
Salah besar. Kabur tanpa perhitungan itu salah besar. Sekarang gue terlunta-lunta entah dimana. Gue pikir, dengan menyusuri jalanan yang tadi gue lewati bisa membawa gue kembali ke kota. Tapi nyatanya gue malah tersesat, nggak tau dimana. Cuma ada pohon dan pohon. Satu tempat bisa gue lewati berulang kali. Ini gue dinganggu Om Jin apa ya? Sedari tadi cuma muter-muter sekitaran itu terus. Di saat-saat seperti inilah gue baru nyariin mbak Egi. Mbak Egi, selametin Khanza dong. Khanza janji nggak bakal bandel lagi deh, kalau nggak khilaf tapi. Om Jin, jangan kurung Khanza di sini dong. Khanza kan takut. Nanti kalau ketemu ular gimana.
"Aaaaaaa" gue lari setelah ada ular warna ijo tiba-tiba nongol dari dahan pohon, pas banget posisinya sejajar sama wajah gue. Matanya sempet tatap-tatapan sama mata gue, untung nggak jatuh cinta.
Om Jin maafin Khanza. Khanza kapok. Jangan gangguin Khanza lagi, please. Nanti Om Jin Khanza traktir kembang tujuh rupa deh, tapi balikin dulu Khanza ke rumah.
Bruk. Gue terjatuh.
"Angkat tangan" Gue denger suara decitan senjata sebelum pelatuk ditarik. "Angkat tangan!" kali ini suaranya lebih keras, ngebentak gue.
"Hwahwahwa." Gue nangis gara-gara kaget dibentak. Tangan gue otomatis ke angkat. Papa, tolongin Khanza. Khanza nggak bakalan di bunuh kan? Khanza ngak bakalan di perkosa kan? Nanti kalau Khanza diperkosa terus dibunuh gimana? Nggak mau kalau arwah Khanza gentayangan di hutan. Nggak ada tempat buat ajib-ajibnya.
"Nggak usah nangis. Sekarang berdiri"
Galak banget sih ini. Tunggu aja sampai Papa tau, mengkeret kamu digalakin sama Papa.
Gue berdiri perlahan-lahan kemudian memutar badan.
"Loh, elo?" rasa takut gue ilang. "Elo kan yang ngebokep-emh..emh" secepat kilat, lelaki yang tadi ngebentak gue menarik tangan gue kebelakang dan membekap mulut gue dengan tangan besarnya. Membuat anak buahnya terheran-heran. "Awas kalau lo ngomong macem-macem" bisiknya lirih di telinga gue.
__ADS_1
"Ngomong yang sopan. Saya ini Letnan Kolenel. Jangan pakai gue-elo" sekarang dia berteriak supaya semua anak buahnya mendengar.
Gue mengangguk-anguk memberikan isyarat setuju. Setelah itu, dia melepaskan bekapannya dari mulut gue.
"Sekarang bilang, apa yang kamu lakuin di sini"
"Saya nggak tau pak. Saya cuma jalan aja, terus sampai sini"
"Nggak usah bohong. Kamu bukan warga lokal kan? Ngapain mengendap-endap mencurigakan gitu di daerah perbatasan. Kamu menyelundupkan sesuatu? Atau kamu mata-mata negara?"
"Enggak pak.. saya warga sipil biasa"
Mampus. KTP gue kan ada di koper.
"Eh, saya nggak bawa pak"
"Kalau kamu nggak bisa membuktikan identitas kamu, gimana saya bisa percaya?"
"Tapi beneran pak, saya bukan penjahat."
__ADS_1
"Nggak ada cara lain. Ikut saya ke pos penjagaan"
***
Oh, ternyata mas-mas gula jawa yang gue godain semalam tuh tentara. Pantesan badannya bagus gitu. Kalau diliat siang-siang gini, dia manis juga. Rahangnya tajem. Warna kulitnya eksotis. Bahunya kokoh. Ah, jadi pengen nyandar di situ. Gue kerjain ah.
"Lepasin saya dong pak, saya bener-bener warga sipil biasa." ronta gue saat disekap di salah satu ruang tertutup di pos penjagaan.
"Coba liat mana KTP kamu?"
"Aduh pak, KTP saya kebawa temen saya"
"Kalau kamu nggak bisa buktiin identitas kamu, saya nggak bisa lepas kamu"
"Tapi saya bener-bener nggak ngapa-ngapain. Sumpah. Mana saya tau itu daerah perbatasan."
"Semua yang ketangkep juga ngakunya gitu. Kesasar lah, salah jalan lah, tapi buktinya ada yang menyelundupkan narkoba, miras, bahkan bahan bakar minyak"
"Saya nggak menyelundupkan apa-apa pak. Beneran deh. Kalau nggak percaya geledah aja saya. Nih baju saya dibuka sekalian" Gue nyodorin payudara gue ke depan.
__ADS_1
"Nih saya buka satu-satu ya"