
"Udah bangun?" kalimat yang pertama kali gue ucapkan saat wanita yang tertidur di atas ranjang gue itu mulai menggerakkan matanya. Cahaya matahari pagi yang merayap dari balik jendela nampaknya sedikit mengusik tidur lelapnya.
Dia hanya melenguh pelan sebelum kembali membenarkan posisi tidurnya. Tangannya terjulur ke samping mencari guling hidup yang dipakainya semalaman.
Ujung bibir gue sedikit terangkat mendapati wajah khas bangun tidur wanita yang sangat menggemaskan itu.
"Sa.." panggil gue pelan.
"Mbak Egi lima menit lagi" begitu suara serak basahnya menjawab.
Sekali lagi gue tersenyum. Perempuan ini... kenapa selalu saja membuat gue tidak bisa berhenti tersenyum.
"O gitu.. padahal saatnya perban gue dibuka loh. Apa gue minta tolong Talitha aja ya?" Gue yakin indera pendengaran Khanza secara cepat menangkap nama perempuan yang baru saja terlontar dari mulut gue. Terbukti dari seberapa cepat dia membuka mata setelahnya.
Tapi nampaknya, kesadaran Khanza belum pulih sepenuhnya. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan, mungkin mengingat-ingat kenapa dia bisa berakhir tidur di ruangan ini.
"Gue kok di sini?" tuh kan bener.
Tiba-tiba Khanza terkesiap, menyilangkan ke dua tangannya di depan dada dan dengan sangat ekspresif berkata "Lo ngapain gue semalem?"
Haduh, drama queen satu ini mulai lagi...
"Lo sendiri yang jalan ke kamar gue semalem, di suruh keluar nggak mau. Lagian mau ngapain coba? Nggak lihat nih kaki gue lo perban?"
Matanya berkedip-kedip lucu sebelum sebuah kekehan keluar dari mulutnya, "Yaaah.. padahal berharapnya diapa-apain gitu"
"Diapain emang?"
"Gue mah nurut aja mau diapain. Telentang pasrah tak berdaya mau, agresif dominatif mau, ekspresif eksploratif juga mau. Asal bapak senang aja lah pokoknya"
"Gue senengnya kalau perban ini dibuka, gimana?"
__ADS_1
"Buka-bukaan yang lain masih banyak loh pak. Lebih asyik lagi. Mau saya kasih tau?"
"Buka apa emang?"
"Buka handphone bapak yuk, banyak tutorialnya"
Tenggorokan gue tiba-tiba terasa kering. Masih inget aja dia harta karun yang tersimpan dalam benda hitam persegi panjang kesayangan gue itu.
"Jadi kapan ini perbannya dibuka?" tanya gue mengalihkan perhatian. "Perasaan kaki gue cuma bengkak biasa aja, dipake jalan juga udah lumayan. Ngapain pake diperban-perban segala?"
"Dasar pasien bandel.. gue cium nih kalau nggak nurut"
Cup.
Gue kaget bibir manisnya tiba-tiba nyosor gitu aja. "Sa.. apa-apaan sih" tanpa sadar kata-kata itu keluar dari mulut gue.
"Kenapa? Mau lagi? Nih"
Sebelum nempel, gue segera menghindar.
Bukannya gue nggak mau. Gue mau. Mau banget malah. Kapan lagi gue dapet kecupan lembut dari bidadari secantik dia. Tapi nggak gini caranya. Khanza itu berharga.. dan sangat pantas untuk dijaga.
"Sa, lo bisa nggak sih nggak sembarangan kayak gitu. Lo tuh cewek"
"Trus kenapa kalau gue cewek?"
"Jagi diri dong. Jangan asal-asalan kek gitu"
"Kan gue suka sama lo"
"Tapi kita nggak ada ikatan apa-apa?"
"Ya iket gue dong kalau gitu"
__ADS_1
"Nggak segampang itu, Sa"
"Nggak gampang karena lo sendiri yang bikin ribet."
"Lo bisa bilang gampang karena lo cuma mikirin sekarangnya aja."
"Emangnya kenapa kalau mikirin sekarang aja? Toh masa depan nggak ada yang tau"
"Kok jadi kemana-mana sih bahasannya. Gue cuma mau lo jaga diri. Jangan sembarangan cium-cium cowok kayak tadi. Apalagi nggak ada statusnya."
"Jadi kalau gue cium cowok harus ada statusnya?"
"Yaa... harusnya kan gitu" jawaban gue tidak meyakinkan.
"Kalau gitu status kita apa?"
"Kita.. eh kita.." gue tidak bisa melanjutkan kata-kata.
"Temenan?"
Sekali lagi gue mengangguk tidak yakin. Tapi memang kita masih ada pada tahap itu kan?
Khanza membuang nafas kasar. Nampak jelas rasa kesal tergambar di wajahnya.
"Ya udah kalau gitu, kita cuma temenan" ucapnya marah sebelum menghambur keluar dari pintu kamar gue.
Hufh, kok jadi kayak gini.
Segera gue kejar wanita itu. Tapi sepertinya terlambat. Ketika hampir saja Khanza terjatuh karena tersandung kakinya sendiri, sebuah lengan kekar menangkapnya. Lengan seorang laki-laki berkulit putih dan bermata sipit. Melihat pemandangan itu, rasanya ada yang mengganjal di dalam hati gue.
Dan detik itu juga gue menyadari satu hal.
Khanza, gue nggak suka lo ada di pelukan lelaki lain selain gue.
__ADS_1