Cakrawala

Cakrawala
Episode 85


__ADS_3

"Maaf ya.. udah bikin kamu khawatir."


"Nggak dimaafin"


"Bu dokter galak banget sih.."


"Aku nggak mau liat kamu kayak tadi lagi."


Gue menghembuskan nafas pelan. Badan Khanza gue tegakin hingga wajahnya kini sejajar di hadapan wajah gue. Mata kita saling bertatapan, begitu dalam, menyelami pikiran masing-masing, "Khanza, dengerin aku. Aku nggak bisa janji untuk selalu ada di samping kamu. Aku juga nggak bisa janji untuk nggak bikin kamu khawatir seperti tadi. Karena itu lah aku, itulah bagian dari hidupku. Jika kamu memilih hidup bersamaku, maka sampai nanti pun kamu akan merasakan lagi, danĀ  lagi, kejadian sama seperti tadi." Gue berhenti sejenak untuk mengambil nafas, "Sekarang, aku tanya sama kamu. Kamu mau menjalani kehidupan seperti itu?"


Tanpa pikir panjang, mulut Khanza menjawab, "Terserah. Aku cuma mau sama kamu"


"Kamu yakin?" gue menatap tajam ke matanya.


Dia mengangguk.


"Ini bukan main-main Khanza. Kalau sekiranya kamu lelah, atau bosan ditengah jalan-"


"Dua puluh tujuh tahun Kendra.. dua puluh tujuh tahun aku ada di posisi seperti itu. Setiap kali Papa pergi dinas, sampai berhari-hari tidak pulang, kamu pikir aku tidak mati ketakutan? Cuma Papa yang aku punya di dunia ini. Namun dalam dua puluh tujuh tahun itu aku mampu bertahan. Menghadapi satu persatu rasa takut dan kekhawatiran. Jika untuk Papa saja bisa, kamu pikir aku akan lelah melakukannya untuk kamu?"


"Kamu tau benar apa resikonya jika tetap bersamaku kan?"


"Ya. Aku tau."


"Dan kamu masih mau ada di sisiku?"


"Iya"

__ADS_1


"Kalau begitu.. ayo menikah?"


"Eh? Apa?"


***


"Menikah Khanza.. Menikah. Jabat tangan didepan penghulu. Terus ijab qabul. Habis itu kamu sah aku apa-apain"


"Kawin aja yok. Nikahnya ntar"


"Ya nggak bisa. Nikah dulu baru kawin"


"Tapi tapi... kan enakan kawin."


"Nikah juga nggak kalah enak kok. Kan kamu tadi udah bilang mau hidup sama aku. Nggak ada alasan lagi. Pokoknya tahun depan kita nikah"


"Gampang nanti. Aku bakal minta kamu sama Papa kamu"


"Pedhe banget. Emang berani?"


"Ya makanya tadi kamu aku tantang. Kalau mau hidup sama aku, ya ayok. Aku bakal perjuangin hubungan kita."


"Saingannya pak Komandan loh?"


"Apa aku nyerah aja ya, biar kamu dinikahin pak Komandan."


"Eh kok gitu? Nggak mau aku punya suami kayak dia"

__ADS_1


"Makanya ayo nikah"


"Kawin.."


"Nikah dulu"


"Kawin aja dulu"


"Nikah baru kawin. Titik"


"Kalau gitu, cincinnya mana?"


O iya gue lupa. Seenaknya sendiri ngelamar anak gadis orang nggak pake persiapan. Cuma modal kata-kata itu pun bukan kalimat penuh romansa. Dasar Kendra.


Gue melihat Khanza memutar bola matanya. "Kalau nggak ada cincin berarti kawin aja"


"Bukannya nggak ada. Cuma belum ada. Nanti kita cari sama-sama."


"Kalau udah dapet berarti boleh kawin dong"


"Sembarangan."


"Kan namanya cincin kawin bukan cincin nikah."


"Nanti aja kawinnya, kalau udah nikah"


Khanza mendesis, "Huh, Dikasih enak malah nggak mau. Dasar.."

__ADS_1



__ADS_2