Cakrawala

Cakrawala
Episode 47


__ADS_3

"Kebetulan lo ada di sini. Pinjem ponsel lo" ucap Regina to-the-point.


"Buat apaan?" tanya gue sambil mengulurkan benda kotak berwarna hitam itu.


"Ngecek lokasi Khanza. Dia kabur lagi"


Mata gue membesar, "Kabur? Sama si mata sipit?"


"Siapa lagi"


Jancuk. Gue kecolongan.


"Udah kelacak?" saking nggak sabarnya gue ngelirik layar ponsel yang dipegang wanita itu.


"Nah ketemu"


"Dimana?"


"Hotel Matahari"


"Hotel???"


Tiba-tiba pikiran gue jadi blank. Tanpa menunggu lebih lama lagi, langsung gue masuk ke dalam mobil, menyalakan mesinnya, dan melaju dengan kecepatan tinggi menuju ke hotel.

__ADS_1


Yang ada di pikiran gue cuma gimana caranya agar cepet nyampe hotel dan memastikan Khanza baik-baik saja. Sampai-sampai, gue lupa kalau ponsel gue masih berada di tangan Regina. Bodo, sekarang yang terpenting bukan itu.


Untung jalanan di sini bukan jalanan di Jawa yang bikin gregetan. Meskipun ada beberapa kendaraan besar yang mentupi badan jalan, namun tidak ada kemacetan berarti selama perjalanan. Tapi tetap saja, beberapa lampu merah gue terobos, nggak hanya sekali dua kali gue kena semprit pak polisi. Kalau aja gue nggak pake mobil dinas, mungkin udah ada sepuluh motor polisi yang ngejar gue sekarang.


Mobil gue parkir sembarangan di depan hotel terbaik di kota Atambua ini. Toh siapa yang berani macam-macam dengan mobil berplat merah dengan logo TNI tercetak jelas di badannya. Gue berlari kesetanan ke arah meja resepsionis. Harusnya tadi sebelum kesini gue pake dulu seragam coklat ijo-ijo dulu, jadi kan kalau nanya ke bagian informasi langsung dijawab. Nggak kayak sekarang, berbelit-belik nggak mau ngasih tau info kamar dimana salah satu tamunya berada.


Saking gregetannya, gue langsung lari menaiki tangga. Menggedor-gedor satu persatu pintu kamar, mencari dimana keberadaan perempuan itu sekarang. Gue nggak punya waktu buat ngurusin security yang makin lama jumlahnya makin banyak ngerubungin gue. Tapi yang namanya security nggak sebanding sama tentara. Mereka boleh aja ahli dalam ilmu bela diri tapi tentara lebih terlatih dan terbiasa menghadapi segala macam bentuk serangan.


Tidak hanya security, namun beberapa pengunjung hotel mulai berkerumunan, menyaksikan keonaran yang gue buat. Enam security sudah gue buat tersungkur karena menghalang-halangi langkah gue, ketika menghadapi security yang ketujuh, wajah Khanza tiba-tiba muncul dari balik kerumunan.


"Kendra..?" raut wajah bingungnya nampak sekali. Mungkin perempuan itu kaget kenapa gue bisa ada di sini dengan posisi seperti ini. Ngomong-ngomong soal posisi, akhirnya para security itu berhasil membekuk gue. Mereka mengambil kesempatan ketika konsentrasi gue hilang begitu suara Khanza memanggil gue di antara kerumunan itu.


Gue lega. Gue lega banget. Ya, meskipun gue harus dibawa dan diintrogasi sampai ke kantor polisi, tapi sekarang Khanza sudah ada di samping gue, tanpa kurang satu apapun.


Baru aja gue batin, tuh pipis kecoa muncul bareng sama bodiguardnya Khanza. Melihat tangan gue diborgol, Tristan menghela nafas kasar sebelum keluar rangkaian kalimat yang menohok hati dan sanubari gue, "Malu-maluin.."


Setelah itu dia melangkah ninggalin gue, menyelesaikan urusan administrasi sebelum membebaskan gue dari markas orang-orang berseragam cokelat itu.


Khanza langsung membawa gue ke apotek terdekat. Sambil menikmati indomie rebus rasa ayam bawang di kedai sebelahnya, dengan sangat hati-hati bu dokter cantik itu mengobati beberapa goresan luka di tangan dan sudut bibir gue sebelah kiri.


"Lo mau tawuran?" tanyanya mengejek.


Gue diem.

__ADS_1


"Atau mau adu jotos?" tambahnya sekali lagi. "Nggak malu sama pangkat bikin kekacaukan kayak gitu?"


Kok jadi gue yang dimarahin?


"Ya salah lo sendiri. Ngapain ke hotel segala" gue membela diri.


"Kok jadi gue?"


"Katanya mau jalan-jalan? Kok sampe ke hotel?"


"Lah emang kenapa? Suka-suka gue dong. Mau ke restaurant kek, ke mall kek, ke hotel kek, apa urusannya sama lo? Kita kan cuma temen"


"Kalau gitu gue nggak mau temenan sama lo"


Khanza menghentikan aktivitasnya, "Maksud lo?"


"Mulai sekarang kita nggak temenan lagi"


"Terus? Musuhan?"


"Bukan. Pacaran. Mulai sekarang elo pacar gue."


__ADS_1


__ADS_2