
"Sa, makan dulu" gue masih terdiam. Suara Papa yang sedari tadi mengajak bicara tidak gue hiraukan sama sekali. Sudah sebulan berlalu, belum juga ada kabar tentang Kendra. Setelah kejadian itu, Satriya dan anggota pletonnya yang bertugas di arah utara kembali dengan selamat menaiki helikopter militer yang sama dengan gue. Begitu pula Mas Tristan dan pasukannya yang bertugas di arah barat. Hanya Kendra dan pasukannya yang belum terdengar kabar sama sekali.
Papa melarang gue meninjau langsung ke lokasi. Siang dan malam gue habiskan dengan rasa khawatir, menunggu kabar yang tak pernah datang menghampiri. Setelah bencana reda, tim evakuai segera diturunkan. Termasuk di dalamnya Satriya dan Mas Tristan yang langsung ikut turun mengevakuasi area pertambangan. Beberapa tubuh berseragam TNI ditemukan tak bernyawa, namun tidak ada di antara mereka yang teridentifikasi milik Kendra. Ada beberapa juga yang sudah tidak bisa diidentifikasi, karena luka bakar akibat kebakaran pasca gempa.
"Terima kenyataan Sa" begitulah perkataan Papa setelah evakuasi selesai dilaksanakan.
"Kendra belum ditemukan Papa. Bahkan setelah diidentifikasi dan autopsi, korban-korban di dekat tambang bukan Kendra. Jadi ada kemungkinan Kendra masih hidup"
"Sa, nggak semua korban bisa ditemukan. Ada juga yang terseret arus ke laut. Ada yang tertimbun longsor. Kamu harus terima kenyataan. Kendra udah nggak ada."
"Enggak. Khanza yakin Kendra masih selamat. Pokoknya Papa harus cari Kendra sampai ketemu."
__ADS_1
"Khanza! Sadar! Terima kenyataan."
"Papa seneng kan sekarang! Papa seneng Kendra udah nggak deket Khanza lagi! Makanya Papa nggak mau cari Kendra"
"Bukan gitu Sa-"
"Bohong. Khanza benci Papa. Khanza nggak mau lagi ngomong sama Papa."
"Terserah kalau kamu mau begitu terus! Nggak usah makan sekalian. Papa sudah nggak peduli!"
Namun marah Papa nggak bertahan lama, karena yang berikutnya terjadi adalah gue jatuh sakit. Badan gue panas, makanan pun tak ada yang mau masuk. Seberapa pun gue dipaksa makan, pasti akan gue muntahin lagi. Bukan karena sengaja, tapi entah kenapa tubuh gue rasanya tak punya gairah untuk sembuh. Melihat keadaan gue yang menyedihkan, pada suatu malam Papa duduk mendekati gue.
__ADS_1
Badan gue rasanya panas, keringat dingin terus membasahi tubuh. Walau pun keadaan gue di antara sadar dan tidak, namun dengan mata tertutup, samar-samar masih bisa gue dengar suara isak tangis lelaki itu. Tangan yang selalu banting tulang mencarikan nafkah untuk kebutuhan gue itu sekarang menggenggam dengan eratnya. Tidak pernah sekalipun gue melihat pria berjiwa baja itu menangis. Sekalipun tidak pernah. Dan sekarang, bak anak kecil lelaki itu menumpahkan seluruh emosinya di samping tubuh gue yang terbaring tak berdaya.
"Maafin Papa, Sa. Jangan hukum Papa seperti ini. Kamu anak Papa satu-satunya. Papa mohon... bangun. Papa janji nggak akan maksa kamu nikah sama pilihan Papa. Tapi kamu bangun Sa, bangun.. Jadi anak Papa yang ceria lagi. Jadi anak Papa yang bandel lagi. Jangan kayak gini Sa.. Papa mohon.."
Papa... kemana aja Papa selama ini? Jauh dilubuk hati, Khanza selalu sayang sama Papa. Papa satu-satunya yang Khanza punya. Lelaki manapun tidak akan pernah bisa menggantikan jasa Papa yang sudah membesarkan Khanza seorang diri. Tapi Khanza cinta Kendra Pa, kenapa Papa tidak mau mengerti? Cuma dia satu-satunya lelaki yang bisa menggantikan Papa menjaga Khanza, tapi kenapa Papa tidak mau menerima?
Papa.. Papa terlambat. Sekarang Kendra sudah entah dimana. Dan rasanya Khanza tidak bisa hidup tanpa Kendra di samping Khanza.
Maafin Khanza Pa..
Khanza sayang Papa.
__ADS_1