
Dengan agak berat hati gue menganggukan kepala.
"Yes" sontak wanita itu mengepalkan tangan kegirangan. Gue cuma bisa geleng kepala melihat tingkah kekanak-kanakannya.
"Ini udah mau maghrib lo. Kamu kok malah kelayapan?"
"Habis aku kangen ayang." ucapnya manja.
"Kan barusan juga ketemu"
"Cih, apaan. Cuma liat dari jauh. Nggak bisa sayang-sayangan."
"Kalau Papa kamu liat kamu nyamperin barak cowok apalagi nongol-nongol di jendelanya kayak gini gimana?"
"Masukin aja aku ke kamar biar nggak ketauan. Nggak bisa lewat pintu, masih ada jendela kan?"
Eh malah nantang, "Udah sana balik. Mandi dulu biar wangi"
"Kalau udah wangi nanti boboknya dikelonin ayang lagi ya?"
"Ada Papa kamu sayaaang"
"Ya jangan sampai ketahuan. Kan asyik tuh, lebih memicu adrenalin"
"Khanza!"
__ADS_1
"Iya..iya.. aku mandi dulu. Mau request sabun yang apa? Wangi mawar, sakura, apel, strawberry?
"Emangnya kamu kebun?"
"Iyes. Kebun subur. Tinggal nunggu dicocoktanami aja"
Alis mata gue terangkat, memberikan tatapan memperingatkan kepada gadis yang mulutnya tidak pernah dipasangi rem ini.
"Kabuuur..." seru Khanza melarikan diri sebelum gue mulai menanggapi.
***
"Tumben le nelpon ibuk?"
"Thole lagi ada masalah?" Feeling ibuk emang tajem. Walaupun jarak antara kita dibatasi bermil-mil jauhnya, tapi dia seolah selalu tahu ketika gue lagi sedih, sakit, atau ada masalah. Hal yang tidak bisa dijelaskan dengan nalar dan logika, bonding antara anak dan ibunya.
"Boten buk. Mas sae mawon. (Enggak buk, Mas baik-baik aja)"
"Nduwe masalah opo to Mas, crito ro ibuk (Punya masalah apa to Mas, cerita ke ibuk)"
Gue cuma mendengus kasar tak tau harus menjawab apa.
"Gimana kabar Mbaknya yang sering diceritain sama Nisa itu?"
__ADS_1
Pas banget sih ibuk. Padahal gue lagi galauin Khanza.
"Emang Nisa sering cerita soal Khanza?"
"Lha wong sok apa itu namanya.. SMS atau apa gitu sama Nisa"
Alis gue terangkat, "Khanza sering chat-chatan sama Nisa?" Gue malah baru tahu. Sejak kapan pacar gue punya kontaknya adek gue. Waduh harus dicrosscheck habis ini, dia ngomongin apa aja tentang gue.
"Kamu baik-baik aja sama Mbak e to le?"
"Eh itu.. gimana ya buk?"
"Kok malah balik nanya ibuk. Wong yang ngejalanin kamu"
"Mas bingung buk"
"Bingung gimana?"
"Ya Mas bingung. Khanza itu kan anaknya orang punya. Mas jadi minder."
"Mas ki ojo sok minder. Wong podho-podho makhluk ciptaane Gusti Allah. Podho-podho soko lemah. Podho-podho mangan sego. Sek mbedakke gur iman e, Mas. (Mas jangan suka rendah diri. Orang sama-sama makhluk ciptaan Tuhan. Sama-sama diciptakan dari tanah. Sama-sama makan nasi. Yang membedakan cuma imannya, Mas)"
"Enggih buk. Tapi, apa orangtunya bisa nerima Mas?"
"Nyuwun iku kalih Gusti, Mas. Manungso iku kagungane Gusti. Uwong tuo ming dititipi. Nek Gusti wes maringki nggo Mas, Pak Presiden we boten saged ngalang-alangi. Dongane dikencengi. Usahane yo sek maksimal. Ibuk mung iso kirim restu soko kene (Minta itu sama Allah, Mas. Manusia itu punya Allah. Orang tua cuma dititipi. Kalau Allah sudah kasih buat Mas, Pak Presiden juga nggak bakalan bisa menghalangi. Doanya yang kuat. Usaha juga maksimal. Ibuk cuma bisa mengirim restu dari sini)"
__ADS_1
Ibuk gue malaikat gue. Emang paling bisa wanita mulia yang pernah meminjamkan rahimnya untuk gue itu memberikan setitik air di kala jiwa gue menggersang. Cukup dengan sentuhan kata-katanya, jalan yang semula gelap kembali bercahaya. Dorongan dari ibuk membuat gue kembali bersemangat dan percaya diri. Tak ada cukup waktu untuk berkeluh kesah ataupun tenggelam dalam ketakutan, gue harus bisa menunjukkan bahwa gue layak untuk Khanza. Calon Papa mertua, tunggu perjuangan dari calon menantumu ini.