Cakrawala

Cakrawala
Episode 20


__ADS_3

-Khanza-


Pagi ini gue berkeliling di sekitar perkampungan. Seperti dugaan gue, sanitasi di tempat ini sangatlah buruk. Belum lagi kebutuhan air bersih yang menipis. Beberapa sumber air tercemar. Pantas saja banyak warga yang mengeluh sakit. Beberapa sempat gue periksa. Ada yang terkena kolera, desentri, gastroenteritis, deman tyfoid dan berbagai wabah lain berkenaan dengan buruknya sanitasi.


Mungkin karena rendahnya tingkat pendidikan, banyak masyarakat awam yang masih kurang memahami pentingnya menjaga kebersihan lingkungan. Penyakitpun mereka anggap remeh. Bahkan terkadang hanya mengandalkan obat-obatan tradisional jika merasa ada yang tidak beres dengan kondisi tubuhnya. Bukan berarti obat tradisional tidak bagus, hanya saja belum tentu obat yang mereka konsumsi sesuai dengan prediksi penyakit mereka.

__ADS_1


Kalau ada yang penasaran apa yang terjadi semalam, keep calm eperibadih... nggak terjadi apa-apa yang diluar batas kok. Kendra langsung ngacir sembunyi di sleepingbag-nya setelah gue bilang pengen mainan belalai. Kedua tangannya ditangkupkan di atas restleting celana. Kepalanya di hadapkan ke dinding, nggak mau noleh walaupun udah gue panggil-panggil. Ya udah, gue peluk aja tuh cowok dari belakang. Gue jadiin guling hidup. Nyenyak banget tidur gue semalem. Nggak kayak pak tentara yang bangun dengan mata panda. Aduh.. nggak bisa tidur ya semalem? Salah sendiri mau gue belai-belai nggak mau.


Kabarnya mbak Egi sama mas Tristan? Sorry, gue nggak mau ngepoin urusan pribadinya orang lain. Yang jelas mereka baru balik subuh-subuh tadi dengan bercak keunguan di lehernya mbak Egi. Ups..


"Bu dokter.. bu dokter" gue lihat ada seorang anak lelaki berlari ke arah gue yang sedang memeriksa seorang balita di kediaman kepala suku.

__ADS_1


"Wa'i... bu dokter.. ada yang aneh dengan Wa'i.." ucapnya terengah-engah.


"Aneh?"


"Ayo cepat bu dokter.." tanpa memberi penjelasan lebih lanjut, Malahar menyeret lengan gue kembali ke rumahnya. Gue buru-buru mengemasi barang bawaan gue dan berpamit pulang pada tuan rumah.

__ADS_1


Sesampainya di rumah Malahar, gue lihat Wa'i masih terbaring lemah di atas ranjangnya. Keringat dingin mengucur deras. Demamnya tidak kunjung turun. Malahan ada beberapa bengkak dan bintik-bintik merah di sekujur tubuhnya. Buru-buru gue periksa keadaan Wa'i. Gue tepuk-tepuk ringan tubuhnya  mencoba membangunkan Wa'i. Tapi Wa'i hanya melenguh pelan.


Melihat tanda-tanda di tubuh Wa'i, prediksi gue beliau memiliki alergi terhadap salah satu obat yang gue kasih. Tapi untuk mendapatkan diagnosa yang akurat, gue harus melakukan tes laboratorium. Hal itu tidak mungkin dilakukan di sini mengingat keterbatasan peralatan yang ada. Setelah gue analisa, diantara obat-obatan yang gue kasih, antibiotik memiliki peluang paling tinggi untuk memicu alergi. Berarti gue harus mengganti pil antibiotik yang gue kasih dan menunggu reaksi obat yang sekarang menghilang.


__ADS_2