pabrik gula mengangumi roda raksasa yang sedang menggilas tebu untuk diambil sarinya.
Sebentar, aku tadi bilang apa? Bangsawan?
Para darah biru itu pasti menertawaiku jika mendengarnya. Di mata mereka aku bukan kaum ningrat yang terhormat, tapi anak dari seorang Nyai, wanita gila harta yang menjual diri mengkhianati bumi pertiwi.
Ya, aku sudah biasa mendengar cemoohan mereka dari belakang. Meskipun kalau di depan, mereka tidak akan berani melakukannya. Siapa yang berani melawan anak bungsu juragan pabrik gula salah satu pimpinan VOC di tanah Jawa?
Mereka memanggil ayahku Meneer, pemilik pabrik gula paling besar di tengah pulau Jawa. Kebunnya hampir menutupi luas persawahan penduduk. Setiap hari, kereta uap datang berjajar-jajar, mengangkut berkilo-kilo butiran halus itu untuk diantar langsung ke pelabuhan. Tujuan akhirnya tentu saja pasar Eropa. Akhir-akhir ini kebutuhan gula sedang melonjak. Dikarenakan revolusi industri dan kultural yang membuat masyarakat banyak menuntut ketersediaan gula.
Tanah subur yang harusnya ditanami padi untuk makanan sehari-hari itu secara paksa diambil alih untuk memenuhi permintaan pasar gula di Eropa. Yang terlihat sepanjang perkebunan hanyalah batang tebu dan beberapa budak kelaparan merindukan nasi untuk dimakan.
Aku tidak munafik. Aku juga tidak membenarkan tindakan ayahku dan kongsi dagangnya yang merebut lahan pribumi seperti ini untuk kepentingan negaranya sendiri. Coba lihat, bagaimana pekerja-pekerja itu bisa makan kalau disekitar mereka yang ada hanya batang tebu?
Tapi mau bagaimana lagi, di darahku tetap mengalir darah ayahku. Meskipun aku tidak suka, aku tetaplah anak seorang Belanda. Penjajah, mereka menyebutnya.
Aku tak punya teman. Teman-temanku hanyalah Nanny-Nanny yang dipekerjakan untuk mengasuhku sejak kecil. Dari mereka aku banyak mengenal adat pribumi. Ibuku juga pribumi. Karena itu, meskipun wajahku blasteran, tapi segala tingkah polah dan pola pikirku seperti pribumi kebanyakan. Hanya saja dalam versi yang telah mencicip bangku pendidikan.
Aku sendirian. Tidak ada yang pernah benar-benar menerimaku. Bagi orang-orang Belanda, aku dipandang menjijikkan karena di darahku mengalir darah pribumi. Sementara bagi para pribumi, aku juga terlalu berbeda untuk menjadi bagian dari mereka. Lalu, aku harus bagaimana?
Seperti anak Indo kebanyakan, untuk mendongkrak statusku di lingkaran sosial, ayahku sengaja menjodohkanku dengan seorang Gubernur Jenderal, namanya Stef de Haffleigh, seorang berdarah Belanda asli.
"Noni.." nafas Nanny sudah ngos-ngosan ketika menemukanku bermain-main di antara tungku pembakaran, "Noni, Nanny cariin dari tadi ternyata di sini!" dia menghembuskan nafas lega.
"Nanny udah selesai buat kuenya?" aku bertanya. Tanganku sibuk membersihkan debu-debu dari kayu yang terbakar melekat di pakaianku. Bahkan wajahku berkeringat bermandikan asap.
"Sudah non. Tapi Noni kenapa di sini. Itu, calon suami Non kesini!" dia memberitahukan dengan panik.
"Stef?" mataku membulat. Bagaimana ini? Pasti ayah akan memarahiku lagi jika Stef menemukanku berkeliaran di sini.
"Nanny ayo cepat pulang!" aku mengangkat gaunku menerobos tungku-tungku perapian dari tanah liat itu menuju pintu belakang. Satu-satunya kesempatanku untuk menyelinap kembali ke rumah dan berpura-pura tidak terjadi sesuatu adalah lewat pintu belakang.
Tapi naas, ketika pintu kayu itu berderit terbuka, nampaklah sosok tinggi yang sedang aku hindari. Stef berdiri di sana dengan senyum bodohnya di dampingi Sinyo, kuda hitam kesayangannya.
"Jadi.. apa konsep hari ini? Gadis penggiling tebu?" Stef menarik alisnya keatas mencibirku.
