
Gue baru sadar apa yang dimaksud Kendra ketika gue telat dateng ke ruang makan gara-gara mandi kelamaan. Nasi cuma sisa satu porsi, sayur tinggal kuahnya, dan lauk habis tak bersisa. Bangsat emang. Gue suruh makan apa kalau gini? Nasi garem?
Waktu gue protes Kendra cuma bilang gini, "Kan udah gue bilang jangan telat. Di sini markas militer, semua harus serba disiplin. Termasuk waktu makan. Mana isinya didonimasi laki-laki semua, udah tau kan gimana lelaki kalau makan. Apa aja di sikat"
"Tapi nggak gini juga dong. Semua kan udah di jatah masing-masing. Curang itu namanya kalau makan jatahnya orang"
"Lah kalau makanannya dikerdusin jelas jatahnya siapa aja. Tapi kalau prasmanan kayak gini, ya cepet-cepetan ambil lah"
"Terus gue suruh puasa sampai makan siang gitu?"
"Ya udah sekarang lo ikut gue aja"
"Eh kemana?"
"Udah ikut aja. Sekalian sisa nasi tuh di bawa"
Gue nurut aja waktu si seksi ngajakin gue keluar markas menuju arah barat masuk ke hutan. Kita cuma jalan kaki. Mana tanahnya nggak rata, banyak kerikil di mana-mana, bikin susah jalan.
"Pak tentara tungguin dong. Jangan cepet-cepet jalannya"
Tidak tahan dengan keleletan gue, si mamas gula jawa berbalik dan menggandeng tangan gue. Uh, tangannya gedhe dan keker gini. Enak banget kalau buat ngeremesin, eh.
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Kendra.
"Nggak boleh?"
"Nggak"
"Kenapa?"
"Bikin diabetes"
"Eh, barusan lo bilang apa?"
"Nggak ada siaran ulang"
"Lo nggombalin gue ya?"
"Kata siapa?"
__ADS_1
"Itu tadi lo bilang bikin diabetes"
"Nah, udah sampai" kilah si seksi melepas genggaman tangannya di tangan gue.
"Ih kok dilepasin?"
"Ini udah sampai"
"Tapi kan gue masih mau digandeng"
"Mau makan nggak?"
"Ya mau lah"
"Ya udah lo tunggu di sini"
"Eh, mau ngapain?"
"Bikinin lo makanan"
Gue bertepuk tangan. Nggak bisa gue pungkiri bagaimana kerennya cowok ini beberapa waktu yang lalu. Pak tentara satu ini emang paling bisa diandelin.
Tanpa banyak ngomong, Kendra langsung bersihin ikan yang baru saja didapatnya. Dia lilit buruan itu dengan daun pisang sebelum dimasukkan ke dalam tumpukan kayu berapi. Kendra juga memasukkan nasi yang tadi gue bawa dari markas ke dalam sebuah bambu muda. Entah bumbu apa yang dia gunakan untuk mencampuri, yang jelas itu hanyalah bahan-bahan yang dia ambil dari sekelilingnya. Semua bahan makanan itu dia bakar di tumpukan kayu yang menyala.
"Lo bisa masak?"
"Semua tentara dituntut bisa bertahan hidup dalam situasi apapun, termasuk memanfaatkan bahan-bahan di alam untuk dimakan"
"Lo bikin apa sih?"
"Ikan bakar sama nasi Kolo"
"Hah? Nasi apaan?"
"Nasi Kolo, belum pernah denger ya? Ini makanan khas daerah sini. Ya kalau di Jawa kayak nasi bakar lah"
__ADS_1
Setelah menunggu beberapa menit, Kendra mematikan api dan mulai membuka ikatan daun pisang di masakannya.
"Hm.. baunya harum banget"
Dengan tangkas, dia membersihan daun pisang segar untuk dijadikan piring. Dikeluarkannya nasi Kolo dari dalam bambu dan ditaruhnya ikan bakar yang masih mengepulkan asap itu di atasnya.
"Makannya pelan-pelan. Masih panas"
Tanpa diminta, si mamas gula jawa meniup-niup makanan gue agar lebih cepat dingin. Dia juga misahin duri dari daging ikannya biar gue bisa lebih gampang makan. Duh, cuman diginiin aja gue senyum-senyum sendiri. Gentlemennya jangan kebangetan dong pak tentara. Ntar kalau gue kepincut beneran gimana? Mau lo tanggungjawab.
"Suapin.." ronta gue manja.
"Lo kan udah gedhe. Makan sendiri lah"
"O iya, kan semenjak diremesin bapak jadi tambah gedhe ya"
"Apanya?" eh tumben kali ini dia bales candaan gue. Biasanya kalau gue genitin kayak gini kicep.
"Anunya lah"
"Apaan tuh anu"
"Iih masak bapak nggak tau. Yang diisepin bapak waktu itu. Apa perlu reka ulang adegan biar inget?"
"Dah nih makan" tanpa buang waktu langsung mulut gue disumpel sama nasi dan ikan.
"Emh... uenak bang..at nih pak" ucap gue dengan mulut penuh makanan. Gue nggak bohong. Emang enak banget ini makananya. Nggak kalah sama masakan La Braserrie maupun Pasola.
"Bapak makan juga dong.. aaa" gantian gue yang nyuapin si bapak seksi.
"Kamu aja, katanya kamu laper"
"Makan atau gue cium" ancam gue.
Dia buru-buru membuka mulutnya dan menerima suapan dari gue. Nggak pernah gue sangka, makan di tengah hutan hanya dengan beralaskan daun pisang dan masakan ala kadarnya bisa senikmat ini.
"Pelan-pelan, Sa" si bapak memperingatkan.
"Gue nggak suka pelan-pelan. Gue sukanya.. faster and deeper.. ugh" tidak lupa gue tambahin desahan seksi di akhir kata.
__ADS_1
Haduh si bapak, digituin aja langsung habis aqua satu botol. Kepanasan pak?