
Kelopak mata Malahar mulai bergerak-gerak. Menyadari hal itu, Khanza sedikit menepuk-nepuk bahu Malahar, mencoba menyadarkan anak itu dari tidurnya.
"Malahar.. Malahar.. Sudah bangun?" tanyanya pelan.
Bocah berumur sekitar sepuluh tahun itu memindai sejenak keadaan di sekelilingnya. "I..ni di.. ma..na?" tanya lirih dan terbata-bata.
"Malahar di klinik. Tadi Malahar pingsan di kelas. Ingat?" balas Khanza.
"Awh.." anak itu sedikit mengaduh lalu mencoba bangun dari ranjang.
"Eh jangan bangun dulu" Khanza panik, "Tubuh kamu masih lemah, Malahar"
"Aku harus pulang" tegasnya keras kepala.
"Tapi Malahar masih sakit!" Khanza tak kalah tegas pada pasiennya.
"Kasian Wa'i, Wa'i lagi sakit. Tidak ada yang membantu mengurus Kalere. Ama belum pulang"
"Iya, nanti Malahar pulang. Tapi sebelum pulang Malahar harus sembuh dulu. Lagian ini udah malem"
__ADS_1
"Enggak. Nanti Kalere kasian. Wa'i nggak bisa jalan jauh-jauh. Kalau sudah petang pengelihatannya juga agak terganggu. Malahar nggak pa pa kok bu dokter, Malahar bisa pulang sendiri."
"Tapi.."
"Tadi Sa'e sudah titip pesen sama Malou suruh bilang ke Wa'i kalau Malahar lagi dirawat di klinik" ucap gue menginterupsi. Ya, tadi gue sempet titip pesen ke salah satu teman sekelas Malahar yang memang tinggal tidak jauh dari rumah Malahar. Gue minta Malou memberi tahu neneknya tentang keadaan Malahar.
"Kasian Kalere, Sa'e.. Kalere baru berumur satu tahun. Wa'i juga lagi sakit"
Gue nggak tega. Ya, Malahar hanya tinggal bersama nenek dan adik perempuannya di atas bukit. Nenek Malahar sudah sangat tua Beliau juga menderita rabun senja, jadi pengelihatannya agak terganggu jika sudah malam. Setiap hari Malahar membantu neneknya mengurus rumah, menyiapkan makan, dan mengasuh adik perempuannya. Baru setelah agak siang, Malahar turun bukit untuk bersekolah. Ibunya sudah meninggal ketika melahirkan Kalere. Dan ayahnya hanya pulang sebulan sekali karena pekerjaannya.
"Biar nanti gue sama Tristan anter Malahar. Lo siapin aja obat-obatan yang harus dibawa Malahar"
"Nggak. Gue ikut." dia keras kepala
"Ini udah malem Sa. Bahaya"
"Kan ada elo"
__ADS_1
"Ya tapi kan gue nggak bisa jamin lo nggak bakalan kenapa-napa. Kalau ditengah hutan ketemu hewan buas gimana?"
"Hewan buas? Lebih buas mana sama lo?" Gila nih cewek. Di saat kayak gini masih sempet-sempetnya mancing pikiran gue.
"Sa, bukan saatnya bercanda ini."
"Siapa yang bercanda sih. Gue kan dokter, tugas gue mastiin pasien gue nggak kenapa-napa. Nah bapak yang ganteng ini kan tentara, tugasnya menjaga keamanan dan keselamatan. Nanti kalau ditengah jalan Malahar tambah sakit gimana? Makanya, gue jagain Malahar. Elo jagain kita semua. Beres kan"
Gue memijit kening kepala gue. Batu banget sih nih cewek.
"Ya udah lo siap-siap dulu. Gue ijin komandan"
"Siap pak." Heleh, gayanya pake hormat-hormat segala. Kan jadi tambah kiyut.. Achu ndak kuat..
Wa'i : nenek
__ADS_1
Sa'e : kakak
Ama : ayah