Aku mengigit bibir. "Jangan bilang-bilang Ayah," lirihku mencoba berkompromi.
"Tergantung. Ikut aku dulu, maka aku tidak akan memberi tahu ayahmu," dia mengulurkan tangganya.
"Kemana?" aku menyelidik.
"Ikut saja," dia tidak mau memberitahu.
"Naik itu?" aku menunjuk kuda hitam yang sekarang tengah memekik memamerkan giginya yang besar-besar.
Sref mengelus rambut Sinyo, "Tentu saja. Dia kan temanmu!" ucapan Stef membuatku mengernyit.
Ada cerita di balik nama Sinyo yang diberikan Stef. Entah kenapa lelaki itu lebih suka mengendarai kuda jika berpergian jarak dekat di saat semua pemuka-pemuka VOC mulai marak menggunakan mobil. Dia memang agak aneh.
Stef merawat Sinyo sejak kuda itu tidak lagi bertuan. Tapi dia baru memberinya nama setelah bertemu denganku. Stef bilang aku yang memberinya inspirasi untuk menemukan nama yang tepat bagi Sinyo.
Orang-orang biasa memanggilku Noni. Panggilan untuk mereka bayi-bayi berdarah campuran. Sejak kakakku menikah dan dibawa ke Batavia, aku jadi sendirian di sini. Aku kesepian. Karena itu Stef menamai kudanya Sinyo. Setidaknya dengan mendengar ada yang memanggil Sinyo, aku tidak merasa seorang diri. Ya, Sinyo yang sejatinya merupakan panggilan untuk bayi lelaki berdarah campuran itu dia sematkan untuk kudanya. Demi aku.
Detik itulah hatiku bergetar untuk pertama kalinya karena seorang lelaki. Sejak saat itu aku berpikir menikah dengan Stef bukanlah ide buruk. Setidaknya lelaki itu tergila-gila padaku, atau katakan saja pada kecantikanku.
Semua orang pasti setuju kalau aku cantik. Ditambah lagi tubuhku yang melekuk sempurna dan kulit putih bercahaya. Itulah alasan Stef mengejar-ngejarku sejak pertama kali berjumpa. Dia pantang menyerah, bahkan langsung menemui ayahku untuk meminangku.
"Kenapa diam saja? Ayo ikut!" Stef masih mengulurkan tangannya.
"Lelaki lain akan menawari aku menumpang mobilnya, sedangkan kamu, dengan kuda?" aku mendelik tak percaya. Stef bahkan punya lima koleksi mobil klasik yang langsung dikirim dari Jerman, tapi kemana-mana malah membawa Sinyo.
"Kalau aku membawa mobil, nanti tidak bisa memelukmu dari belakang," tanpa persetujuan, lelaki itu langsung menarik lenganku dan mengangkat tubuhku hingga duduk di punggung Sinyo.
"Nah, kalau begini kan aku bisa memandangi wajahmu yang cemong karena asap hitam lebih dekat!" celotehnya membuatku buru-buru mengusap pipi. Dia hanya terkekeh kecil sembari menghentakkan tali kudanya membawa kami pergi entah kemana.
Aku meregangkang tubuhku setelah Sinyo berhenti di pinggir aliran sungai. Sepertinya kuda itu tak mau menurut perintah majikannya.
"Kenapa berhenti di sini? Sinyo! Jawab aku!" dia mengajak bicara kudanya seperti orang gila. Terkadang menghentak-hentakkan kakinya ke tanah karena Sinyo seolah tak memperdulikannya, malah sibuk makan rumput yang tumbuh subur di tepian sungai.
"Mungkin Sinyo lapar," aku sibuk bermain-main air. Kapan lagi pergi ke tempat seperti ini. Pergi barang sebentar dari rumah saja Nanny sudah bingung menyuruh pulang. Apalagi kalau ketahuan ibuku, bisa habis aku dimarahi.
"Bukan begini rencananya," di frustasi sendiri. "Huh, semua ini gara-gara kamu. Awas nanti kamu puasa makan rumput!" dia mengancan Sinyo yang dibalasa dengan ringkikan.
"Rencana apa?" aku menoleh ingin tahu.
Dia mengacak rambutnya kasar lalu bergabung bersamaku duduk di antara bebatuan.
__ADS_1
"Itu.. em.. aku.." dia nampak ragu-ragu.
"Melamarku?" alisku terangkat.
"Kamu tahu?" dia terkejut.
