
-Kendra-
Gue langsung melepas tautan bibir gue saat mendengar suara langkah kaki serta teriakan seorang bocah kecil menghampiri tempat dimana gue dan Khanza berdiri.
"Bu dokter.. bu dokter.."
Sama terkejutnya, Khanza langsung mendorong dada gue ke belakang. Untung aja anak kecil itu nggak menyadari perbuatan mesum yang baru aja gue lakuin di salah satu sudut halaman sekolahnya.
"Ada apa Torahue?" tanya gue ke anak yang masih menyambung nafas sedikit tersenal-sengal itu.
"Itu.. Malahar.. Malahar" ucapnya sambil menunjuk arah dalam kelas.
"Kenapa dengan Malahar?"
"Dia.. dia pingsan"
"Pingsan?" kali ini Khanza yang bertanya.
__ADS_1
Torahue mengangguk sebelum menarik tangan Khanza dan mengajaknya ke tempat dimana Malahar berada.
Bak seorang dokter yang cekatan, gadis itu segera memeriksa detak jantung dan bola mata Malahar. Mencari-cari penyebab anak itu jatuh pingsan lewat tanda-tanda di tubuhnya.
"Sudah berapa lama dia pingsan?" tanyanya pada kerumunan orang di ruang kelas.
"Baru saja" jawab Torahue.
"Sejak pagi tadiMalahar mengeluh perutnya sakit" tutur gadis berambut ikal di sebelahnya.
"Sakit perut?" tangan Khanza berpindah ke bagian perut, menekan-nekannya sedikit sebelum mengambil termometer dari dalam tas. Dia juga mengeluarkan sebuah senter kecil untuk memeriksa rongga mulut Malahar.
"Malahar mengalami dehidrasi berat. Kita harus segera membawanya ke klinik"
Tanpa pikir panjang gue langsung menghubungi bawahan gue meminta mereka menyiapkan alat transportasi.
Khanza dibantu bodyguardnya di bangku belakang masih berusaha mengembalikan kesadaran bocah itu. Sementara gue duduk di bangku depan dengan Tristan menyetir di samping gue.
__ADS_1
"Letakkan kakinya sedikit lebih tinggi" samar-samar gue mendengar arahan Khanza.
"Malahar... Malahar..." dia masih berusaha membangunakan anak itu. Mungkin karena goncangan mobil melewati jalanan berbatu, kesadaran Malahar sedikit pulih. Namun tetap saja, tubuh bocah itu terlalu lemah untuk merespon. Khanza tidak henti-hentinya mengajak bicara Malahar agar anak itu tidak kembali pingsan, walaupun Malahar hanya meresponnya dengan isyarat mata.
Sampai di klinik, bu dokter segera mengarahkan anggota timnya untuk melakukan pertolongan terhadap Malahar. Khanza sudah menghubungi mereka lewat Handy Talkie di perjalanan tadi. Dia memberi arahan peralatan dan obat-obatan apa saja yang harus disiapkan, secara rinci beserta dosisnya. Sesampainya pasien di klinik, mereka tinggal melakukan eksekusi.
Tangan Malahar di sambung selang infus. Setiap jam bu dokter selalu mengecek keadaannya. Dia tidak beranjak sedikitpun dari klinik. Baru kali ini gue melihat sisi Khanza yang lain. Gue pikir dia tipikal cewek-cewek kekinian yang taunya cuma ngeksis sama jajan make-up. Belum lagi gimana frontalnya dia di hadapan cowok. Tapi kali ini, gue lihat sendiri bagaimana cakapnya dia menjalani profesinya.
"Sa, lo nggak mau istirahat dulu?" ucap gue lirih di dekat wajahnya.
Khanza yang sudah terkantuk-kantuk tiba-tiba terhenyak bangun. Raut mukanya kusut. Gue tahu dia capek. Tapi dia tetap keras kepala nggak mau istirahat.
"Eh, ini jam berapa?" gadis itu celingukan mencari jam di dinding. "Masih lima belas menit" desahnya lega.
"Ini udah malem. Lo nggak tidur?"
"Nanggung. Lima belas menit lagi gue harus kasih dia suntikan lagi"
"Kalau lo ngantuk tidur aja dulu. Ntar lima belas menit lagi gue bangunin"
__ADS_1
"Enggak ah nanggung" tolaknya sambil kembali memeriksa keadaan Malahar.