Cakrawala

Cakrawala
Episode 91


__ADS_3

"Kamu sumringah banget pagi-pagi."


"Ya iya dong. Pagi-pagi udah sarapan bubur ayam buatan calon mantu Papa"


"Satriya?"


"Enak aja. Mana bisa Satriya masak? Bedain gula sama garam aja nggak bisa"


"Kamu juga nggak bisa kan?"


"Kalau nggak bisa Khanza nggak mungkin lulus kedokteran dong Pa. O iya, Khanza udah bisa nanak nasi loh Pa. Calon mantu Papa yang ngajarin. Katanya biar nanti Khanza bisa siapain makan buat Papa. So sweet nggak Pa?"


"Kamu belajar masak?"


"Katanya Papa pengen sekali-kali dimasakin Khanza? Ini aku belajar biar bisa masak buat Papa. Kendra bilang nggak boleh bikin susah orang tua, jadi anak harus berbakti. O iya, Papa udah diminum vitaminnya? Itu Kendra yang milihin loh Pa. Biar Papa selalu fit, nggak gampang capek, dan darah tingginya nggak kumat-kumat lagi."


Pacar gue suka nggak romantis sama gue, tapi bisa romantis banget sama bokap gue. Bayangin aja, tiap hari dia ngirim go food buat Papa. Udah ditolak-tolak, tapi nggak pernah nyerah. Sampai-sampai Papa pusing dibuatnya.


"Bilangin itu sama Kendra, stop kirimin Papa makanan, vitamin, alat pijet, aromaterapi, terus apa lagi itu. Aduh, kantor Papa sampai penuh begini."


"Namanya juga lagi usaha Pa. Demi anak Papa loh itu, masak Papa nggak trenyuh sih ada laki-laki yang sebegitu merjuangin Khanza"


"Mulai lagi!"


"Hehehe.. Pokoknya bakal ngerecokin terus sampe Papa ku yang ganteng ini luluh"


"Udah sana kamu balik kerja. Jangan mentang-mentang di sana nggak banyak pasien terus males-malesan"


"Iya Papaku sayang. Papa jangan lupa bahagia ya. Tiap hari Khanza doain Papa supaya Papa bahagia terus loh. Baik kan Khanza?"


"Kalau kamu nurut, Papa bakalan bahagia"


"Ah masak, nanti kalau ternyata udah nurut tapi Khanza nggak bahagia gimana? Papa nggak nyesel?"

__ADS_1


Kata-kata gue kayaknya berhasil sedikit mencubit ginjal si Papa. Ada jeda sebentar sebelum akhirnya dia angkat bicara, "Udah ya, Papa matiin teleponnya"


"Dadah Papa. Sehat terus ya. Biar bisa nimang cucu dari calon mantu!"


"Khanza!"


Tut..tut..tut..


Daripada dikuliahin tiga sks, langsung aja gue pencet tombol merah di layar ponsel. Hehehe... Ups, gue salah, kayaknya gue bakal dikuliahin tiga sks, bukan dari Papa, tapi dari lelaki yang berdiri di dekat pintu kamar mandi. Dia bersedekap dada hanya dengan handuk yang melilit pinggulnya. Matanya menatap gue tajam setelah mendengar apa yang baru saja gue ucapkan.


"Nimang cucu?" sindirnya.


"Eh, ayang udah selesai mandinya?" gue berusaha mengubah topik pembicaraan.


"Nanti kalau Papa kamu salah paham gimana? Aku lagi bangun imej ini lho di depan Papa kamu"


"Kan aku cuma bilang biar bisa nimang cucu dari calon mantu. Nggak ada yang salah kan? Lagian ayang udah yakin bakal diterima jadi calon mantu?"


"Nah gitu dong pacar aku. Sini aku cium dulu, biar semangat jadi calon mantu"


"Eits.. nggak bisa" tangan Kendra menghentikan wajah gue yang udah nyosor ke depan.


"Kok gitu?" gue cemberut.


"Halal dulu baru cium-cium."


"Kelamaan.. keburu kering ini bibir"


"Ya makanya ayo nikah secepetnya. Biar kamu bebas ngapa-ngapain"


"Tapi-"


"Udah sekarang kamu belajar jadi calon istri dulu. Pakaian aku mana? Sini pakein"

__ADS_1


Beberapa hari ini gue diospek sama Kendra. Katanya disuruh latihan jadi istri yang handal dan berbakti. Nggak, gue nggak di suruh latihan masak, setrika baju, atau beberes rumah. Cuma dibiasain melakukan hal-hal kecil tapi bermakna, seperti bikinin susu, makein baju, atau cium tangan saat mau pergi.


"Udah rapi nih. Aduh, gantengnya pacarku. Jadi pengen nyium."


Udah nyosor, tapi pipi gue ditahanan. Sialan emang.


"Nanti cium-ciumnya kalau udah nikah. Sekarang cium tangan dulu" ucapnya sambil menyodorkan satu tangannya.


Gue mendecih kesal namun tetap melakukan apa yang Kendra minta.


"Nah, gini. Jadi calon istri yang berbakti"


Gue cuma diem sambil menjab-menjeb.


"Udah ya. Aku berangkat dulu" pamit Mas Pacar yang hari ini ditugaskan untuk memimpin pasukan operasi tapal batas, mengecek kondisi pathok-pathok di perbatasan negara.


Sebelum melangkah keluar, Kendra menyempatkan mencium kening gue lembut.


"Iiih kok curang. Kamu boleh cium-cium aku tapi aku nggak boleh cium-cium kamu"


"Dilarang protes sama calon suami. Nanti protesnya kalau udah nikah aja"


"Dasar curang!"


"Iya, aku juga sayang sama kamu. Baik-baik di sini ya. Jangan bandel"


"Nggak nyambung!"


"Nanti disambungin pake ijab qabul"


"Aish.. nyebelin"


__ADS_1


__ADS_2