Aku mengagguk, "Nanny yang bilang. Katanya dia mendengar kamu menyuruh orang untuk mengumpulkan seratus mawar, dan juga menyiapkan cincin." Aku terkikik.
Dia mendesah berat, "Kenapa orang-orang itu tidak bisa menutup mulut," kesalnya.
"Karena aku sudah tau, mana cincinnya?" aku menyodorkan tanganku.
"Seharusnya rencanaku lebih romantis daripada ini, tapi ya sudahlah," dia meraba-raba kantong bajunya mencari sesuatu. Raut wajahnya berubah. Sepertinya dia tidak menemukan barang yang dicarinya. "Gawat!" Stef mengacak rambutnya sendiri.
"Kenapa?" aku mengernyit.
"Cincinnya..." dari ekpresi Stef aku sudah bisa menebak kalau dia lupa membawa cincinnya.
"Ya sudah," aku menarik tanganku kembali.
"Aku akan suruh orang unt-" belum selesai bicara, aku menarik ujung bajunya.
"Sudahlah. Besok saja sekalian di pernikahan kita," ujarku.
"Tapi.." dia seperti tidak rela.
"Lagi pula kamu sudah melamarku langsung di depan ayahku. Aku tidak akan kabur kemana-mana," kalimatku membuat sudut bibirnya melengkung ke atas.
Stef menggaruk tengkuknya, "Aku hanya ingin memberikan sesuatu yang spesial untuk kamu. Tidak seperti orang kebanyakan yang langsung menikah begitu saja. Tapi malah berantakan seperti ini," dia menyesal.
Dengan malu-malu, aku meletakkan kepalaku di pundaknya, "Ini juga spesial. Tidak ada lelaki yang membawaku kabur dengan kuda seperti ini sebelumnya."
Stef mengulum senyumnya, menutup sebisa mungkin bunga-bunga yang tengah tumbuh di hatinya.
"O iya, aku mendapat kabar kalau kakakmu sedang dalam perjalanan ke sini," lelaki itu memberi tahu.
"Jess?" mataku membulat mendengarnya.
Stef mengangguk, "Kakakmu bersikeras ingin menjadi pembawa cincin di pernikahan kita nanti."
"Sudah berapa lama ini? Dua tahun? Tiga tahun? Aku sangat merindukannya!" aku mengentakkan kaki begitu semangat. "Ayo antar aku pulang. Aku harus memberitahu Nanny untuk memasak semua masakan kesukaan Jess!" aku berdiri lalu menarik lengannya.
"Jadi kakakmu lebih penting dari pada aku?" cibirnya.
"Tentu saja," jawabku bercanda. "Sinyo! Berhenti makan. Saatnya antar aku pulang," aku berbicara pada kuda hitam itu.
Tidak disangka Sinyo merespon dengan ringkikan. Dia pun berhenti mengunyah lalu menyiapkan tubuhnya utuk kunaiki. Baik aku dan Stef sama-sama tekejut.
Aku hanya terkikik melihat Stef memarahi kudanya. Lihat kan? Bahkan kecantikanku pun membuat kuda menurut.
***
Revolusi industri mengubah tatanan hidup manusia secara drastis. Dari yang semula berpusat pada bidang agraria menjadi berbasis teknologi. Namun semakin pintar manusia, semakin serakah mereka dibuatnya.
Aku kira tidak akan ada yang lebih buruk daripada krisis Malaise. Depresi besar yang dimulai pada Selasa kelabu, jatuhnya bursa pasar saham di Wall Street, Amerika, yang berimbas pada politik ekonomi di hampir semua negara selesai perang dunia pertama.
Waktu itu aku masih kecil. Masih belum bisa mencerna apapun. Yang aku ingat, ayahku pernah frustasi karena pasar gula di Eropa di pangkas, menyebabkan pabrik keluarga kami terancam bangkrut. Tapi untung saja, zaman Malaise itu dapat kami lalui dengan baik.
Aku kira itu adalah era paling kelam di dalam hidupku. Tapi ternyata aku salah. Masih ada yang jauh lebih kelam lagi dan semua itu bermula setelah Jepang menyerang pangkalan laut Amerika di Pearl Harbour.
Aku sudah bersiap-siap sejak subuh tadi. Wajahku dipulas dan rambutku ditata oleh profesional paling terkenal yang didatangkan dari Batavia. Kakakku bahkan sudah tersenyum sangat anggun sambil mengelus perutnya yang hamil satu bulan.
"Aku akan melarangmu datang kalau tau kamu sedang hamil muda," celotehku dari depan cermin.
