Cakrawala

Cakrawala
Episode 76


__ADS_3

-Khanza-


Beruang seksi gue ngambek.. huhuhu..



Semua ini gara-gara nenek lampir itu. Coba aja dia nggak bahas masa lalu, pasti nggak jadi kebongkar kayak gini kan. Goblok.. kenapa juga gue dulu demen modelan tugu berjalan kayak Mas Tristan. Aish.. gue harus gimana sekarang?


"Beneran yang. Aku udah nggak ada apa-apa lagi sama Mas Tristan. Itu mah cuma cinta monyet. Pacarannya aja cuma dua puluh lima hari" dari tadi gue buntutin kemanapun Mas Pacar pergi. Pokoknya bakalan gue pepet terus sampai marahnya reda. Nggak gue kasih kendor, kecuali kalau Masnya minta kendorin tali BH, langsung gue sodorin.


"Apa? Mas?" Kendra menggosok-gosok telinganya seolah jijik mendengar gue memberi embel-embel Mas sebelum nama Tristan. Abis gimana dong? Udah kebiasaan gue manggil dia Mas. Secara dia itu dulu kakak kelas gue. Ketua OSIS sekaligus kapten basket paling hot, ehem dulunya, yang jadi rebutan hampir semua cewek di sekolah, termasuk gue dan Talitha. Ya, cikal bakal permusuhan gue dan Talitha adalah laki-laki ini.


Setelah putus, hubungan gue sama Mas Tristan biasa aja. Karena dia orangnya emang supel, jadi kita masih saling komunikasi. Nggak ada sisa-sisa rasa di antara kita. Hubungan yang cuma bertahan dua puluh lima hari itu murni cinta monyet. Kita hanys terpikat pada ketertarikan sesaat. Setelah percikan itu pergi, ternyata kita merasa lebih nyaman dengan hubungan pertemanan. Bahkan perlahan gue tidak lagi memandangnya sebagai lelaki.


"Iya deh nggak lagi panggil-panggil Mas. Tapi ayang udahan dong ngambeknya, nggak capek apa ngambek terus?" gue mendusel-dusel Mas Pacar yang lagi rebahan di ranjangnya. Temen sekamarnya? Gue kurung di kamar gue bareng mbak Egi biar gue leluasa nemplokin si ganteng. Terserah kalau dua orang itu mau bikin dedek. Ada situasi darurat yang harus segera gue tangani.


"Dua puluh lima hari ngapain aja?" Waduh, gue langsung ditodong pertanyaan macem gini.


"Nggak ngapa-ngapain yang. Waktu itu aku masih polos, lugu, belom tau apa-apa" Goblok.. mana percaya dia. Lain kali kalau bo'ong mbok yang berkualitas dikit gitu loh Sa.


Mas Pacar malah munggungin gue. "Ayaang...huhuhu... kok malah dicuekin." Gue nemplok ke punggungnya. "Lagian itu juga udah masa lalu. Yang penting kan sekarang aku cintanya cuma sama ayang. Dijodohin aja aku nolak lho demi ayang. Masak ayang ngambek terus sih" bak anak kecil, gue merengek-rengek.


Kendra melepaskan diri dari pelukan gue. Dia bangun dalam posisi duduk dan menghadap ke arah gue. Pria itu menghembuskan nafas kasar sebelum bertanya, "Selain pernah pacaran sama Tristan, dijodohin sama Satriya, apa lagi yang kamu sembunyiin dari aku?"

__ADS_1


Nyali gue menciut. Mamas nakutin banget kalau lagi tegas kayak gini.


"Hiks..hiks..hiks.." gue nangis aja sekalian. Siapa tau air mata buaya gue bisa bikin hati Mamas luluh, "Maaf.. hiks.. aku nggak maksud mau nyembunyiin sesuatu ataupun bo'ongin ayang... hiks..hiks.. aku emang salah nggak cerita semuanya sama ayang. Tapi aku sangat banget sama ayang.. Ayang jangan marah-marah.. jangan ngambek juga sama Khanza. Khanza sedih kalau ayang kayak gitu.. huhuhu.."


"Aduh.. kok malah nangis" gue liat Mas pacar garuk-garuk kepala bingung.


"Huhuhu..." makin aja gue kencengin nangisnya.


"Iya..iya.. aduh.. aku nggak marah kok.. udah ya nangisnya.." tangan Kendra meraih gue dan membawa gue ke dalam pelukannya. Dia mengusap-usap rambut gue lembut berusaha meredakan isak tangis buaya yang gue buat-buat. Yes, kena kan lo. Udah gue tebak, cowok modelan kayak Kendra nggak akan tega liat cewek nangis. Badan kratingdeng tapi hati milkuat.


Setelah tangisan gue mereda, Kendra menangkup kedua pipi gue. Dia menatap gue dalam dan penuh sayang, "Jangan nangis lagi ya. Aku nggak suka liat kamu nangis."


"Ayang jangan bikin aku nangis juga"


"Nggak akan, Sa"


"Sa kan singkatan dari sayang. Masak nggak mau?"


"Iiih ayang bisa aja deh."


Cup. Omegat, si Mamas curi-curi ciuman dari bibir gue.


"Kok cuma dikit. Lagi.." seperti biasa, gue ngerengek minta nambah.

__ADS_1


"Nggak ah"


"Kok enggak?"


"Nanti aku kelepasan"


"Ya nggak pa pa. Aku ikhlas kok"


"Enggak. Pokoknya kamu harus tetep utuh"


"Apanya yang utuh?"


"Ya..ya..itu lah pokoknya"


"Sentuh-sentuh dikit nggak pa pa lah ya.." gue menawar. Tangan gue udah beraksi mengalung manja di leher Mamas.


"Sa.." gue denger suara tegasnya memperingatkan gue. Tapi masa bodo, mangsa sudah di depan mata.


"Dikiiit aja.. Nggak sampe robek deh. Kan yang penting akunya tetep utuh" rayu gue seraya naik ke pangkuannya.


"Tapi-"


"Ayolah yaang.. Hm?? Aku pengen, ya ya ya?"

__ADS_1


Mungkin karena reaksi dari selangkangan gue yang menggesek-gesek celananya, si Mamas langsung terangsang. Dia menubruk tubuh gue hingga terjatuh di bawah kungkungannya.



__ADS_2