
"Heh, bengong aja. Itu piringnya ditumpuk di situ" kalimat Mbak Egi membuat gue terkesiap.
"Eh iya mbak. Di sini ya?"
Wanita itu mengangguk, "Kamu kenapa sih dari tadi bengong aja? Aduduh.."
Melihat Mbak Egi meringis kesakitan gue langsung panik, "Eh kenapa mbak? Udah mau mbrojol ya? Ya ampun Mas Tristan... Mas Tristan buru- emphh.." mulut gue dibekap mantan bodyguard. Gila, perut udah mlendung gedhe gitu tapi masih juga lihai.
"Kamu ini. Nggak usah malu-maluin. Ini tadi bayinya cuma nendang-nendang" bisiknya sambil melepaskan mulut gue.
Dari balik pintu, muncul sang mantan yang sekarang udah sah jadi suami macan betina kesayangan gue ini, "Kenapa? Kenapa?" teriaknya panik. Tangan kanannya masih memegang sapu, sementara di tangan kirinya masih ada serok sampah. Paling gercep emang nih laki kalau masalah bininya. Sampai rela diperbudak siang malam. Dulu waktu jadi pacar gue kenapa nggak gitu ya? Eh maaf Ken, khilaf, kamu jangan cemburu ya.
__ADS_1
"Nggak papa. Kamu balik lagi sana. Sapu yang bersih. Tikernya digelar sekalian"
Sabda sang istri tentu saja langsung dilaksanakan, "Siap kerjakan." Huh, pake acara hormat-hormat ala militer segala. Jadi kangen ayang gue kan..
Ngomong-ngomong, sejak Papa resmi pensiun segala macam tunjangan yang diperoleh selama masa bakti ditarik lagi. Termasuk masalah per-bodyguard-an ini. Bebas deh gue kemana-mana nggak ada buntutnya lagi. Mbak Egi juga mengundurkan diri sejak tau dia hamil. Kalo diinget-inget, perjuangan Mas Tristan buat ngiket macam betina satu ini lumayan rumit juga. Meski tau udah dihamilin, tapi belum mau dinikahin. Katanya jadi single parent juga nggak masalah. Savage nggak.. Dimana-mana kalu udah mbledung pihak ceweknya yang ngemis-ngemis buat disahin. Eh, ini malah kebalikannya. Katanya sih Mbak Egi nggak tega ninggal gue nikah. Aduh, jadi merasa bersalah. Setelah gue turun tangan, pasang tantrum dan ngancem ini itu, diselingi drama stripping tujuh hari tujuh malam, akhirnya si macam betina luluh juga dan mau menerima pinangan mantan gue. Syahdu banget nggak kisah percintaan gue? Udah nolongin mantan nikahin gebetannya. Pacar nggak ada kabarnya. Tambal lagi, ditinggal calon suami kawin lari.
Iya, akhirnya Satriya berani speak up di depan keluarganya. Hasilnya? Bonyok-bonyok tuh muka dihabisin bokapnya. Sementara nyokapnya nangis-nangis terus semenjak ditinggal anak kesayangannya dinas ke Lebanon. Satriya nikahin Talitha secara sirih, belum tercatat dengan legal. Gimana mau legal, nikah sama tentara tuh ribet bos, apalagi ini ditentang keluarga yang notabenenya para petinggi militer semua. Otomatis nggak di ACC lah proposal nikahnya. Ya udah deh nggak papa, yang penting halal dulu. Sapa tau kalau udah beranak pinak jadi luluh tuh hati orang tua.
Gue mendengus kasar, "Papa Mbak"
Mbak Egi mengangkat alisnya.
__ADS_1
"Papa bilang nanti malem ada yang mau dateng ngelamar Khanza"
Bisa gue lihat perubahan ekspresi di wajah Mbak Egi. "Terus?"
"Nggak tau. Khanza bingung"
"Kenapa nggak dicoba aja?"
Sebelum gue membuka suara Mbak Egi lebih dulu menyela, "Hidup itu harus tetep berjalan Sa. Apa salahnya mencoba. Toh juga nggak ada yang tau kedepannya. Realistik Khanza. Kamu juga harus bahagia."
Kamu harus bahagia. Kata-kata itu lagi. Pesan terakhir Kendra sebelum bencana itu datang melanda*. Ken, kenapa semua orang menyuruh aku realistik? Apa benar aku harus bangun dan berhenti berharap kamu akan kembali? Inikah saatnya kita sudahi? Penantian panjang yang tiada bertepi?*
__ADS_1