Dia tersenyum, "Dan melewatkan pernikahan adikku begitu saja? Kamu kira karena sedang hamil aku jadi lemah? Tenang saja, keponakanmu sangat kuat," ujarnya.
"Kenapa tidak memberi kabar kalau sedang hamil?" rambutku sudah selesai ditata, kini aku menoleh ke arahnya.
"Kejutan," jawabnya singkat sembari membenarkan lipstik di bibirku.
"Aku tidak sabar menggendongnya," aku bersemangat. "Dia pasti sangat lucu. Ngomong-ngomong siapa namanya?" aku mengelus perut kakakku. Sangat mengagumkan karena ada kehidupan lain yang sedang singgah di sana.
"Kamu nanti juga punya sendiri," dia selesai menyempurnakan make-up ku.
"Kita harus piknik bersama nanti. Pasti akan sangat lucu kalau anak-anak kita menunggangi Sinyo," aku memekik girang.
"Sinyo? Siapa?" dahi Jess berkerut.
"Ada. Temanku," celutukku membayangkan kuda hitam itu.
"Kamu punya teman?" dia terkejut.
"Tentu saja. Dia sangat tampan," sahutku.
"Yang benar saja? Aku akan bilang pada Stef!" Jess mengancam.
"Bilang saja. Siapa takut?" aku terkekeh di sela-sela ancamannya. Belum tau saja kakakku kalau Sinyo adalah seekor kuda.
Hari itu harusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupku. Hanya dalam hitungan menit aku akan mengucapkan janji sehidup semati dengan lelaki yang aku cintai. Tapi, berita yang diudarakan lewat siaran radio itu menghancurkan semuanya.
Hari penikahanku seharusnya menjadi hamparan bunga, bukan lautan darah seperti ini.
__ADS_1
Ternyata benar rumor-rumor yang aku dengar dari berita-berita di radio. Jepang itu kejam. Tak heran jika mereka mau bergandengan tangan dengan si tangan baja Nazi di Jerman. Prajurit-prajurit bemata sipit itu tak segan menghunuskan katana dan samurai mereka bak kesetanan. Ditambah lagi suara meriam dan dentuman senapan semakin membabi buta. Sumpah kesetiaan terhadap kekaisaran matahari terbit membuat mereka tak takut mati. Mayat-mayat bergelimpangan, bau anyir darah menguar di udara. Aku menjerit ketika ruang dandanku didobrak secara paksa, dan muncullah serombongan tentara beringas itu.
Untung saja Stef datang tepat waktu. Dengan pistol di tangan, dia membidik kepala-kepala manusia tak berperasaan itu.
"Kamu baik-baik saja?" raut khawatir sangat kentara telukis di wajahnya.
Belum sempat aku menjawab, datang lagi segerombol pasukan yag membuat kekacauan dimana-mana. Mereka membanting barang, memecah perabotan, dan meluluhlantakan isi rumah. Bahkan, alat-alat di pabrik serta ornamen-ornamen material padat mereka jarah tak bersisa.
Stef sibuk membentengiku di balik tubuhnya. Aku berpelukan dengan Jess, dan juga Nanny yang membuntuti kami dari belakang. Pintu belakang adalah satu-satunya akses untuk melarikan diri.
Tapi nasib baik tidak berpihak pada kami. Dari arah yang berlawanan, kami dikepung oleh tentara-tentara bermata sipit itu. Masing-masing sudah siap dengan senapan di tangan. Kami kalah jumlah.
"Cepat lari! Aku akan menahan mereka disini!" perintah Stef pada kami bertiga.
Aku menggelengkan kepala. Pipiku sudah basah karena air mata. Aku terus memegang tangan Stef, tak ingin melepasnya. Tapi lelaki itu memisah dengan paksa tautan kami dan menghardikku untuk cepat pergi, "Lari Sha! Lari!"
"Tidak.. tidak!" aku menahan tubuhku yang diseret Jess. Dia terus berbicara di telingaku agar aku segera menyelamatkan diri. Tapi aku menuli, aku hanya ingin tetap bersama Stef.
Jess membawaku semakin menjauh dari Stef. Air mataku terus mengalir, pandanganku mulai kabur karena titik-titik bening itu. Stef ada di sana, berdiri sediri menghalau butir-butir peluru yang mendesing di telinga.
Jess membawaku berbelok ke sebuah bangunan-bangunan kecil tempat Nanny dan pesuruh-pesuruhku yang lainnya biasanya tidur. Pandanganku masih terpaku pada Stef. Laki-laki itu semakin tersudut. Hingga akhirnya, hal terakhir yang nampak di pandanganku adalah, ujung samurai tentara brengsek itu telah menembus perutnya.
Aku berteriak, tapi Jess membungkamku. Aku berontak ingin lari memeluk Stef, namun cengkeraman kakakku lebih kuat dari tenagaku. Darah dimana-mana. Mayat bergelimpangan. Bahkan satu diantara mereka, tergeletak tubuh ayahku yang sudah tidak bernyawa.
Aku menahan tangis. Para prajurit kejam itu dengan biadabnya mencabik-cabik perut ayahku. Ujung samurai mereka meneteskan darah. Bahkan sepatu mereka juga meninggalkan jejak darah.
Satu dari mereka menangkap Nanny, lalu tanpa perasaan memutar kepalanya hingga leher Nanny patah. Tubuhku semakin lemas menyaksikan ini semua.
Jess membawaku ke kamar belakang. Dia menyembunyikanku di dalam sebuah almari.
"Kamu diam di sini. Jangan bersuara!" lirihnya sebelum menutup pintu almari itu.
Aku menggeleng, ingin menolak tapi tubuhku sudah lemas tidak berdaya. Ruangan sempit ini sangat gelap dan pengap. Satu-satunya sumber cahaya hanyalah dari lubang kecil tempat aku bisa mengindik keluar.
Aku melihat Jess berdiri di depan pintu. Ada tiga tentara Jepang yang sudah berhasil mendobrak pintu itu. Mereka menyudutkan Jess. Aku membungkam mulutku agar tidak bersuara.
Pria-pria brengsek itu tertawa penuh kemenangan. Berulang kali mengucapkan kata 'cantik' dalam bahasanya dan menguliti Jess penuh nafsu dari ujung ke ujung.
Aku pingsan. Entah berapa lama aku meringkuk di tempat sempit itu. Mataku terbuka ketika seorang prajurit menemukanku. Dia menyeringai. Mulutnya terus berucap kirei.. kirei... membuatku semakin memojokkan tubuhku. Aku begidik tatkala tangan kotornya terjulur ingin mengelus pipiku.
Aku tau pernis nafsu apa yang membara di matanya. Namun aku tak akan membiarkan dia menyentuhku sejengkalpun. Tapi ternyata, kekuataanku tidak sebanding dengan lelaki itu. Dia menarikku keluar lalu merobek bajuku hanya dengan satu tangan.
Saking ketakutannya, aku tak menyadari kalau Jess sudah tidak ada di sana. Mataku terus melihat sekeliling, kalau-kalau ada benda yang bisa kupakai untuk memukul kepala prajurit itu.
Tapi aku tak bisa meraih apapun. Lelaki itu melemparku ke ranjang lalu mengungkungku dari atas. Payudaraku hampir terekspos membuat jeritanku semakin memekakkan telinga. Sebelum pria brengsek itu berhasil menarik turun rokku, pintu kamar terbuka dan nampaklah seorang pemuda dengan seragam yang sama namun tanda pangkat lebih tinggi memandangiku tanpa ekspresi.
Memelas, aku memohon padanya tanpa kata, hanya dengan sorot mata dan rintihan di batin. Dia masih sangat muda. Usianya mungkin sekitar dua puluh tujuh tahun. Rahangnya tajam, tingginya hampir menyentuh ujung daun pintu. Dan yang paling istimewa adalah warna kulitnya, sedikit gelap daripada orang-orang negara matahari terbit seperti rekan-rekannya. Mungkin karena sering berada di medan perang, paparan matahari telah menjadikan kulitnya terlihat sehat berwarna.
Urat-urat wajah lelaki itu mengeras. Dia terlihat marah sebelum mengucapkan sumpah serapah yang membuat prajurit di atasnya langsung membungkuk memohon ampun. Pelan-pelan aku mengamati huruf hiragana yang menempel di dada sebelah kirinya. Kaiko, aku tidak fasih bahasa Jepang tapi aku cukup bisa mengeja potongan huruf sederhana itu.
Dia berjalan mendekat ke tepian ranjang, tempat di mana aku sedang memeluk tubuhku dengan pakaian berantakan. Kaiko menyeringai melihat penampilanku. Berulang kali bibirnya membisikkan kata kirei.. kirei... memuji kecantikanku.
Daindancho itu melepas jaketnya dan memakaikannya di tubuhku. Dia mengamatiku lekat-lekat sembari bertanya, "Siapa namamu?"
Tapi aku terlalu jijik untuk membalas pertanyaannya. Bagaimanapun dia adalah bagian dari pasukan bengis yang telah membunuh calon suamiku, menghabisi ayahku, memperkosa kakakku, dan ibuku... oh dimana ibuku? Aku tidak melihatnya di antara kekacauan tadi.
"Tidak mau menjawab? Baiklah." Kaiko mengangkat jarinya lalu meraba bibirku. "Tidak masalah. Karena bibir ini akan lebih berguna untuk mendesahkan namaku nanti malam."
Aku terperanjat mendengar apa yang keluar dari mulutnya. Berusaha berontak dari cengkeraman dua prajurit yang kini merapat di sisi-sisiku, tenagaku ternyata tak sebanding.
"Tubuhmu sangat cantik ketika menggeliat," Kaiko menampakkan cengirannya. "Aku tak sabar melihatnya menggeliat tanpa busana!"
"Lepaskan! Dasar brengsek!" semburan amarahku hanya dibalas seringai merendahkan dari sudut bibir lelaki itu.
Tubuhku sudah terlalu lemas untuk berontak. Bahkan tidak mampu melawan geisha-geisha perempuan yang kini tengah merawatku. Mereka memberiku makan, aku menolak. Mereka memandikanku, aku kehabisan energi untuk mengelak. Bahkan saat melucuti pakaianku satu demi satu dan menggantinya dengan kimono merah muda bermotif sakura, aku hanya diam tak bersuara.
Mereka meninggalkanku di sebuah kamar dengan kelambu putih. Tentara-tentara Nippon berjaga di luar. Hanya cahaya keemasan dari lampu neon kecil yang menerangi tempat ini. Aku mendengar suara kaki berjalan mendekat. Sosok tinggi besar itu kini mensejajarkan tubuhnya, duduk di dekatku di tepi ranjang.
"Mereka bilang kamu belum makan. Makanlah!" Kaiko mengulungkan piring berisi nasi dan lauk pauk di tangannya.
Aku melengos tak memperdulikan. Sorot amarah dan kebencian masih terlihat jelas di gelagat tubuhku.
Kaiko membuang piring di tangannya. Keramahannya kini berubah menjadi ketegasan. "Tidak ada gunanya kamu bersikap seperti itu, Keisha!" bentaknya.
Aku tekejut. Bagaimana bisa dia tahu namaku? Ah, mungkin saja dia sudah melihat silsilah keluargaku.
"Isi saja perutmu dan layani aku bercinta malam ini," tanpa basa-basi sedikitpun pria itu dengan lugas mengatakannya.
Aku meliriknya penuh kebencian, "Jangan harap kamu bisa menyentuhku. Aku lebih baik mati daripada melayani lelaki brengsek sepertimu!"
Dia terkikik pelan seolah-olah ada hal lucu yang baru saja ku ucapkan. "Memangnya kamu punya pilihan?" dia mengangkat alis. Wajahnya berubah menjadi serius, "Hidupmu dan matimu kini ada di tanganku. Jadi jangan berharap untuk mati jika aku tidak mengijinkannya."
Aku mengamati sekitar, mencari kalau-kalau ada benda tajam yang bisa kupakai untuk menikam tubuhku sendiri. Ayahku meninggal, kakakku diperkosa, ibuku entah dimana, dan calon suamiku juga sudah meregang nyawa. Apa gunanya aku hidup. Lebih baik aku menyusul mereka.
Tapi sebelum tanganku sempat meraih garpu di meja, Kaiko lebih dulu mencengkeramku dan menjatuhkanku ke ranjang.
Pria itu mengangkangiku. Aku bisa melihat jelas wajahnya dalam posisi seperti ini. Dia tampan, tak bisa aku pungkiri itu. Dia juga punya daya tarik fisik yang luar biasa sulit ditolak. Tapi kala itu, pikiranku terlalu kalut untuk mengakuinya.
"Kamu terlihat cantik dengan kimono," suara berat Kaiko menyapa indera pendengaranku. Nafasku naik turun, membuat dadaku bergerak seirama. Aku ingin menatapnya dengan penuh kebencian, dan menyumpah-serapahi laki-laki ini tepat di depan wajahnya. Namun energiku sudah hilang entah kemana, aku terlalu lemas untuk menolaknya.
"Tapi..." desisnya, "Kamu akan terlihat lebih cantik tanpa apapun."
__ADS_1